Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Salatiga Tidak Punya Stasiun, Cukup Merepotkan bagi Orang yang Terbiasa Bepergian dengan Kereta Api

Ibnu Fikri Ghozali oleh Ibnu Fikri Ghozali
10 Maret 2026
A A
Jalan Monginsidi, Jalan Braganya Salatiga: Ikonik dan Nggak Kalah Cantik kabupaten semarang

Jalan Monginsidi, Jalan Braganya Salatiga: Ikonik dan Nggak Kalah Cantik (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Salatiga dikenal sebagai kota yang sejuk, nyaman, dan ramah bagi mahasiswa. Banyak orang datang ke kota ini untuk kuliah, bekerja, atau sekadar menikmati ritme hidup yang tidak terlalu tergesa gesa. Kota ini sering dipuji sebagai salah satu kota yang paling nyaman di Jawa Tengah. Tapi ada satu kekurangan yang jujur aja lumayan mengganggu: kereta api tidak berhenti di Salatiga.

Saya termasuk orang yang kalau bepergian lebih sering memilih kereta api. Kereta terasa lebih sederhana dan lebih nyaman. Kita datang ke stasiun, menunggu sebentar, naik ke gerbong, lalu duduk menikmati perjalanan. Tidak perlu memikirkan kemacetan di jalan raya dan tidak perlu capek menyetir sendiri. Karena itu setiap kali harus pergi ke suatu kota, kebiasaan pertama saya hampir selalu sama yaitu membuka aplikasi tiket dan mencari kereta menuju kota tujuan.

Kebiasaan itu juga saya lakukan ketika beberapa waktu lalu harus pergi ke Salatiga untuk menemui seseorang. Dalam bayangan saya perjalanan ini akan sama seperti perjalanan perjalanan sebelumnya. Saya naik kereta dari daerah saya lalu duduk beberapa jam sampai akhirnya turun di stasiun kota tujuan. Semuanya terlihat sederhana dan tidak memerlukan banyak tahap tambahan. Namun rencana sederhana itu mulai berubah ketika saya mencoba mencari tiket perjalanan.

Tidak ada Salatiga 

Saya memasukkan tujuan perjalanan dengan nama Salatiga di aplikasi pemesanan tiket. Hasilnya tidak muncul sama sekali. Saya mencoba lagi untuk memastikan tidak ada kesalahan penulisan. Hasilnya tetap sama. Tidak ada stasiun bernama Salatiga dalam daftar tujuan perjalanan kereta. Di situlah saya kembali diingatkan pada satu fakta yang sebenarnya cukup dikenal oleh banyak orang: Salatiga tidak memiliki stasiun kereta api sehingga penumpang harus turun di kota lain terlebih dahulu.

Artinya siapa pun yang ingin menuju Salatiga menggunakan kereta harus turun di kota lain sebelum benar-benar sampai di tujuan. Biasanya pilihannya hanya dua yaitu Solo atau Semarang. Setelah itu perjalanan masih harus dilanjutkan dengan kendaraan lain menuju Salatiga. Situasi ini mungkin terdengar sepele tetapi bagi orang yang terbiasa bepergian dengan kereta kondisi ini membuat perjalanan terasa sedikit lebih panjang dari yang seharusnya.

BACA JUGA: Salatiga, Tempat Slow Living Terbaik di Jawa Tengah

Terpaksa turun di Poncol

Akhirnya saya memutuskan untuk turun di Semarang Poncol. Pilihan ini terasa cukup masuk akal karena dari Semarang akses menuju Salatiga relatif lebih mudah. Selain itu pilihan transportasi lanjutan juga lebih banyak tersedia. Perjalanan kereta sendiri berjalan seperti biasa. Saya duduk di gerbong sambil melihat pemandangan yang berganti di luar jendela mulai dari sawah permukiman hingga kota-kota kecil yang dilewati kereta.

Beberapa jam kemudian kereta berhenti di Semarang Poncol dan para penumpang mulai turun satu per satu. Biasanya ketika kita turun dari kereta perjalanan sebenarnya sudah selesai. Kita keluar dari stasiun dan langsung berada di kota tujuan. Namun untuk perjalanan menuju Salatiga cerita tidak berhenti di situ.

Baca Juga:

Salatiga Memang Dicap Numpang wisata Daerah Kabupaten Semarang, tapi Warga Kabupaten Semarang Lebih Parah karena Ngaku-ngaku dari Salatiga

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort

Dari Semarang Poncol saya menuju tempat keberangkatan travel dan melanjutkan perjalanan menggunakan Bhinneka Shuttle menuju Salatiga. Di sekitar stasiun terlihat beberapa penumpang yang tampaknya memiliki rencana perjalanan yang sama. Sebagian membawa koper kecil dan sebagian lagi membawa ransel. Mereka terlihat seperti orang orang yang baru saja turun dari kereta dan masih harus melanjutkan perjalanan ke kota lain.

Kami kemudian berangkat menuju Salatiga dengan mobil shuttle. Perjalanan ini memakan waktu sekitar satu jam tergantung kondisi lalu lintas. Mobil melaju melewati jalur yang cukup ramai karena menjadi penghubung beberapa wilayah penting di Jawa Tengah. Sepanjang perjalanan terlihat kendaraan pribadi bus antarkota hingga truk logistik yang terus bergerak di jalan yang sama.

Salatiga bukan kota kecil, lho, kok nggak ada kereta api ya?

Di sepanjang perjalanan itu saya sempat berpikir bahwa Salatiga sebenarnya bukan kota kecil yang sepi aktivitas. Sebaliknya kota ini cukup dikenal sebagai kota pendidikan. Banyak mahasiswa dari berbagai daerah datang ke Salatiga untuk menempuh pendidikan. Selain itu kota ini juga sering disebut sebagai salah satu kota yang nyaman untuk ditinggali karena udara yang sejuk dan suasana kota yang relatif tenang.

Dengan karakter seperti itu rasanya cukup masuk akal jika kota ini memiliki akses kereta api langsung. Apalagi secara geografis Salatiga berada di antara dua kota besar di Jawa Tengah yaitu Semarang dan Solo. Jalur transportasi di wilayah ini sebenarnya cukup ramai baik oleh kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Banyak orang lalu lalang setiap hari melewati jalur tersebut.

Namun kereta api justru tidak berhenti di Salatiga. Hal ini sering memunculkan pertanyaan sederhana. Mengapa kota yang dikenal sebagai kota pendidikan justru tidak memiliki stasiun kereta api. Padahal mobilitas orang menuju kota ini cukup tinggi. Mahasiswa datang dari berbagai daerah keluarga berkunjung dan banyak orang yang memiliki urusan pekerjaan di kota tersebut.

Beberapa kota yang ukurannya lebih kecil justru memiliki stasiun kereta api. Ada daerah dengan jumlah penduduk tidak terlalu besar tetapi menjadi tempat pemberhentian kereta. Bahkan ada stasiun yang hanya disinggahi beberapa kereta dalam sehari tetapi tetap menjadi bagian dari jaringan transportasi kereta api. Sementara itu Salatiga yang cukup dikenal luas justru tidak memiliki stasiun sama sekali.

BACA JUGA: Salatiga, Destinasi Wisata Menarik tapi Nggak Semua Orang Bakal Nyaman Liburan ke Sini

Lebih panjang dari kota-kota lain

Ketika mobil Bhinneka Shuttle mulai memasuki wilayah Salatiga suasana kota yang sejuk langsung terasa. Udara menjadi lebih segar dibandingkan kota-kota besar di sekitarnya. Jalanannya tidak terlalu padat dan suasana kotanya terasa lebih santai. Ritme kota terasa berbeda seolah berjalan sedikit lebih pelan dibandingkan kota-kota besar di sekitarnya.

Pertemuan yang menjadi tujuan perjalanan saya hari itu akhirnya berjalan dengan baik. Namun pengalaman menuju kota ini meninggalkan satu kesan yang cukup kuat bagi saya sebagai penumpang kereta. Perjalanan menuju Salatiga dengan kereta selalu terasa seperti cerita yang belum benar-benar selesai ketika kereta berhenti.

Yah, Salatiga tetap kota yang nyaman untuk dikunjungi. Hanya saja bagi penumpang kereta perjalanan menuju kota itu selalu terasa sedikit lebih panjang dibandingkan kota-kota lain.

Penulis: Ibnu Fikri Ghozali
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2026 oleh

Tags: bus ke salatigakereta apiSalatigashuttle ke salatigaStasiun Semarang Poncol
Ibnu Fikri Ghozali

Ibnu Fikri Ghozali

Mahasiswa S2 di Thailand yang gemar menjelajah tempat-tempat baru.

ArtikelTerkait

Pengalaman Saya Ikut War Tiket Kereta Api 3 Hari Berturut-turut: Lebih Susah daripada Menang Giveaway

Pengalaman Saya Ikut War Tiket Kereta Api 3 Hari Berturut-turut: Lebih Susah daripada Menang Giveaway

30 Agustus 2023
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

23 November 2025
KA Gajahwong, Kereta Kelas Eksekutif Rute Jakarta-Jogja Termurah yang Nggak Murahan

KA Gajahwong, Kereta Kelas Eksekutif Rute Jakarta-Jogja Termurah yang Nggak Murahan

29 Agustus 2024
4 Oleh-oleh Salatiga yang Sering Diabaikan Wisatawan, padahal Sangat Khas dan Layak Jadi Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-oleh Salatiga yang Sering Diabaikan Wisatawan, padahal Sangat Khas dan Layak Jadi Buah Tangan

26 Juli 2025
5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli

28 Maret 2026
Pelafalan Nama Daerah di Jawa Tengah (Unsplash.com)

Pelafalan Nama Daerah di Jawa Tengah Sesuai Lidah Penduduk Asli

14 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026
Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa

Kalah war tiket kereta Dhoho Penataran artinya harus menderita, karena berdiri di kereta ini betul-betul menyiksa

29 Juli 2026
Tempe mendol yang endul gusur bakso Malang dari hati saya (Wikimedia Commons)

Bakso Malang minggir dulu, status makanan khas Malang mending kasihin ke tempe mendol yang endul itu

26 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Jangan bebani mahasiswa KKN dengan tugas yang harusnya dikerjakan negara

30 Juli 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

28 Juli 2026
Pertemukan dengan duit Rp100 miliar, saya akan bangun usaha kue, laundry kiloan, dan toko buku Mojok.co

Pertemukan dengan duit Rp100 miliar, saya akan bangun usaha kue, laundry kiloan, dan toko buku

29 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.