Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Skripsi Sebaiknya Dijual ketimbang Disimpan, Bukankah Begitu, Unilak?

Mubaidi Sulaeman oleh Mubaidi Sulaeman
21 Juli 2020
A A
skripsi ratusan halaman data skripsi kutipan dalam karya tulis skripsi dibuang mojok

skripsi dibuang mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu yang Menteri Koordinator bidang PMK, Muhadjir Effend mengatakan bahwa pendidikan Indonesia kurang berorientasi industri. Sehingga dunia pendidikan di Indonesia masih kalah jauh untuk bersaing dengan negara lain. Mungkin sekilas kita akan menyetujui pendapat itu. Itu jika kita menangkap maksud Pak Muhadjir bahwa sistem pendidikan kita memang sudah berorientasi pada angka. Riset sebatas skripsi dan tesis, atau apalah maksud pak menteri itu.

Hal ini menjadikan Sisdiknas tidak relevan lagi dengan kebutuhan industri di era sekarang. Tetapi ketika melihat realitasnya, bukankah selama ini dunia pendidikan di Indonesia memang diciptakan menjadi “lahan basah” industri?

Bukankah selama ini memang pendidikan kita sudah tidak wajar lagi untuk dikatakan “mencerdaskan” kehidupan bangsa. Bukankah setiap tahunnya dari ribuan sekolah yang ada di Indonesia selalu berebut bibit unggul saja?

Dengan kata lain, hari ini lembaga pendidikan yang ada di Indonesia cenderung memproduksi manusia yang nantinya dapat diperlombakan di dunia industri pendidikan, di mana setiap harinya penuh persaingan semu. Sehingga seolah-olah pendidikan kita –dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi- sebuah “pabrik manusia” yang diciptakan menjadi robot industri di masa depan.

Kita akan dapat menyaksikan betapa tidak ada “niat baik” pendidikan kita untuk menuju pendidikan berbasis riset dan justru jauh dari cita-cita “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Ketika melihat kasus “oknum” pegawai perpustakaan melakukan pembuangan hasil cetak skripsi, seperti membuang sampah di Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru Riau, beberapa waktu yang lalu.

Meskipun Rektor Unilak Junaidi melalui website kampus unilak.ac.id meminta maaf secara resmi. Serta telah memecat kepala pustaka Unilak dan  “oknum” perpustakaan yang melakukan aksi lempar-lempar hasil cetak skripsi melalui jendela tersebut, tetapi hal ini tidak meredakan amarah civitas akademi se-Indonesia –Unilak  khususnya-. Seperti kata Tao Ming Se, kata maaf itu sudah “tidak ada gunanya lagi” karena memang telah terlanjur melukai hati semua mahasiswa.

Kejadian ini memicu hujatan hingga berujung demonstrasi di kalangan mahasiswa Unilak sendiri. Mereka menganggap bahwa Kampus Unilak tidak menghargai hasil riset Mahasiswanya yang telah susah payah dalam menghasilkan skripsi-skripsi tersebut. Jerih payah mereka ternyata hanya dibuang begitu saja bagaikan sampah yang tidak berharga.

Meski Rektor Unilak telah berdalih bahwa skripsi-skripsi tersebut merupakan skripsi lama yang telah rusak dan telah dilakukan digitalisasi, beberapa pihak tetap menyayangkan kejadian tersebut, karena tak sepantasnya hal itu terjadi.

Baca Juga:

Blora, Kabupaten yang Bingung Menentukan Arah Pembangunan: Industri Belum Jadi, tapi Malah Ikutan Menggarap Lahan Pertanian

Betapa Merananya Warga Gresik Melihat Truk Kontainer Lalu Lalang Masuk Jalanan Perkotaan

Menjadi hal yang wajar ketika mahasiswa Unilak marah. Itu semua karena mengetahui secara persis bahwa skripsi-skripsi tersebut ternyata “dijual ke tempat tukang loak”. Wow, amajing, sungguh membuka lahan industri baru budidaya “sampah skripsi”, yang pasti bisa menjadi terobosan inovatif  kedepannya. Bayangkan skripsi yang dibuat oleh mahasiswa dengan perjuangan yang tidak mudah tentunya, dibuang begitu saja, seolah-olah hal itu tidak ada artinya bagi mereka.

Mereka “oknum”—terpujilah pencipta kata oknum—pegawai perpustakaan Unilak pasti tidak pernah merasakan betapa sulitnya menulis skripsi. Mereka mungkin tidak harus menerima teror dari keluarga dan kolega yang terus-menerus menanyakan perkembangan skripsi.

Hal itu, belum termasuk menghadapi dosen pembimbing yang sulit ditemui sehingga penyelesaiannya tertunda hingga hilangnya mood. Sekalinya bertemu sang dosen, revisi yang diterimanya adalah revisi total dan harus mengulanginya dari awal lagi.

Setelah itu, mereka harus mencari data lagi di lapangan. Harus bertemu dengan responden yang sama lagi dan berusaha terus menghindar karena seperti dikejar paparazi. Ketika  dapat bertemu responden, ternyata mereka tidak merespon dengan baik karena merasa illfeel.

Pasti si “oknum” pegawai perpustakaan Unilak tersebut juga tidak pernah merasakan malam-malam penuh drama. Mempersiapkan sidang ujian skripsi yang lebih mendebarkan dibandingkan sidang “pelanggaran” lalu Lintas di Pengadilan. Makan jadi tidak enak, tidur pun susah. Sampai-sampai rajin-rajin beribadah untuk mengharapkan lulus sidang dengan baik, alias tidak dibantai oleh penguj.

Belum lagi, mahasiswa-mahasiswa tersebut dihadapkan dengan dilema kertas-kertas hasil revisi yang menumpuk. Galau mau dijual atau merasa sayang dan menyimpannya di gudang sebagai saksi dan bukti perjuangan. Lha, ini para oknum perpustakaan Unilak tanpa rasa simpati dengan mudahnya ingin menjual hasil cetak aslinya. Sungguh terlalu.

Memang seseorang itu akan mati rasa ketika ia tidak pernah mengalaminya sendiri penderitaan tersebut. Mereka yang membuang skripsi dengan mengatasnamakan “apapun”, pada hakikatnya telah menghina “harga  diri dan perjuangan” mahasiswa.

Dengan kata lain, mereka telah menempatkan mahasiswa dengan skripsinya hanya sebagai robot industri ciptaan pendidikan di negeri ini, yang hasil risetnya sudah usang dan patut dihina karena sudah tidak menguntungkan lagi.

BACA JUGA Belajar dari Kolor Perdamaian Gus Dur dan tulisan Mubaidi Sulaeman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2020 oleh

Tags: industriskrpsi
Mubaidi Sulaeman

Mubaidi Sulaeman

Pura-Pura jadi Peneliti

ArtikelTerkait

pendidikan indonesia mojok

Pendidikan di Indonesia Kurang Industri Bagaimana, Pak Muhajir?

9 Juli 2020
Betapa Merananya Warga Gresik Melihat Truk Kontainer Lalu Lalang Masuk Jalanan Perkotaan

Betapa Merananya Warga Gresik Melihat Truk Kontainer Lalu Lalang Masuk Jalanan Perkotaan

13 Desember 2024
Gresik

Gresik: Kota Santri atau Kawasan Industri?

22 November 2021
4 Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi Saat Liburan ke Batam

Batam, Kota Penuh Ambisi sekaligus Pengubur Mimpi Perantau yang Silau dengan Kemegahan

9 Agustus 2023
12 Kosakata Bahasa Tegal yang Biasa Digunakan dalam Percakapan Sehari-hari

4 Industri Warisan Nenek Moyang yang Masih Eksis di Tegal

19 Maret 2022
Membayangkan Jika Kabupaten Bekasi Tidak Pernah Menjadi Kawasan Industri

Membayangkan Jika Kabupaten Bekasi Tidak Pernah Menjadi Kawasan Industri

15 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

18 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026
4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

12 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.