Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sisi Gelap Malang Hari ini: Masih Cantik, tapi Semakin Toxic

Fauzia Sholicha oleh Fauzia Sholicha
25 Januari 2026
A A
Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash) bandung

Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai seorang ibu dua anak yang sehari-hari berjibaku dengan paket olshop dan jemuran, saya punya hubungan love-hate relationship yang rumit dengan kota tempat saya tinggal ini: Malang.

Sebelumnya, Mojok menyebut Jombang sebagai “Kota Serba Nanggung“. Nah, sekarang, izinkan saya mendefinisikan Malang hari ini sebagai “Kota yang Mengalami Krisis Identitas Akut”.

Dulu, orang mengenal Malang sebagai Paris van East Java. Kota yang dingin, sejuk, gunung berdiri mengelilingi, dan ritme hidupnya lambat. Orang ke Malang untuk “ngadem”, untuk pensiun, atau kuliah dengan tenang. Tapi itu dulu, Kawan. Itu cerita di brosur pariwisata tahun 90-an.

Realitas Malang hari ini adalah simulasi Jakarta. Seakan-akan ada yang memindahkan kemcaten ke dataran tinggi dan hawa panas mendominasi. Kota Apel hari ini bukan lagi kota yang memelukmu dengan hawa dingin, melainkan kota yang mencekikmu dengan asap knalpot dan kebijakan tata kota yang membingungkan.

Baca juga Sisi Suram Kota Malang yang Membuatnya Red Flag Disinggahi untuk Healing, apalagi Tinggal

Mitos Malang itu “kota dingin” yang sudah basi

Mari kita bahas hal yang paling fundamental: Suhu.

Dulu, saya ingat betul, tidur di Malang tanpa selimut tebal adalah tindakan bunuh diri. Udara pagi bisa bikin tulang ngilu. Tapi sekarang? Kipas angin di rumah saya menyala 24 jam non-stop. AC bukan lagi barang mewah, tapi kebutuhan primer setara beras.

Pohon-pohon besar yang dulu memayungi jalanan Ijen atau Veteran, kini rasanya makin jarang. Berganti dengan ruko-ruko, beton, dan baliho caleg yang senyumnya maksa.

Baca Juga:

Biaya Hidup Murah, Denah Kampus Mudah Adalah Alasan Saya Masuk UIN Malang

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

Sebagai lulusan Sastra Arab, saya jadi teringat sebuah mahfudzot (pepatah): “Laisa al-jamalu bi atswabi tuzayyinuna.” Kecantikan itu bukan dari pakaian yang menghiasi kita.

Malang sepertinya lupa pepatah itu. Ia sibuk “berdandan” dengan membangun Kayutangan Heritage yang lampu-lampunya mirip Malioboro KW Super. Namun, ia melupakan kecantikan alaminya: udaranya yang sejuk.

Hawa panas di kota saya ini sekarang terasa “jahat”. Bukan panas laut seperti Surabaya yang jujur, tapi panas “sumuk” (gerah/lembap) yang bikin emosi. Bayangkan saya harus COD (Cash On Delivery) gamis pesanan pelanggan di siang bolong, sambil gendong anak, di tengah kemacetan Dinoyo. Rasanya ingin berteriak dalam bahasa Arab Fusha saking frustrasinya.

Kayutangan Heritage adalah bencana lalu lintas

Pemerintah Kota Malang sepertinya terobsesi menjadikan kawasan Kayutangan sebagai ikon wisata baru. Mereka memperlebar trotoar, memasang lampu-lampu antik, ada musik jalanan, dan muncul kafe-kafe vintage.

Secara visual? Bagus. Instagramable. Cocok buat konten TikTok “A Day in My Life”.

Tapi secara fungsional bagi warga lokal? Bencana.

Penerapan sistem satu arah (One Way) di kawasan Kayutangan dan sekitarnya adalah ujian kesabaran tingkat dewa. Putarannya jauh minta ampun. Kalau kelewatan satu gang, Anda harus memutar keliling kota seperti sedang tawaf, tapi bukannya dapat pahala, malah dapat dosa karena misuh-misuh sepanjang jalan.

Bagi wisatawan, mungkin asyik jalan-jalan di sana. Tapi bagi kami, warga lokal dan kurir ekspedisi yang harus mengantar paket tepat waktu, kawasan itu adalah “Segitiga Bermuda”. Masuk sana, waktu terbuang, bensin habis, dan emosi terkuras.

Niatnya meniru Malioboro atau Braga, tapi lupa bahwa infrastruktur jalan penunjangnya tidak memadai. Akibatnya, macetnya mengular sampai ke jalan-jalan tikus.

Invasi kafe “industrial” dan UMR Malang yang menangis

Salah satu ciri paling mencolok dari Malang hari ini adalah pertumbuhan kafe yang tidak masuk akal. Hampir setiap minggu ada kafe baru. 

Konsepnya selalu sama: Industrial Unfinished. Tembok semen ekspos, kursi besi yang bikin pantat sakit, colokan listrik banyak, dan kopi susu gula aren yang harganya Rp25.000 (belum pajak).

Ini fenomena aneh. Malang adalah kota pelajar dengan UMR yang, mari jujur saja, cukup menyedihkan (sekitar Rp3,3 juta di 2025/2026). Tapi, banyak yang memaksa hidup gaya  metropolitan.

Siapa yang nongkrong di sana? Mahasiswa rantau yang uang sakunya tebal? Mungkin.

Tapi bagi warga lokal atau pekerja gaji UMR, keberadaan ratusan kafe ini menciptakan kesenjangan sosial yang nyata. Kami terjepit. Mau makan murah di warung tegal makin susah karena lahannya berubah jadi kafe. Mau makan di kafe, dompet berteriak.

Sebagai online shopper yang jualan barang receh, saya sering melihat kontras ini. Saya packing barang harga Rp50.000 dengan untung cuma Rp5.000 perak. Sementara itu, di seberang jalan, anak-anak muda menghabiskan Rp100.000 sekali duduk cuma buat ngobrol dan Wi-Fi gratis.

Ekonomi Malang tumbuh, katanya. Tapi tumbuh untuk siapa? Untuk investor kafe dari luar kota? Atau untuk warga aslinya yang makin terpinggirkan ke Kabupaten?

Macet Suhat dan Jembatan Tunggulmas yang Sia-sia

Mari bicara soal Jalan Soekarno-Hatta (Suhat). Ini adalah etalase kemewahan Malang sekaligus museum kemacetan abadi.

Setiap pagi dan sore, Jembatan Suhat adalah tempat parkir terpanjang di Jawa Timur. Mobil dan motor merayap. Suara klakson bersahutan. Polusi udara di sini mungkin sudah setara Jakarta Pusat.

Pemerintah membangun Jembatan Tunggulmas untuk mengurai kemacetan. Hasilnya? Kemacetannya cuma pindah lokasi. Malah menciptakan titik macet baru yang lebih crowded. Ini bukti bahwa solusi infrastruktur di Malang seringnya bersifat reaktif, bukan visioner. Kayak orang sakit kepala dikasih plester di kaki. Nggak nyambung.

Kota pendidikan yang kehilangan jiwa pendidikannya

Malang bangga dengan gelar “Kota Pendidikan”. Kampus-kampus raksasa seperti Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) ada di sini.

Setiap tahun, puluhan ribu mahasiswa baru datang. Ekonomi kos-kosan hidup, laundry kiloan panen raya, dan percetakan skripsi lembur.

Tapi dampak sosialnya juga terasa. Kepadatan penduduk melonjak drastis. Kondisi ini memaksa jalanan yang lebarnya segitu-gitu saja menampung volume kendaraan yang meledak. Perilaku berkendara makin agresif. Budaya “permisi” dan senyum ramah khas Malangan mulai terkikis oleh budaya klakson dan serobot jalanan.

Sebagai ibu, saya khawatir. Apakah anak-anak saya nanti masih bisa merasakan “Malang yang Santun”? Atau mereka akan tumbuh di kota yang individualis, di mana tetangga tidak saling kenal karena tembok kos-kosan eksklusif makin tinggi?

Baca juga Malang Dulu Ramah untuk Tempat Tinggal tapi Kini Sudah Hampir Mirip Jakarta Berkat Kemacetan dan Parkir Liar yang Menjadi Penyakit

Epilog: Tetap cinta Malang, tapi sambil sambat

Meskipun saya menulis esai ini dengan nada julid khas Mojok, saya tidak munafik.

Saya masih mencintai bakso Malang yang gerobaknya ada di pinggir jalan (bukan yang di ruko mahal). Susah untuk tidak mencintai suasana sore di Alun-Alun (kalau pas sepi). Saya masih mencintai bahasa Walikan (Kera Ngalam) yang unik itu.

Malang bagi saya seperti mantan pacar yang sudah glow up tapi jadi sombong dan toxic. Dulu dia sederhana, menenangkan, dan bikin nyaman. Sekarang dia mentereng, glamor, tapi bikin capek hati.

Kita bertahan di Malang bukan karena kotanya makin nyaman, tapi karena kenangannya yang terlalu sulit ditinggalkan. Atau dalam kasus saya, karena suami kerjanya di sini dan lapak jualan saya alamatnya sudah terlanjur dikenal kurir ekspedisi sini.

Jadi, buat kalian yang berencana liburan ke Malang atau kuliah di sini, minimal siapkan mental. Jangan bawa ekspektasi “dingin” dan “tenang” itu. Bawa saja kipas angin portable, masker anti-polusi, dan stok kesabaran seluas Samudra Hindia.

Selamat datang di Malang, kota yang sedang mencari jati diri di antara tumpukan beton dan kemacetan yang tak berujung.

Oyi, sam!

Penulis: Fauzia Sholicha

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kota Malang Itu Bukan Kota Slow Living, tapi Slow Motion

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Januari 2026 oleh

Tags: jawa timurjembatan suhatkayutangankayutangan heritagekemacetan malangkota malangMalangmalioboro KW
Fauzia Sholicha

Fauzia Sholicha

Warga Malang yang percaya bahwa mengurus dua anak laki-laki, membalas chat pembeli, dan menulis artikel adalah bentuk multitasking level dewa. Menulis untuk menyalurkan hobi, jualan online untuk menyalurkan hobi checkout keranjang sendiri.

ArtikelTerkait

Jalibar Kepanjen Malang Sudah Terlalu Lama Dibiarkan Rusak sebelum (Akhirnya) Diperbaiki

Jalibar Kepanjen Malang Sudah Terlalu Lama Dibiarkan Rusak sebelum (Akhirnya) Diperbaiki

5 Februari 2025
Nonton Film Bioskop di Jember Tak Lagi Sama (Unsplash)

Nonton Film Bioskop di Jember Tak Lagi Sama

30 Juni 2023
Surat Terbuka untuk Bupati Banyuwangi Terkait Minuman Keras (Unsplash)

Surat Terbuka untuk Bupati Banyuwangi Terkait Izin Penjualan Miras di Tempat Wisata

12 Juni 2023
\4 Dosa Penjual Bakwan Kawi Malang yang Jarang Disadari Banyak Pembeli Mojok.co

4 Dosa Penjual Bakwan Kawi Malang yang Jarang Disadari Banyak Pembeli

13 Agustus 2025
Mensyukuri Tinggal di Sumenep, Kabupaten Termiskin Ketiga di Jawa Timur

Mensyukuri Tinggal di Sumenep, Kabupaten Termiskin Ketiga di Jawa Timur

26 Juni 2023
Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Bagus Sebanyak Itu di Pasaran dan Kalian Masih Memilih Beli Motor Honda BeAT? Ya Tuhan, Seleramu lho yamaha mio m3

Setia Bersama Honda Beat Biru 2013: Motor yang Dibeli Mertua dan Masih Nyaman Sampai Sekarang, Motor Lain Mana Bisa?

17 April 2026
Cerita Pahit 25 Tahun Hidup di Kabupaten Ngawi yang Aneh  Mojok.co

Ngawi Sangat Berpotensi Menjadi Kota Besar, Tinggal Pilih Jalan yang Tepat Saja

17 April 2026
Membayangkan Apa yang Akan Terjadi Jika di Bogor Tidak Ada Angkot terminal di bogor angkot jakarta

4 Hal Menyebalkan dari Oknum Sopir Angkot yang Bakal Kamu Temui saat Berada di Jakarta

16 April 2026
UIN Malang dan UIN Jogja, Saudara yang Perbedaannya Kelewat Kentara

Biaya Hidup Murah, Denah Kampus Mudah Adalah Alasan Saya Masuk UIN Malang

19 April 2026
Honda Supra X 125 Motor Terbaik? Ngawur, yang Terbaik Tetap Karisma (Unsplash)

Tak Hanya Supra, Honda Karisma Juga Jadi Tulang Punggung Keluarga Kelas Menengah di Indonesia

16 April 2026
Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.