Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Setting Boundaries: Bukan Egois, Hanya Tak Mau Menyakiti Diri Sendiri

Faizah Eka Safthari oleh Faizah Eka Safthari
29 Juni 2022
A A
Seseorang yang menyeting boundaris pada dirinya sendiri

Setting Boundaries: Bukan Egois, Hanya Tak Mau Menyakiti Diri Sendiri (pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Terima kasih kepada internet, belakangan saya jadi paham kenapa saya mudah overwhelmed atau stress. Salah satunya adalah karena saya nggak memasang batasan yang jelas antara diri saya sendiri dengan orang lain, atau bahasa kerennya setting boundaries.

Seperti yang saya bilang, setting boundaries adalah proses penerapan batasan-batasan tertentu kepada orang lain. Tujuannya agar identitas kita secara pribadi nggak mudah terganggu dengan apa yang ditawarkan oleh orang-orang.

Tak Selamanya Harus Ikut-ikutan

Misal, sebenarnya kita nggak mau ikut konser, tapi karena terus dibujuk sama teman, kita jadi merasa nggak enak dan akhirnya ikutan beli tiket konser.

Itu baru hal simpel. Contoh lain yang lebih krusial, ketika kita sebetulnya nggak suka physical touch berlebihan sama pacar, tapi karena takut dia ngambek, akhirnya kita melanggar sendiri identitas awal yang dimiliki demi perasaan orang lain.

Sejatinya, setting boundaries membantu kita supaya lebih mengenal diri sendiri; supaya nggak plin-plan; supaya mengatasi rasa nggak enakan yang malah berujung merugikan diri sendiri. Konsep ini menawarkan kepada kita untuk hidup lebih berdikari dan tidak mencampuri perasaan orang lain. Bahwa memang, senang-sedihnya seseorang itu bukan tanggung jawab kita.

Tapi, ada saja pihak-pihak yang mengatakan bahwa setting boundaries adalah konsep hidup individualis yang bodo amat dan sombong. Contohnya, ada teman (toksik) saya yang bilang sekarang saya sombong gara-gara saya tidak mendekatinya lagi seperti dahulu kala.

Padahal, maksud saya bukan begitu.

Lebih Baik Menjadi Diri Sendiri

Saya menjauhinya karena ia banyak nyinyir, rasis, keras kepala, sering merasa superior, dan masih banyak aura-aura negatif yang nggak mampu ditahan oleh psikis saya lagi. Saya capek meladeni orang-orang sejenis itu, makanya saya menghindar. Jika saya menjauhi orang-orang yang merugikan kesehatan mental saya, apakah lantas saya pantas dibilang sombong?

Baca Juga:

Lingkungan Kerja Toxic Membuat Karyawan Tidak Sejahtera Jiwa dan Raga

Ketika ODGJ Harus Merawat Orang Sakit: Berusaha Tetap Tegar meski Diri Benar-benar Ambyar

Nggak juga, ah.

Tujuan saya sebetulnya cuma ingin melindungi identitas pribadi. Saya nggak mau ketularan jadi rasis, apalagi merasa superior gara-gara kebanyakan bergaul dengan dia. Daripada saya iya-iya saja pas lagi ngobrol dan bikin saya overwhelmed, mendingan saya menjauh sekalian. Atau turu, ra risiko.

Toh, teman saya dikasih kritik/saran juga nggak pernah mau terima, jadi buat apa dilanjutkan?

Kemudian, setting boundaries itu bukan berarti nggak peduli sama perasaan orang lain sama sekali. Tetapi, justru kita diajarkan untuk lebih menghargai apa yang dirasakan dalam diri sendiri, tanpa merugikan orang lain. Jangan sampai, hidup kita justru dikontrol oleh orang lain sebab perasaan nggak enakan itu muncul. Yakin, dirimu sendiri yang jadi korban nantinya.

Namun, memang yang paling sulit adalah penerapan batasan dalam relasi pacaran atau hubungan.

Rata-rata dalam kondisi seperti ini, kita yang ingin memasang batasan kerap kali mendapatkan victim blaming dari pasangan. Sering banget dibilang egois atau nggak sayang, semata-mata karena kita pakai batasan kepadanya.

Tentang Sebuah Komunikasi

Ya, Gusti…

Kalau begini, berarti kita harus belajar cara mengomunikasikan yang baik kepada pasangan, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Coba bilang dengan lembut, “Nggak gitu, sayang… maksudnya, nggak semua hal yang baik buatmu, baik juga buatku.”

Atau kamu atur saja bahasanya sendiri, deh!

Ada konsekuensi nyata jika kita tidak memasang batasan kepada orang lain, yaitu kodependensi, atau sifat ketergantungan dengan keputusan dan orang lain. Itu adalah kondisi di mana kita lebih condong menghabiskan waktu dan energi untuk orang luar, daripada mengikuti hal-hal yang paling diinginkan dalam diri.

Jadi tolong diingat ya, setting boundaries itu bukan sombong, apalagi egois. Itu semua demi kualitas hidup yang lebih baik. Hidup hanya sekali, dan rasanya amat sayang jika harus dihabiskan untuk melakukan hal yang tak pernah kita inginkan. Semoga paham ya, Gaes.

Penulis: Faizah Eka Safthari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sayang Orang Lain Terus, Udah Sayang Diri Sendiri Belum?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2025 oleh

Tags: batasanKesehatan Mentalself lovesetting boundaries
Faizah Eka Safthari

Faizah Eka Safthari

Tukang melamun. Penulis lepas. Pencinta seblak.

ArtikelTerkait

Memahami Perasaan Anak Ayam Warna-warni yang Dijual di Pasar terminal mojok.co

Pemberian Anak Ayam Pada Pelajar di Bandung: Terobosan Cerdas yang Nggak Dimiliki Kepala Daerah Lainnya!

22 Oktober 2019
5 Pemicu Gangguan Mental bagi Seorang Pendeta Terminal Mojok

5 Pemicu Gangguan Kesehatan Mental bagi Seorang Pendeta

4 Agustus 2022
kesehatan fisik dan mental

Kebiasaan yang Merusak Kesehatan Fisik dan Mental, Tapi Sering Dilakukan

19 September 2019
kesehatan mental

Bicara Soal Gangguan Kesehatan Mental, Memangnya Sudah Cek Ke Ahlinya?

2 Juli 2019
story medsos

Sebulan Tak Melihat Story Medsos: Ini yang Kurasakan!

26 Agustus 2019
suicide

50 Reasons Why You Shouldn’t Commit Suicide

18 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026
3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Itu Maju ya, Gaes, Bukan Desa Tertinggal dan Tak Tersentuh Peradaban seperti yang Ada di Pikiran Kalian!

17 April 2026
Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

21 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Derita Orang Pasar Rebo, Jauh dari Jakarta Bagian Mana pun, Malah Lebih Dekat ke Depok!

22 April 2026
4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya  Mojok.co

4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sebenarnya Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya 

18 April 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jalan-jalan di Surabaya Itu Mudah dan Murah, tapi Jadi Mahal karena Kebanyakan Tukang Parkir Liar

21 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
  • Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera
  • Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik
  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.