Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Setelah Pati Bergerak, Saya Berharap Lamongan Juga Tidak Tinggal Diam

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
17 Agustus 2025
A A
Setelah Pati Bergerak, Saya Berharap Lamongan Juga Tidak Tinggal Diam

Setelah Pati Bergerak, Saya Berharap Lamongan Juga Tidak Tinggal Diam (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang Lamongan, saya salut dan iri dengan warga Pati yang berani.

Beberapa waktu terakhir, nama Pati mendadak jadi sorotan. Ribuan warganya turun ke jalan, memprotes kebijakan Bupati Sudewo yang mengusulkan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sampai 250 persen. Gila, angka yang nggak masuk akal sama sekali.

ADVERTISEMENT

Demo tersebut bukan cuma soal pajak, tapi juga karena gaya kepemimpinan yang dianggap arogan. Warga akhirnya sepakat: cukup sudah, mari bersuara. Dan hasilnya? Pati, sebuah kota kecil yang adem-ayem, berubah jadi panggung besar demonstrasi rakyat.

Sebagai orang Lamongan, saya melihat ini dengan perasaan campur aduk. Salut, iri, sekaligus berharap: semoga Lamongan juga bisa bergerak.

Romantisasi pecel lele bukan alasan untuk diam

Jujur, selama ini Lamongan seperti terlena dengan popularitas pecel lele. Warung tenda dengan sambal merah menyala itu ada di mana-mana, dari Sabang sampai Merauke. Semua orang tahu: kalau ada spanduk gambar lele dan ayam goreng, hampir bisa dipastikan itu orang Lamongan yang jualan.

Kita sering menganggap ini sebagai kisah sukses perantau. Padahal kalau ditarik ke akar masalah, ini bukti bahwa lapangan kerja di Lamongan sangat minim. Warganya terpaksa pergi ke kota besar, bukan karena gaya hidup, tapi karena di kampung sendiri tidak ada ruang tumbuh.

Jangan salah paham. Saya bangga pecel lele terkenal. Tapi kalau itu dijadikan semacam dalih romantis oleh pemerintah daerah, berarti ada yang salah. Sebab faktanya, warga Lamongan harus mengungsi ke kota orang demi dapur tetap ngebul.

Kota berantakan, pemerintah ogah tahu

Kalau kita bicara fasilitas, Lamongan seperti kabupaten yang seperti tak punya pemerintah daerah. Bayangkan, pusat kota saja jalannya rusak. Jalan Veteran, yang notabene etalase kota, malah bikin pengendara waswas.

Baca Juga:

Bagi Warga Kabupaten, Orang Jakarta Terlihat Terlalu Buru-buru dan Terlalu Punya Tujuan

Panduan Memilih Lele di Tenda Lamongan yang Sudah Pasti Enak dan Nggak Bau

Selain itu, banyak trotoar dipakai untuk jualan, terminal gelap tak terurus, lampu jalan banyak yang mati. Maksud saya, tetangga sebelah saja seperti Bojonegoro dan Tuban jauh lebih rapi. Mereka secara geografis ya hampir saja dengan Lamongan tapi bisa lebih normal ketimbang kota kelahiran saya ini.

Saya kadang heran, apa memang pemerintah daerah terlalu sibuk “jualan branding kuliner” sampai lupa menata rumah sendiri?

Pemikiran konyol Bupati Lamongan soal perbaikan jalan

Kalau ada satu hal yang bisa menyatukan warga Lamongan tanpa pandang bulu, itu adalah keluhan soal jalan. Dari utara sampai selatan, dari kota hingga pelosok desa, kondisi jalan di Lamongan sudah lama jadi bahan obrolan sekaligus kekesalan kolektif.

Ironisnya, setiap kali keluhan warga soal jalan ini sampai ke telinga pemimpin daerah, jawaban yang muncul malah sering bikin geleng-geleng kepala. Bukannya memberi solusi, justru yang keluar adalah jurus ngeles yang membalikkan logika sederhana warga.

Bupati kerap berdalih, “Itu jalan desa, bukan jalan kabupaten.” Dalih ini justru semakin menambah kekecewaan warga. Bagaimanapun bupati adalah pemimpin seluruh daerah, bukan hanya wilayah tertentu. Kalau ada jalan rusak di sebuah desa, apakah lantas dibiarkan begitu saja hanya karena status administratifnya berbeda? Apalagi warga yang lewat jalan desa itu juga membayar pajak ke kabupaten.

Seharusnya, ada koordinasi dengan pemerintah desa, minimal menunjukkan kepedulian dan mencari jalan keluar bersama. Mengabaikan dengan alasan teknis hanyalah bentuk lepas tangan, seolah-olah tanggung jawab bisa dioper seenaknya.

Selain itu, kadang juga menyalahkan anggaran yang minim. Hampir setiap tahun, dalih ini keluar, seakan-akan masyarakat Lamongan tidak paham bagaimana seharusnya seorang pemimpin bekerja. Kalau memang anggaran terbatas, bukankah tugas pemimpin justru mencari solusi? Bisa dengan menata ulang prioritas, bisa mencari sumber pendanaan tambahan, atau menggandeng pihak swasta untuk kerja sama.

Padahal banyak daerah tetangga dengan kondisi anggaran mirip justru bisa menyediakan jalan yang jauh lebih layak. Sekali lagi harus saya sebut, Tuban dan Bojonegoro, kedua daerah itu relatif lebih rapi dalam hal infrastruktur. Kalau mereka bisa, kenapa Lamongan tidak? Menyalahkan anggaran tanpa menghadirkan solusi hanya menunjukkan lemahnya kepemimpinan.

Belajar dari Pati: Lamongan jangan diam

Gerakan di Pati itu seharusnya jadi cermin. Masyarakat jangan takut bersuara ketika ada kebijakan ngawur. Mengkritik bukan tanda benci, justru tanda cinta. Kalau rakyat diam, pejabat akan semakin semena-mena.

Lamongan punya PR besar: membuka lapangan kerja, memperbaiki infrastruktur, dan menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang sehat. Kalau tidak, jangan kaget kalau generasi mudanya habis merantau semua. Di kampung tinggal sawah kosong, jalan berlubang, dan rumah-rumah yang ditinggal penghuninya.

Saya tidak minta banyak. Tidak muluk-muluk ingin Lamongan jadi kota metropolitan. Yang saya inginkan persoalan mendasar saja: jalan diperbaiki, terminal berfungsi, lampu jalan menyala, lapangan kerja tersedia. Sudah itu saja.

Kalau Pati bisa bersuara, kenapa Lamongan tidak? Saya kira dengan pecel lele yang sudah jadi ikon nasional, serta Persela yang punya pendukung fanatik, warga Lamongan jelas punya energi untuk bergerak. Tinggal kemauan saja.

Saya tak tahu kita sedang menunggu apa, tapi diam bukan solusi. Menunggu keajaiban juga tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau benar-benar mencintai Lamongan, sudah saatnya warganya belajar dari Pati: bersuara, bergerak, dan menuntut perubahan secara nyata.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Lamongan Adalah Daerah dengan Pusat Kota Terburuk yang Pernah Saya Tahu.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2025 oleh

Tags: bupati lamonganjalan lamonganjalan rusak di lamonganKabupaten Lamongankabupaten patilamonganlamongan kotapati
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Jangan Hidup di Lamongan kalau Nggak Punya Kendaraan Pribadi, Transportasi Umum Nggak Bisa Diharapkan Mojok.co

Jangan Hidup di Lamongan kalau Nggak Punya Kendaraan Pribadi, Transportasi Umum Nggak Bisa Diharapkan

24 Mei 2024
Pulau Seprapat, Tempat Pesugihan Legendaris di Juwana, Pati

Pulau Seprapat, Tempat Pesugihan Legendaris di Juwana, Pati

14 April 2023
Ibu Kota Jawa Timur Boleh Pindah ke Mana Saja, Asal Nggak ke Lamongan

4 Hal Tidak Menyenangkan Jadi Warga Kabupaten Lamongan

11 Maret 2022
4 Dosa Penjual Pecel Lele yang Mengaku Asli Lamongan Mojok.co

4 Dosa Penjual Pecel Lele yang Mengaku Asli Lamongan

10 November 2024
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan

17 Januari 2024
Makam Sunan Drajat Lamongan, Wisata Religi yang Tergerus Sakralitasnya Gara-gara Banyak Pungutan dan Pengemis Nakal

Makam Sunan Drajat Lamongan, Wisata Religi yang Tergerus Sakralitasnya Gara-gara Banyak Pungutan dan Pengemis Nakal

29 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berhentilah Percaya Stigma Buruk Jalur Pantura Subang, Kawasan Ini Bukan Cuma soal Warung Remang-remang

Berhentilah percaya stigma buruk jalur pantura Subang, kawasan ini bukan cuma soal warung remang-remang

13 Juli 2026
Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan Mojok.co

Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan 

8 Juli 2026
5 Tanda Warung Bebek Madura yang Sudah Pasti Enak: Makin Sederhana, Makin Enak!

Pedoman Kuliner Warung Bebek Madura, Saya Tuliskan karena Banyak yang Tertipu Tampilan Luarnya

13 Juli 2026
Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

11 Juli 2026
Leuwigajah, Kelurahan Paling Mentereng Se-Kota Cimahi

Cimahi Selatan, Sebuah Anomali di “Kota Tentara”: Menjaga Kedaulatan Ekonomi dan Keberlangsungan Hidup Warga Cimahi

7 Juli 2026
Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, "Hello" Jauh Lebih Penting daripada "Open Your Book"

Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, “Hello” Jauh Lebih Penting daripada “Open Your Book”

7 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.