Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Saya Menduga Branding Lamongan Adalah Jalan Rusak, karena Sampai Sekarang Tidak Diperbaiki, Seakan-akan “Dipelihara”

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
19 Mei 2025
A A
Saya Menduga Branding Lamongan Adalah Jalan Rusak, karena Sampai Sekarang Tidak Diperbaiki, Seakan-akan "Dipelihara"

Saya Menduga Branding Lamongan Adalah Jalan Rusak, karena Sampai Sekarang Tidak Diperbaiki, Seakan-akan "Dipelihara"

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah jadi rahasia umum kalau jalanan di Lamongan itu ugal-ugalan. Aspal asal-asalan, bergelombang, lubang di mana-mana, dan tambalan jalan yang formalitas adalah pemandangan harian yang bisa dinikmati nyaris di tiap tikungan.

Saya sendiri sudah lelah untuk heran. Sejak kecil sampai sekarang menjelang kepala tiga, kondisi jalan di Lamongan begitu-begitu saja. Tidak pernah ada perbaikan yang benar-benar niat. Kalau kata orang-orang, mungkin yang berubah cuma anggaran perbaikannya, bukan jalannya.

Di dekat tempat saya tinggal ada kawasan pasar Blimbing yang cukup memprihatinkan. Pasar yang dulunya ramai kayak antrean bantuan sosial, sekarang makin sepi. Banyak yang bilang karena kalah bersaing sama penjual online. Tapi beberapa warga juga mengatakan, ya siapa yang mau ke pasar kalau jalannya kayak arena offroad? Apalagi kalau hujan, banyak jeglongan, bikin males. Saya sendiri juga sering malas kalau terpaksa harus ke sana.

Di beberapa daerah juga demikian, bahkan akun Instagram @infolamongan hampir tiap hari repost soal kondisi jalan yang busuk. Dan rasanya jalan tersebut tidak pernah berubah. Tetap rusak sejak dulu kala.

Dari fenomena tersebut saya mulai berpikir: jangan-jangan ini memang disengaja. Jangan-jangan jalan rusak ini bukan hal negatif, tapi justru program dari pemerintah daerah untuk branding, untuk identitas. Ya, siapa tahu, branding utama Lamongan memang jalan rusak.

Branding “Megilan” yang bingung identitas

Kalau kamu googling, Lamongan punya tagline: “Lamongan Megilan”. Katanya sih, ini diambil dari dialek khas Lamongan yang katanya akrab di berbagai daerah. Tapi jujur saja, banyak warga Lamongan sendiri yang baru tahu istilah itu sejak dipakai sebagai tagline resmi. Saya juga demikian.

Masalahnya, “megilan” ini terdengar agak canggung. Bukan tidak cinta daerah sendiri, tapi kalau dibuat sebagai tagline rasanya memang kurang “nendang”. Coba bandingkan dengan: Jogja Istimewa, Tuban Bumi Wali, atau Sleman Sembada. Sekilas dibaca saja sudah terasa aura promosinya. Lha ini, “Megilan”, terdengar agak kurang enak aja dilafalkan.

Branding soto Lamongan dan pecel lele itu sudah terlalu “so yesterday”

Satu lagi yang sering dipakai sebagai “branding kultural” Lamongan adalah soto dan pecel lele. Betul, dua makanan ini memang membumi, bahkan bisa ditemukan sampai ke pelosok Kalimantan. Tapi justru itu masalahnya. Karena terlalu tersebar, semua orang bisa mencicipinya tanpa mampir dulu ke Lamongan. Iya, tidak ada yang merasa perlu datang ke Lamongan hanya untuk mencicipi soto yang bisa ditemukan di warung depan kos.

Baca Juga:

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

4 Rekomendasi Motor untuk Menghadapi Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Surut

Bandingkan dengan angkringan Jogja. Cuma nasi kucing dan gorengan, tapi karena didukung narasi yang kuat, sehingga jadi romantis. Pecel lele dan soto belum sampai ke tahap itu. Jadinya branding ini pun ya sekadar makanan, belum bisa jadi daya tarik utama.

Branding jalan rusak adalah solusi paling realistis

Saking lamanya jalanan Lamongan dibiarkan rusak, saya kira ini bukan lagi keteledoran. Saya mulai kepikiran kalau ini adalah strategi branding yang tidak dideklarasikan. Selain itu, branding ini juga minim effort, gampang, dan murah. Tinggal dibiarkan saja kondisi jalan rusak seperti sekarang.

Duh, enak banget kerja tapi tidak ngapa-ngapain. Toh ujung-ujungnya, Lamongan jadi dikenal.

Lalu biarkan warga dan pengunjung mengeluh soal kondisi jalan, kemudian mereka promosi di sosial media secara gratis. Selain itu, sambatan warga di sosial media soal kondisi jalan yang rusak parah justru membuat Lamongan lebih dikenal. Sebab, tujuan branding kan memang agar dikenal.

Sekali lagi, branding soal jalan rusak adalah pilihan logis bagi Lamongan. Pun, sebagai warga lokal, saya tidak bisa diam saja, saya harus membantu “program” tersebut dengan menyebarkan gagasan brilian ini. Iya, seluruh dunia harus tahu kalau Lamongan sedang melakukan strategi branding.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tebakan Saya, yang Menyakiti Bernadya Adalah Orang Lamongan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2025 oleh

Tags: brandingjalan rusakjalan rusak di lamonganlamongan
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Gunungkidul Handayani, Jalan Rusak (Tetap) Abadi wisata jeglongan sewu

Wisata Jeglongan Sewu: Destinasi Terbaik di Gunungkidul buat Uji Nyali

11 Maret 2023
5 Jalan Jahanam di Mojokerto yang Melatih Kesabaran Pengendara Saking Bobroknya Mojok.co

5 Jalan Jahanam di Mojokerto yang Melatih Kesabaran Pengendara Saking Bobroknya

21 Juli 2024
Mitos Gunung Pegat Lamongan yang Bisa Bikin Pegatan terminal mojok.co

Mitos Gunung Pegat Lamongan yang Bisa Bikin Pegatan

14 Desember 2021
Culture Shock Orang Lamongan Menikah dengan Orang Mojokerto: Istri Nggak Suka Ikan, Saya Bingung Lihat Dia Makan Rujak Pakai Nasi

Culture Shock Orang Lamongan Menikah dengan Orang Mojokerto: Istri Nggak Suka Ikan, Saya Bingung Lihat Dia Makan Rujak Pakai Nasi

2 Desember 2025
Branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia yang Berlebihan

Branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia yang Berlebihan

20 Maret 2022
3 Alasan Jangan Selalu Salahkan Pemerintah kalau Ada Jalan Rusak! Mojok.co

3 Alasan Jangan Selalu Salahkan Pemerintah kalau Ada Jalan Rusak!

9 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bangkalan dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia Mojok

Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia

21 April 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

24 April 2026
5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi (Wikimedia Commons)

5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi, Wajib Kamu Coba Saat Berwisata Supaya Lebih Mengenal Sejarah Panjang Kuliner Nikmat Ini

21 April 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

25 April 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jalan-jalan di Surabaya Itu Mudah dan Murah, tapi Jadi Mahal karena Kebanyakan Tukang Parkir Liar

21 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Alifa Moslem Babypreneur Daycare Jadi Penyelamat Orang Tua yang Harus Kerja dan Jogja yang Minim Ruang Bermain Anak
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.