Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

Mukhamad Bayu Kelana oleh Mukhamad Bayu Kelana
23 April 2026
A A
5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pemandangan SMA mana pun saya kira hari ini sama: spanduk besar terpasang di gerbang, berisi foto siswa, dan ada tulisan “lolos PTN”. Sekolah-sekolah sedang berbangga, menganggap mereka telah melakukan sesuatu yang meaningful, at least untuk 3 tahun belakangan.

Jelas nama dan wajah siswa yang dipajang tidak begitu banyak. Tidak mungkin banyak memang, karena yang dipilih hanya yang sekiranya meningkatkan martabat sekolah.

ADVERTISEMENT

Pertanyaannya adalah: kalau satu angkatan itu tiga ratus siswa, dan yang namanya ada di spanduk itu dua belas orang, lalu sisanya ke mana?

Apakah mereka aib? Apakah mereka tidak pantas untuk dibanggakan? Padahal mereka juga tiga tahun duduk di kelas yang sama, bayar SPP yang sama, dengerin ceramah yang sama soal “raihlah cita-citamu setinggi langit.” Saya salah satu dari mereka yang waktu itu buka pengumuman SNBP sendirian di rumah, dan yang muncul di layar cuma warna merah. Ditolak.

Tidak ada yang menelepon, tidak ada kalimat penghiburan dari sekolah. Yang ada justru beberapa minggu kemudian: spanduk terpasang, nama-nama disebut, dan sisanya cukup hadir, tepuk tangan, lalu pulang. Begitulah tradisi ini bekerja. Rapi, konsisten, dan tidak pernah ada yang merasa perlu mempermasalahkannya karena lainnya cuma remah-remah saja.

Siswa yang tidak masuk PTN top, dianggap lalu. Yang masuk PTN top, berakhir jadi alat marketing sekolah. Siapapun yang berhasil meraih mimpi, yang untung tetap saja sekolah.

Spanduk itu bukan perayaan kelulusan, itu iklan tahunan

Kalau kamu pikir spanduk lolos PTN itu dipasang untuk merayakan siswanya, coba pikir ulang. Spanduk itu dipasang di depan gerbang menghadap jalan, bukan menghadap siswa. Audiensnya bukan anak-anak yang baru lulus itu. Audiensnya adalah orang tua calon siswa baru yang kebetulan lewat, yang melihat deretan foto dan nama universitas negeri bergengsi, lalu berpikir: “Wah, sekolah ini bagus.”

Bagi sekolah, murid-murid yang berhasil meraih mimpi lolos PTN top adalah portofolio. Bahkan belum tentu juga mereka dimintai persetujuan untuk dipajang. Dan seperti iklan pada umumnya, yang ditampilkan hanya yang terbaik, yang paling menjual, yang paling bisa membuat orang terkesan. Sisanya tidak masuk frame. Bukan karena tidak penting, tapi karena tidak berguna untuk narasi yang sedang dibangun.

Baca Juga:

Universitas Terbuka, kampus negeri yang UKT-nya tidak kenal sistem golongan, banyak beasiswa pula!

3 Kali Gagal Tes Sekolah Kedinasan, Akhirnya Malah Lolos Kedokteran UGM yang Terpaksa Direlakan karena Biaya

BACA JUGA: Sekolah Hanya Bangga pada Muridnya yang Keterima di Kampus Negeri, Sisanya Remah-remah, Dianggap Saja Tidak!

Tiga tahun diajarkan bermimpi, tapi hanya satu mimpi yang dianggap sah: lolos PTN

Guru-guru di sekolah ini dan hampir semua sekolah pasti pernah bilang kalimat itu. “Kalian bisa jadi apa saja.” Diucapkan dengan sungguh-sungguh, kadang di depan kelas, kadang di upacara bendera, kadang di sesi motivasi yang mengundang alumni sukses. Tidak ada yang bohong. Mereka memang percaya itu.

Tapi kemudian kelas dua belas dimulai. Dan tiba-tiba semua energi sekolah mengerucut ke satu titik: SNBP, SNBT, ujian mandiri. Bimbel digalakkan, try out dipadatkan, passing grade didiskusikan seperti harga mati. Siswa yang ingin masuk sekolah vokasi? Dapat anggukan. Siswa yang ingin langsung kerja? Dapat senyum tipis. Siswa yang ingin buka usaha? Dapat pertanyaan: “Tapi tetap daftar PTN dulu kan?” Karena di sini, mimpi itu boleh bermacam-macam selama ujungnya tetap ke PTN.

Maka jangan heran kalau siswa yang akhirnya tidak lolos PTN merasa kehilangan arah. Bukan karena mereka tidak punya rencana lain. Tapi karena tiga tahun terakhir, sekolah tidak pernah benar-benar membantu mereka menyiapkan rencana lain itu. Mereka diarahkan ke satu pintu, pintu itu tidak terbuka, dan sekolah sudah terlanjur tidak menyiapkan pintu cadangan.

Ini bukan tidak bisa dibenahi tapi sekolah hanya tidak mau repot

Apakah praktik ini tidak bisa diubah? Oh, sebenarnya bisa. Gampang malah.

Sederhana saja. Ubah definisi sukses dan tampilkan semua jalur secara setara. PTN, PTS, kerja, vokasi, wirausaha, dengan narasi yang sama kuatnya. Ubah cara mengajar bukan sekadar melatih siswa lolos seleksi, tapi bantu mereka mengenali kekuatan dan peluang nyata sesuai dirinya. Ubah sistem pengakuan, publikasi sekolah seharusnya merayakan keberagaman capaian, bukan hanya satu jalur yang kebetulan paling mudah dijadikan bahan spanduk.

Dan di level kebijakan, sudah waktunya indikator kinerja sekolah tidak hanya diukur dari angka masuk PTN. Tapi juga keterserapan kerja, keberlanjutan studi, dan perkembangan kompetensi siswanya secara nyata.

Tapi selama tidak ada yang mau bergerak ke sana, tradisi ini akan terus datang setiap tahun. Spanduk siswa lolos PTN akan terus terpasang, nama-nama yang sama jenisnya akan terus disebut, dan ratusan siswa akan terus pulang membawa sesuatu yang tidak pernah tercatat di rapor mereka.

Yang tersisa adalah, perasaan bahwa mereka adalah bagian dari angkatan yang gagal, padahal sebenarnya mereka hanya tidak cocok dengan satu-satunya ukuran yang sekolah mau gunakan. Sekolah tidak jahat. Sekolah hanya ingin terlihat sukses. Masalahnya, cara termudah untuk terlihat sukses adalah dengan memutuskan bahwa sebagian besar siswanya memang tidak perlu dirayakan.

Penulis: Mukhamad Bayu Kelana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kenapa sih Sekolah Negeri Terobsesi dengan Kampus Negeri? Emang Kampus Swasta itu Jelek? 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 April 2026 oleh

Tags: kampus negerilolos PTNptnSekolah
Mukhamad Bayu Kelana

Mukhamad Bayu Kelana

Mahasiswa Sarjana Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang.

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Pemasangan Banner Daftar Siswa Diterima PTN oleh Sekolah

Sisi Gelap Pemasangan Banner Daftar Siswa yang Diterima PTN oleh Sekolah

29 Juli 2023
Larangan Membawa Hape ke Sekolah, Masihkah Relevan?

Larangan Membawa Hape ke Sekolah, Masihkah Relevan?

21 Juli 2022
Kenapa sih Sekolah Negeri Terobsesi dengan Kampus Negeri? Emang Kampus Swasta itu Jelek?  

Kenapa sih Sekolah Negeri Terobsesi dengan Kampus Negeri? Emang Kampus Swasta itu Jelek?  

21 Juni 2025
Cooking Class buat Anak Kecil, Kegiatan dengan Dalih Life Skill yang Ngadi-ngadi

Kelas Memasak buat Anak Kecil, Kegiatan dengan Dalih Life Skill yang Ngadi-ngadi

3 Maret 2023
Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah Mojok.co

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

11 Maret 2026
Hal-hal yang Butuh Banyak Uang di Sekolah selain Wisuda dan Perlu Dibenahi

Hal-hal yang Butuh Banyak Uang di Sekolah selain Wisuda dan Perlu Dibenahi

8 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kuliner Populer Palembang yang Nggak Cocok untuk Semua Lidah Mojok.co

4 Kuliner Populer Palembang yang Nggak Cocok untuk Semua Lidah

6 Juli 2026
Bakso Malang adalah makanan khas Jawa Timur terbaik no debat (Wikimedia Commons)

Bakso Malang adalah makanan khas Jawa Timur yang paling bisa diterima semua lidah orang Indonesia ketimbang kuliner Jatim lainnya

12 Juli 2026
Di Madura, Biaya Oleh-oleh Haji Hampir Sama Besarnya dengan Biaya Keberangkatannya, Bikin Orang Jadi Enggan Berangkat  

Banyak Orang Madura Mampu Berangkat Haji tapi Nggak Berani karena Harus Beli Oleh-oleh buat Tetangga, Bisa Habis Puluhan Juta!

10 Juli 2026
Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

11 Juli 2026
Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

Kalian boleh kesal sama emak-emak, tapi oknum bapak-bapak merokok saat berkendara jauh lebih meresahkan

11 Juli 2026
Menikmati hari Minggu di Sewon Alternatif wisata underrated Jogja (Unsplash)

Menikmati hari Minggu di Sewon: Alternatif wisata underrated Jogja

12 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.