Sejarah Minol di Jogja: Dari Kedai Pemabuk Sampai Lahirnya Minuman Oplosan – Terminal Mojok

Sejarah Minol di Jogja: Dari Kedai Pemabuk Sampai Lahirnya Minuman Oplosan

Artikel

Bayangkan sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Mirip-mirip kedai burjo atau warteg hari ini. Meskipun kecil, kedai tersebut ramai oleh pria berbagai kalangan. Dari anak SMA sampai para sepuh. Dari asongan sampai aparat. Riuh obrolan mereka sangat ngalor ngidul. Maklum, mereka semua sedang mabuk minuman beralkohol (minol).

Kira-kira seperti itu gambaran kedai penjaja minol di Jogja. Jangan tanya di mana lokasinya karena gambaran tadi hanya ada di tahun 70 sampai 80-an. Kultur minol yang mewarnai dunia malam Jogja jauh berbeda dengan hari ini. Jika hari ini jual beli minol dilakukan dengan malu-malu, era Pelita I Orde Baru punya warna yang berbeda.

Untuk memahami sejarah minol di Jogja ini, saya mewawancarai mereka yang pernah menolak sadar pada era 70 hingga 80-an. Dua orang pertama adalah bapak dan eyang saya. Maklum, keduanya memang jago minum di masa mudanya. Bahkan keduanya pernah minum bersama sebelum terikat dalam hubungan mertua-mantu. Narasumber berikutnya sebut saja Mas Ye. Blio juga dalam lingkaran peminum di era kejayaan minol ini.

Untuk memahami bagaimana kultur minol kala itu, kita harus memahami bagaimana minol sebelum dikendalikan negara. Hukum pengawasan dan pengendalian minol baru lahir pada 31 Januari 1997. Keppres 3/1997 ini diteken Pak Harto untuk membatasi peredaran minol golongan B (kadar 5-20%) dan C (di atas 20%).

Sebelum ada Keppres, distribusi minol sama loss doll-nya dengan minuman ringan hari ini. Memang, penolakan minol berbasis agama sudah deras sejak masa itu. Namun, tanpa regulasi tegas negara, minol tetap dijajakan dengan bebas. Bapak saya mengingat bagaimana wujud kedai minol pada masa itu.

Seperti di pembuka tadi, kedai minol berwujud seperti burjonan dan warteg hari ini. Bisa juga disamakan dengan kedai jamu. Namun, bukan gorengan atau mi instan yang dipajang dan dijajakan. Yang terpajang adalah berbagai botol minol dengan merek dan bentuk yang variatif.

Salah satu brand yang wajib ada adalah Drum, Mansion, dan Topi Miring. Beberapa juga menjual anggur merah dan kolesom. Akan tetapi, keduanya belum sepopuler hari ini ketika warga indie mulai memuja fermentasi anggur. Selain minol, kedai ini juga menjajakan “tambul” alias makanan pendamping minol. Dari sekadar gorengan sampai tongseng anjing. Maklum, zaman itu belum ada kesadaran bahwa “Dogs are not food”.

Bermodal lincak sederhana, kedai ini siap menyambut para pria di malam hari. Pemilihan jam ini bukan untuk menghindari aparat. Semata-mata karena konsumen yang umumnya kelas pekerja baru selo setelah malam tiba. Beberapa kedai yang terbatas luasnya terpaksa menggelar tikar di trotoar. Tak masalah, yang penting bisa memfasilitasi para peminum yang ingin “ngiras” alias minum di tempat.

Mas Ye punya pengalaman menarik. Saat blio coba-coba mabuk saat SMP, terjadi adu mulut antar pemabuk. Adu mulut yang berujung adu jotos ini terpaksa dibubarkan dengan siraman air bekas cuci piring si empunya kedai. Mas Ye yang masih plonga-plongo terpaksa mandi air kotor ini gara-gara mencoba melerai. Tidak ada yang punya inisiatif untuk menghubungi polisi. Lha wong polisinya sedang terkapar di depan kedai karena mabuk berat.

Kedai minol era 70 hingga 80-an ini bukan barang langka. Hampir di setiap kampung selalu terdapat kedai minol. Mungkin hari ini warga Jogja hanya mengenal Samirono, Pajeksan, atau Warung Ijo yang sudah kukut. Masa itu, Anda tidak perlu saling lempar tanggung jawab antar kawan untuk membeli minol. Anda perlu jalan sebentar untuk menyambangi kedai minol yang cuma beberapa langkah.

Akan tetapi, namanya manusia tidak akan pernah puas. Mudahnya akses untuk hilang kesadaran ini membuat para peminum mulai kreatif. Kreativitas perkara minol ini menghadirkan minol oplosan yang kini menjadi teror dunia permabukan. Nah, ada dua dasar teori dari lahirnya minuman oplosan ini.

Menurut eyang saya, para pemabuk masa itu mulai bosan dengan rasa minol yang itu-itu saja. Minol yang umum dijajakan dulu cenderung berasa pahit. Maka muncul ide untuk mengoplos minol dengan berbagai minol dan sirup lain. Mirip-mirip cocktail yang dijajakan di diskotek.

Salah satu yang dianggap sebagai pelopor minuman oplosan adalah Aseng. Gentho ormas ini mulai mengombinasikan berbagai minol dengan perisa. Blio juga mencoba untuk melakukan fermentasi minol sendiri. Kehadiran minol berbagai rasa ini membuat kedai Aseng di area pusat kota Jogja ini selalu ramai. Larisnya minuman oplosan ini membuat beberapa kedai lain berani bereksperimen.

Namun yang perlu ditekankan, minol oplosan waktu itu bertujuan untuk menambah cita rasa. Berbeda dengan minuman oplosan hari ini di mana efek mabuk minol dipaksakan untuk meningkat. Dan sering kali mengandung bahan yang berbahaya. Misal obat sakit kepala, krim anti nyamuk, sampai obat batuk.

Teori kedua berasal dari bapak saya. Minuman oplosan dulu lahir sebagai solusi kesehatan pria. Untuk menambah efek menyehatkan, di dalam kemasan minol dimasukkan berbagai objek yang kadang tidak pantas. Dari akar ginseng, kuda laut, ular berbisa, sampai anak tikus. Konon rendaman objek ini dapat menambah khasiat minol untuk stamina dan kesehatan pria. Dan kesehatan ini identik dengan urusan ranjang.

Jika sulit membayangkan, Anda bisa membayangkan infuse water. Kurang lebih wujudnya mirip. Bedanya, infuse water memakai buah yang indah warnanya dan lebih enak dipandang.

Salah satu kedai minuman oplosan versi ini adalah Kedai Ginseng Korea. Kedai yang dulu berada di Jalan Jogja-Solo ini menjadi pelopor minol oplosan versi jamu. Kedai lain mulai meniru pakem Ginseng Korea ini, mereka juga mulai memakai nama “ginseng” untuk promosi. Jadi jangan kaget jika bapak-bapak Jogja hari ini menyebut minuman oplosan sebagai ginseng.

Kehadiran minol oplosan ini mulai bergeser konsep. Dari untuk menambah cita rasa dan manfaat, minuman oplosan berubah untuk menambah efek mabuk. Terbitnya peraturan pengendalian dan pembatasan minol di 1997 menjadi booster bagi oplosan. Lantaran minol botol beling mulai mahal dan susah dicari, banyak pemabuk alih selera dan memilih minuman oplosan.

Pascareformasi, minol oplosan making ngadi-adi. Keracunan minuman oplosan sering terjadi karena logika jongkok saat memilih substansi tambahan. Selain itu, banyak kedai minol beralih fungsi demi mencegah grebekan polisi. Umumnya kedai minol berubah menjadi kedai jamu, sambil sesekali berjualan anggur merah.

Terbenamnya era keemasan minol ini meninggalkan kenangan bagi para pemabuk veteran ini. Apalagi saat melewati bekas lokasi kedai minol langganan mereka. Saya mencoba membayangkan juga, meskipun lahir di masa akhir Orba. Membayangkan para pemabuk cerewet dan bergelimpangan di tepi jalan. Membiarkan kesadaran mereka beku dalam halusinasi. Setidaknya sampai esok hari saat mereka kerja.

BACA JUGA Minuman Beralkohol dan Betapa Noraknya Cuitan Anya Geraldine dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Baca Juga:  Jika Cintamu Hasil Doktrin Blue Film, Aku Bisa Apa?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.