Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Keunikannya Sudah Mendarah Daging: Sejarah Depok sebagai Sebuah Negara dan Merdeka Sejak 1714

Gabrielle Moses Aipassa oleh Gabrielle Moses Aipassa
12 September 2023
A A
5 Kuliner Legendaris di Kota Depok: Bakso Comberan Adalah Andalan! Terminal Mojok.co sejarah depok

5 Kuliner Legendaris di Kota Depok: Bakso Comberan Adalah Andalan! (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Depok masa kini dikenal sebagai kawasan yang unik dan ajaib. Banyak berita mencengangkan mengenai polemik sosial sampai kisah mistis yang menyelimuti daerah penyangga Jakarta tersebut. Mulai dari, munculnya pembegalan, pemutaran lagu ciptaan Walikota di lampu merah, adanya pasien Covid-19 pertama, penimbunan sembako Banpres, kasus kekerasan yang kejadiannya di luar nalar, sampai pada kisruh babi ngepet.

Namun, tidak banyak orang tahu bahwa daerah yang dinilai absurd ini memang “berbeda” sejak awal keberadaannya. Sejarah Depok sendiri memang bisa dibilang luar biasa. Depok telah menjadi tanah yang bebas dari penjajahan lebih dari 200 tahun sebelum dibacakannya proklamasi kemerdekaan, tepatnya 1714. Bahkan, Depok sempat menolak menjadi bagian Republik Indonesia hingga terjadi peristiwa Gedoran Depok. Semua itu tak lepas dari sosok Cornelis Chastelein.

Sejarah Depok

Bicara sejarah Depok, pasti bicara tentang seorang saudagar senior VOC, yakni Cornelis Chastelein. Sejak masih menjadi pegawai VOC, ia membeli beberapa persil tanah di selatan Batavia secara bertahap, mulai dari Seringsing hingga Depok dan sekitarnya. Dengan tujuan utama untuk mengembangkan pertanian dan perkebunan, serta berniat menyebarkan agama yang dianut: Kristen Protestan.

Chastelein meninggalkan jabatannya di VOC dan fokus untuk mencurahkan perhatiannya mengembangkan perkebunan di Depok. Dia pindah ke Seringsing membawa 200-an orang budak yang berasal dari Bali, Benggala, Koromandel, dan Makassar. Merekalah yang kemudian membuka perkebunan di situ dan diberdayakan sampai menjadi komunitas Kaum Depok.

Cerita tentang Chastelein

Para budak-budak tersebut tidak hanya diajarkan untuk bercocok tanam saja, tetapi juga bisa mendapatkan akses untuk beragama. Mereka diajarkan menulis dan membaca sehingga mampu mempelajari Alkitab. Chastelein membentuk jemaat protestan melalui organisasi bernama De Eerste Protestante Organisatie van Kristenen yang banyak diyakini sebagai akronim dari Depok. Bukti peninggalan sejarah itu masih ada hingga saat ini dalam bentuk GPIB Immanuel yang terletak di Jalan Pemuda.

Sebutan budak rasanya kurang sesuai jika berkaca pada apa yang dilakukan oleh Chastelein. Mereka hidup berdampingan dengan baik meskipun hubungannya sebagai tuan tanah dan pekerja. Bahkan, para budak juga diajarkan bahasa Belanda dan menjalani hidup dengan gaya Belanda. Oleh sebab itu, banyak seruan dari orang-orang sekitar yang melabeli mereka sebagai Belanda-Depok.

Ketika itu, anak-anak Depok yang bisa berbahasa Belanda ini naik kereta ke Batavia untuk bersekolah. Para penumpang yang telah naik sebelumnya dari arah Bogor pun mendengar saat mereka bercakap-cakap dalam bahasa Belanda. Mulai sejak itulah sebutan Belanda-Depok tertanam di masyarakat. Mirisnya, mereka sama sekali tidak memiliki garis keturunan atau darah Belanda, tetapi kehilangan identitasnya sebagai pribumi.

Chastelein pada akhirnya memerdekakan para budak saat ia menjemput ajalnya pada 1714. Wasiatnya berisi penyerahan kawasan tersebut kepada sekitar 200 orang budak yang telah terbagi menjadi 12 Marga. Sehingga, merekalah yang kemudian diminta mengelola dan menjadi Kaum Depok. Pihak Hindia Belanda pun tidak bisa menguasai tanah tersebut karena sifatnya sejak awal adalah partikelir atau bukan kepunyaan pemerintah.

Baca Juga:

Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik

4 Salah Kaprah Jurusan Sejarah yang Terlanjur Melekat dan Dipercaya Banyak Orang

Presiden Depok pertama

Warga Depok yang terdiri dari 12 Marga tersebut sepakat bahwa haruslah ada yang menjadi pemimpin untuk mengelola semua peninggalan Chastelein. Gerrit Jonathans diangkat menjadi Presiden Depok yang pertama dan dipilih secara demokratis, tepatnya pada 1913. Pusat pemerintahannya berada di titik Kilometer 0 yang ditandai dengan berdirinya Tugu Depok. Saat ini, gedung pemerintahan tersebut telah kosong, sebelumnya pernah beralih fungsi jadi Rumah Sakit Harapan.

Masa jabatan Presiden Depok berlaku selama tiga tahun sejak terpilih. Jadi, setelah Jonathans ada beberapa nama yang diketahui pernah menjadi Presiden Depok, seperti Martinus Laurens pada 1921, Leonardus Leander pada 1930, dan Johannes Matheis Jonathans pada 1952. Dapat dilihat bahwa Depok masih menjadi daerah otonom dengan roda pemerintahannya sendiri, bahkan ketika Indonesia telah merdeka. Depok enggan untuk bergabung dengan NKRI karena sudah merdeka jauh sebelum 17 Agustus 1945.

Akibat dari penolakan Depok yang tidak ingin jadi bagian dari Indonesia memicu sebuah peristiwa, kini dikenal sebagai Gedoran Depok. Istilah “gedoran” itu sendiri merupakan aksi atau tindakan keras dengan tujuan untuk membuat ketakutan. Pamor dari sebutan tersebut naik daun pasca kemerdekaan yang juga meningkatnya jiwa nasionalisme banyak orang. Sehingga, agenda utamanya adalah menyerang segala hal atau tempat yang erat kaitannya dengan masa kolonial, baik itu yang berbau Belanda ataupun Jepang.

Dan NICA pun tiba

Meskipun terjadi di berbagai tempat, tetapi kuatnya nuansa Belanda di kawasan Depok menjadi salah satu sasaran. Puncak terjadinya Gedoran Depok jatuh pada 11 Oktober 1945. Sekitar 4000 orang masuk ke Depok dan melakukan penghancuran terhadap setiap hal berbau kolonial di sana. Tidak hanya itu, kaum Belanda-Depok pun menjadi sasaran dari penganiayaan, perampokan, dan pembunuhan. Banyak perempuan dan anak-anak yang ditodong dengan senjata. Lalu, banyak laki-laki yang ditangkap dan ditahan di daerah Bogor.

Sebelum hal yang lebih buruk terjadi, NICA tiba di lokasi dan memihak penduduk Depok. Mereka diungsikan dan NICA menahan aksi anarkis serta membebaskan sandera. Setelah dirawat dan diberi makan, mereka diangkut dengan truk ke Kota Paris, Bogor, lalu ke Kedunghalang. Di Bogor, mereka menemukan suami masing-masing yang hampir dibunuh.

Sakit hati dan memilih pergi

Pada akhir 1949, atas izin pemerintah Republik Indonesia, masyarakat Depok diperbolehkan kembali ke daerah asalnya. Mereka punya pilihan: menjadi bagian dari Indonesia atau pindah ke Belanda. Kebanyakan orang memilih opsi kedua. Sakit hati atas penyerangan yang mereka terima menjadi salah satu penyebabnya.

Tiga tahun berlalu, tepatnya pada tanggal 4 Agustus 1952, pemerintah Indonesia secara resmi mencabut status otonom Depok dan menjadikan daerah tersebut sepenuhnya menjadi wilayah Indonesia. Kesepakatan itu dibuat dengan presiden terakhir Depok, Johannes Matheis Jonathans. Kisah status ‘Daerah Istimewa’ yang dimiliki Depok pun tamat.

Sekarang, keturunan asli 12 Marga pembentuk Depok sudah semakin sedikit. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat yang datang dan pergi di setiap sudut Depok. Sekarang, kita tahu bahwa sejarah Depok merupakan sebuah daerah yang terlebih dahulu merdeka, mengalami sebuah “pembubaran”, dan menjadi daerah seperti sekarang ini. Padat penduduk, penyangga Jakarta, serta kota yang nyeleneh.

Penulis: Gabrielle Moses Aipassa
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 8 Tradisi Unik Orang Depok yang Masih Ada, meski Sudah Jarang Dilakukan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 September 2023 oleh

Tags: belandadepokNICAsejarahvoc
Gabrielle Moses Aipassa

Gabrielle Moses Aipassa

Seorang Gen Z dengan latar belakang pendidikan Psikologi. suka dengan kegiatan mental health dan olahraga badminton.

ArtikelTerkait

Membangun Mal Baru di Margonda Depok Cuma Bikin "Penyakit", Mending Bikin Perpustakaan Mojok.co

Menambah Mal Baru di Margonda Depok Cuma Bikin “Penyakit”, Mending Membangun Perpustakaan

16 April 2024
Jangan Hidup di Depok Jawa Barat kalau Nggak Siap Bergelut dengan Transportasi Umum yang Bobrok Mojok.co

Jangan Hidup di Depok Jawa Barat kalau Nggak Siap Bergelut dengan Transportasi Umum yang Bobrok

8 Juli 2024
Kisah Lokomotif Tua yang Teronggok di Depan SMK 2 Jogja yang Ternyata Lokomotif Paling Bersejarah Di Indonesia

Kisah Lokomotif Tua yang Teronggok di Depan SMK 2 Jogja yang Ternyata Lokomotif Paling Bersejarah Di Indonesia

25 Februari 2024
Margonda Depok Medan Tempur Semua Orang: Trotoar Jadi Parkiran, Jalan Jadi Lautan Macet

Setelah 3 Bulan Tinggal di Depok, Saya Sadar Ternyata Depok Itu Indah Jika Bisa Menikmatinya

18 Februari 2025
Keistimewaan Ujungberung, Cikal Bakal Kota Bandung yang Sering Dianggap Wilayah Pinggiran

Keistimewaan Ujungberung, Cikal Bakal Kota Bandung yang Sering Dianggap Wilayah Pinggiran

21 September 2023
Bagi Mahasiswa UI, Sinyal Jelek di Lingkungan Kampus Adalah Makanan Sehari-hari, UKT Elit Sinyal Sulit! depok

Bagi Mahasiswa UI, Sinyal Jelek di Lingkungan Kampus Adalah Makanan Sehari-hari, UKT Elit Sinyal Sulit!

22 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Polban, "Adik Kandung" ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

Polban, “Adik Kandung” ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

18 Januari 2026
6 Keunggulan Surabaya yang Bikin Orang Bangkalan Madura Minder sebagai Tetangganya Mojok.co

6 Keunggulan Surabaya yang Bikin Orang Bangkalan Madura Minder sebagai Tetangganya

20 Januari 2026
Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik Mojok.co

Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik

19 Januari 2026
Mio Soul GT Motor Yamaha yang Irit, Murah, dan Timeless (Unsplash) yamaha mx king, jupiter mx 135 yamaha vega zr yamaha byson yamaha soul yamaha mio

Yamaha Mio, Motor Lama yang Pernah Jadi Puncak Rantai Makanan, Kini Kembali Muncul dan Diburu Banyak Orang

20 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

18 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.