Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jakarta Timur Layak Dimekarkan jadi Jaktim Utara dan Jaktim Selatan, Terlalu Banyak Perbedaan!

Karina Londy oleh Karina Londy
8 Juli 2026
A A
Ini Dia Alasan Orang Jakarta Timur Malas Diajak Main ke Jakarta Selatan

Ini Dia Alasan Orang Jakarta Timur Malas Diajak Main ke Jakarta Selatan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagaimana kalau Jakarta Timur dibagi jadi dua?

Kembali ke Kampus UI Depok sebagai alumni artinya kembali bersinggungan dengan keanehan Kota Depok. Beberapa waktu lalu, saya ketemuan dengan teman-teman lama di sana. Berkat pertemuan itu, saya jadi tahu gebrakan terbaru dari warga Depok. Gebrakannya adalah pembagian Kecamatan Sawangan menjadi dua, yakni Sawangan Kubro dan Sawangan Sugro.

ADVERTISEMENT

Bagi pembaca yang ngerti Bahasa Arab mungkin sudah paham bahwa kubro artinya “besar” sementara sugro artinya “kecil”. Setelah teman saya menjelaskan lebih lanjut, ternyata pembeda antara besar dengan kecil itu hanyalah level kemacetan yang terjadi.

Di Sawangan Kubro, sering banget terjadi kemacetan parah. Sementara Sawangan Sugro macet juga, tapi macet aja. Nggak sampe parah. Ya, begitulah Depok. Sedikit perbedaan saja sampe membuat dualisme wilayah. 

Namun perlu diakui, dualisme yang digagas Depok ini bikin saya memikirkan tempat tinggal saya sendiri, yaitu Jakarta Timur. Di sini lebih banyak lagi perbedaan yang bikin Jaktim layak pula dibagi dua menjadi Jaktim Utara dan Jaktim Selatan.

Jika Jakarta Timur dibelah dua, Bandara Halim jadi tengahnya

Pertama-tama, saya perlu berikan gambaran geografis dari Jakarta Timur. Wilayah ini merupakan kota administrasi paling luas di DKI Jakarta. Seberapa luas? Yah, kira-kira 4 kali lipatnya Jakarta Pusat, tempat Monas berada.

Jaktim bentuknya memanjang dari utara ke selatan. Di utara, batasnya adalah Jakarta Utara. Sementara di selatan, Jaktim langsung bersinggungan dengan Depok, Jawa Barat. 

Hampir persis di tengah-tengah ujung utara dengan selatannya Jaktim, ada Bandara Halim Perdanakusuma. Entah disengaja atau tidak, pertengahan geografis ini pun juga menjadi buffer zone dua wilayah dengan subkultur yang kontras. 

Baca Juga:

Stasiun Cawang adalah kunci untuk tetap waras bagi warga yang sehari-hari naik KRL Depok-Jakarta

Ironi Karawang: bikin pusat perbelanjaan, tapi pinjem nama Jakarta karena nggak pede

Ambil contoh Kecamatan Matraman, Jatinegara, dan Cakung yang berada di sebelah utara Bandara Halim. Bandingkan dengan wilayah di selatan bandara seperti Cipayung, Ciracas, dan Pasar Rebo. Bagi yang pernah mengunjungi masing-masing satu kecamatan saja dari kedua kutub Jaktim, pasti bisa merasakan perbedaannya.

Jadi, meski yang terkenal sebagai Timur Tengah-nya Jakarta adalah Condet, tapi Halim lah timur bagian tengah yang sejati!

Kultur Jakarta Timur bagian utara itu sibuk dan khas kawasan industri banget 

Sobat saya yang ber-KTP Jaktim utara pernah nyeletuk, “Intisari dari Jaktim itu apa sih? Siapa yang paling berhak mewakili timur?” 

Kebingungan dia valid, persona orang Jakarta Timur memang terlalu beragam. Dibandingkan dengan wilayah Jakarta lainnya, menentukan stereotip dari Jaktim itu yang paling sulit.

“Ada timur yang terlalu pusat, ada yang terlalu Bekasi, ada pula yang terlalu Bogor,” lanjutnya.

Maksud dari terlalu pusat adalah wilayah Jaktim yang berbatasan langsung dengan Jakarta Pusat. Wilayah ini terkesan sibuk, penting, dan bersejarah. 

Seperti Jatinegara, yang diabadikan Ismail Marzuki dalam lagu legendarisnya Juwita Malam. Daerah sibuk ini dipenuhi orang berlalu-lalang di stasiun kereta antarkotanya. Juga sudah terkenal sejak jaman kolonial sebagai Meester Cornelis. Kurang bersejarah apalagi itu?

Jaktim yang terlalu Bekasi, maksudnya menyasar ke daerah Cakung dan Duren Sawit. Isinya campuran kawasan industri dan pemukiman. Suasananya padat, gersang, dan agak semrawut. Jalan Raya Kalimalang yang aneh itu letaknya di sini. 

Orang-orang yang hanya pernah ke Jaktim versi ini, pasti cuma punya ulasan buruk. Yaaa, mirip-mirip sama pengalaman yang didapat kalau ke Planet Bekasi lah.

Kultur bagian selatan isinya santai dan agak slow living

Sekarang kita geser ke selatan, ke Jaktim yang terlalu Bogor. Sebetulnya, seperti yang saya sebut di atas, batas selatan Jaktim adalah Depok. Jadi Bogor yang dimaksud di sini bukan merujuk pada nama geografis, melainkan pada suasana.

Rindang, tempat piknik, dan kalau hujan barang sedikit saja rasanya sejuk seperti di Bogor. Itulah Jaktim bagian selatan. Kalau lagi di sini, bawaannya pengen santai mulu. Kalaupun beraktivitas, paling banter ngajak keponakan ke Taman Mini di Cipayung, atau jalan pagi di Bumi Perkemahan Cibubur.

Wilayah ini pun sering “diledek” sebagai kampung. Cukup beralasan sih, sebab di sini masih banyak hutan kota serta ladang. 

Alasan lain Jaktim selatan dicap kampung adalah karena masyarakatnya masih guyub. Ada seorang ilustrator yang menggambarkan tiap wilayah di Jakarta sebagai bapak-bapak usia 30 tahunan. 

Penggambarannya atas Jakarta Timur tuh mengacu secara presisi ke warga yang bermukim di wilayah Jaktim selatan ini. Bapak-bapak ramah yang selalu hadir kalau ada hajatan tetangga.

Warga bagian utara nggak familiar sama selatan, begitu pula sebaliknya

Kalau tanya orang tinggal di mana dan ia menjawab Jakarta Timur, wajib hukumnya untuk lanjut nanya sampai kamu mendapat jawaban spesifik. Soalnya, kelanjutan topik obrolanmu ditentukan dari jawaban yang spesifik itu.

Orang Jaktim bagian selatan seperti saya nggak bakal bisa diajak basa-basi tentang kuliner BKT (Banjir Kanal Timur). Sementara warga Jaktim bagian utara pun susah nyambung kalau diajak ngobrol tentang batas wilayah Cibubur yang nggak jelas itu. 

Dari pengalaman pribadi, saya memang hampir tidak pernah melintas buffer zone Bandara Halim itu ke utara. Kalaupun melintas, biasanya hanya untuk membereskan urusan di Samsat Jaktim. Atau sesekali mengembalikan buku ke Perpus Jakarta Timur di Jatinegara.

Praktisnya, saya cuma tahu tempat-tempat di Jaktim utara yang berkaitan sama administrasi. Saya nggak tahu banyak tentang tempat nongkrongnya apalagi jalan-jalan tikus di sana. Menyetir di Jalan Raya Kalimalang pun saya sama bingungnya seperti orang yang dari luar Jaktim.

Sebaliknya, teman-teman saya yang asal Jaktim utara sebagian besar buta sama wilayah tempat saya tinggal. Salah seorang dari mereka bahkan pernah bilang, “Gua kira tempat lu tinggal ini cuma kebon-kebon, nggak ada pemukimannya,”

Jaktim mesti dibelah dua, karena toh utara dengan selatannya kurang terkoneksi 

Baik warga Jaktim utara maupun selatan saling terasing dari satu sama lain itu bukan tanpa alasan. Masalahnya, akses antara dua kutub ini memang kurang terkoneksi. Makanya usul saya, sekalian aja diresmikan jadi dua wilayah yang berbeda.

Bagi saya yang tinggal di Cipayung, Jaktim selatan, jauh lebih mudah untuk pergi ke pusat bisnis di Senayan, Jakarta Selatan. Daripada saya pergi ke Duren Sawit di Jaktim utara.

Untuk ke Senayan, saya hanya perlu duduk manis di Transjakarta tanpa transit. Ketiduran di jalan pun nggak masalah. Namun untuk ke Duren Sawit, udah lah, mending langsung ojek aja.

Nggak heran sih. Jaringan transportasi umum di Jakarta memang lebih fokus pada komuter yang asal ataupun tujuannya adalah pusat bisnis seperti di Sudirman-Thamrin. 

Padahal, di usianya yang nyaris 500 tahun ini, udah waktunya nggak sih Jakarta mikirin mobilisasi antar pinggiran kota? Kalau menunda terus, ya Jaktim akan selamanya “terpecah” jadi dua.

Penulis: Karina Londy
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Seandainya Stasiun Cikarang Nggak Pernah Ada, Ini yang Akan Terjadi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: bandara halimCipayungdepokjakarta pusatJakarta Timurjaktim selatanjaktim utara
Karina Londy

Karina Londy

Lulusan komunikasi yang bekerja di industri penerbangan. Fotografer dan pegiat olahraga alam bebas. Pengelola taman baca swadaya di Jakarta Timur.

ArtikelTerkait

parkir syariah

Tiga Alasan Kenapa Parkir ‘Syariah’ Itu Penting

14 Juli 2019
4 Alasan Duren Sawit Jadi Daerah Ternyaman di Jakarta Timur yang Kacau, Cocok Dijadikan Tempat Tinggal Mojok.co

Jakarta Timur: Sering Diledek Jakarta Coret Gara-gara Keliatan Paling Beda, padahal Itu Cuma Perkara Mindset

14 Februari 2025
Penanganan Stunting yang Kerap Bikin Pusing: Sampai Kapan Negara Tega pada Anak-anak? depok

Penanganan Stunting yang Kerap Bikin Pusing: Sampai Kapan Negara Tega pada Anak-anak?

18 November 2023
Depok Nggak Cuma Margonda, Ada Juga Cinere yang Selama ini Dianaktirikan  Mojok.co

Depok Nggak Cuma Margonda, Ada Juga Cinere yang Selama ini Dianaktirikan 

17 Mei 2024
Perbedaan dan Persamaan Bahasa Betawi di Jakarta dan Depok terminal mojok.co

Perbedaan dan Persamaan Bahasa Betawi di Jakarta dan Depok

1 Februari 2022
Sisi Gelap Budak Elite di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta (Unsplash)

Sisi Gelap Budak Korporat di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta: Ketika Pekerja Menggadai Kewarasan demi Terlihat Elite

20 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebodohan pembeli soto ayam yang bikin saya muak dan jijik (Wikimedia Commons)

Akulah pelanggan soto ayam yang marah itu gara-gara konsumen nggak punya hati yang bikin muak, mual, dan jijik

26 Juli 2026
Stasiun Cawang adalah kunci warga untuk tetap waras sehari-hari naik KRL Depok Jakarta Mojok.co

Stasiun Cawang adalah kunci untuk tetap waras bagi warga yang sehari-hari naik KRL Depok-Jakarta

23 Juli 2026
Sebaiknya para pejabat berhenti bawa-bawa Jawa Timur untuk tameng atas gaya bicara yang arogan

Sebaiknya para pejabat berhenti bawa-bawa Jawa Timur untuk tameng atas gaya bicara yang arogan

23 Juli 2026
Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa Mojok.co

Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa

28 Juli 2026
Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang banjir di semarang

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

27 Juli 2026
Nasib apes mahasiswa tanggung, susah dapat beasiswa karena kebanyakan untuk mahasiswa kurang mampu Mojok.co

Nasib apes mahasiswa tanggung, susah dapat beasiswa karena kebanyakan untuk mahasiswa kurang mampu

26 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.