Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

Irpan Maulana Arip oleh Irpan Maulana Arip
17 Juli 2026
A A
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang Sunda, saya sudah terlalu sering mendengar lelucon yang bilang kalau orang Sunda itu pemalas. Versi lain yang lebih pedas, cowok Sunda itu katanya pemalas, maunya nongkrong di warung kopi sambil ngelamun melihat gunung.

Kalau sudah begitu, rasanya tinggal menunggu ada yang menyimpulkan kalau kami bisa hidup hanya dengan menghirup udara Lembang. Lucunya, stereotipe itu terus hidup seolah-olah menjadi fakta ilmiah.

Padahal, kalau dipikir-pikir, siapa juga yang bisa bertahan hidup cuma modal santai? Harga beras naik, tagihan internet datang tiap bulan, cicilan motor tidak bisa dibayar pakai senyum. 

Orang Sunda juga bekerja, mengejar target, kuliah, berbisnis, bahkan merantau ke kota-kota besar. Bedanya, kami tidak merasa perlu menjadikan kelelahan sebagai pencapaian hidup.

Entah sejak kapan budaya kerja berubah menjadi perlombaan siapa yang paling sengsara. Sekarang orang merasa keren kalau pulang kantor jam sembilan malam. Bangga kalau grup WhatsApp kantor masih aktif jam sebelas malam. Tidur empat jam dianggap dedikasi.

Bahkan, ada yang mengunggah foto laptop di rumah sakit sambil berkata, “Kerja dulu, nanti juga sembuh.” Kalau dipikir-pikir lagi, aneh juga ya.

Orang Sunda paham cara menjaga keseimbangan hidup

Kita hidup di zaman ketika burnout dianggap konsekuensi profesionalisme. Semakin lelah seseorang, semakin dianggap sukses. Semakin tidak punya waktu untuk keluarga, semakin dipuji sebagai pekerja keras.

Seolah-olah kualitas hidup harus dikorbankan demi presentasi PowerPoint yang minggu depan mungkin sudah direvisi lagi.

Baca Juga:

Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL

Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma

Nah, di titik inilah stereotipe tentang orang Sunda menjadi menarik. Apa yang sering disebut “malas” sebenarnya lebih mirip sikap yang berusaha menjaga keseimbangan hidup. 

Orang Sunda bukan tidak mau bekerja keras. Kami paham betul bahwa hidup butuh ikhtiar. Sawah tidak akan panen sendiri, dagangan tidak akan laku kalau cuma didoakan, dan skripsi jelas tidak akan selesai kalau hanya disimpan di folder bernama “Final Fix Revisi Beneran.”

Akan tetapi, bekerja keras bukan berarti harus menghancurkan diri sendiri.

Dalam keseharian masyarakat Sunda, ada kebiasaan yang sering dianggap remeh: menyempatkan bercanda atau heureuy di sela pekerjaan. Di kantor, di kebun, di warung, bahkan saat gotong royong, selalu ada ruang untuk tertawa.

Dari luar mungkin terlihat seperti banyak mengobrol. Padahal justru itulah cara menjaga semangat agar pekerjaan tetap terasa ringan.

Sekarang coba bandingkan dengan budaya kerja modern. Banyak orang duduk delapan jam di depan layar tanpa jeda. Lalu mereka heran sendiri mengapa pikirannya penuh, emosinya pendek, dan tubuhnya mulai protes. 

Barangkali yang kurang bukan tambahan kopi, melainkan tambahan waktu untuk menarik napas.

Belajar dari orang Sunda

Budaya Sunda sebenarnya menyimpan banyak nilai tentang etos kerja yang sering luput dibicarakan.

Salah satunya tercermin dalam pepatah “cageur, bageur, bener, pinter, tur singer”. Artinya kurang lebih,  menjadi manusia yang sehat, baik, benar, cerdas, sekaligus terampil. 

Menariknya, urutan pertama bukan “kaya” atau “sibuk”, melainkan cageur atau sehat. Pesannya sederhana: apa gunanya pekerjaan hebat kalau tubuh dan pikiran sudah tumbang lebih dulu?

Ada pula semangat gotong royong yang membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan karena dikerjakan bersama. Filosofi ini mengajarkan bahwa keberhasilan bukan sekadar soal siapa yang paling cepat, tetapi bagaimana semua orang bisa sampai ke tujuan tanpa saling meninggalkan.

Karena itu, kalau ada orang Sunda yang memilih pulang tepat waktu setelah pekerjaannya selesai, jangan buru-buru diberi label pemalas. Bisa jadi dia hanya paham bahwa hidup tidak berhenti di meja kerja. 

Bagi mereka, masih ada keluarga yang menunggu di rumah dan teman yang mengajak ngopi. Masih ada pula waktu menikmati hujan sore sambil makan gorengan hangat tanpa dihantui notifikasi rapat dadakan.

Ironisnya, dunia sekarang justru mulai mengampanyekan konsep yang selama ini dianggap “kemalasan” ini. Istilahnya berubah menjadi work-life balance, mental well-being, sampai quiet quitting. 

Seminar tentang kesehatan mental bermunculan di mana-mana. Perusahaan mulai menyediakan hari kesehatan mental bagi karyawannya. Padahal, kalau dipikir-pikir, banyak orang Sunda sudah mempraktikkan ritme hidup seperti itu sejak lama tanpa perlu memberi nama keren dalam bahasa Inggris.

Melihat kembali cara melihat kesibukan

Bukan berarti semua kebiasaan santai harus dibenarkan. Bermalas-malasan tanpa tanggung jawab tentu berbeda dengan bekerja secara sehat. 

Orang Sunda juga mengenal pentingnya disiplin, tanggung jawab, dan kesungguhan. Santai bukan alasan untuk mengabaikan kewajiban. Justru karena pekerjaan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, waktu istirahat bisa dinikmati tanpa rasa bersalah.

Mungkin yang perlu diubah bukan cara hidup orang Sunda, melainkan cara kita memandang kesibukan. Sebab, sibuk bukan selalu berarti produktif. Lembur bukan otomatis berarti berkinerja tinggi. Dan, wajah yang terlihat lelah juga bukan medali kehormatan.

Barangkali sudah waktunya kita berhenti mengukur etos kerja dari seberapa sering seseorang mengeluh capek.

Bisa saja orang yang pulang tepat waktu justru menyelesaikan pekerjaannya lebih efektif daripada mereka yang setiap malam masih berkutat dengan laptop. Bisa saja orang yang sempat heureuy lima belas menit memiliki pikiran yang lebih segar saat mengambil keputusan penting.

Jadi, kalau masih ada yang bilang orang Sunda itu pemalas, mungkin mereka hanya belum memahami bahwa menikmati hidup bukan musuh dari kerja keras.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar target tanpa garis akhir, menjaga kesehatan mental, tertawa bersama, dan memberi ruang untuk diri sendiri justru menjadi bentuk kedewasaan yang semakin langka.

Penulis: Irpan Maulana Arip
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Sisi Lain dari Orang Sunda yang Murah Senyum. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2026 oleh

Tags: burnoutdunia kerjaJawa Baratkerjaorang sundaSunda
Irpan Maulana Arip

Irpan Maulana Arip

ArtikelTerkait

Percayalah, Ditolak Internship Rasanya Lebih Sakit

Percayalah, Ditolak Internship Rasanya Amat Menyakitkan

28 Agustus 2022
Simpang Dago, Neraka di Tengah Romantisnya Kota Bandung

Tiap Sudut Kota Bandung Romantis, kecuali Simpang Dago

12 Juli 2024
Cikarang Tak Kalah Aneh dari Purwokerto, Daerah Ini Lebih Sulit Dipahami

Cikarang Tak Kalah Aneh dari Purwokerto, Daerah Ini Malah Lebih Sulit Dipahami

16 Januari 2025
Menata Ulang Kawasan Gedung Sate Bandung Adalah Hal yang Sia-Sia Mojok.co

Menata Ulang Kawasan Gedung Sate Bandung Adalah Hal yang Sia-Sia

21 November 2025
Contoh Perumpamaan dalam Bahasa Sunda yang Bisa Digunakan mntuk Mencela terminal mojok.co

Contoh Perumpamaan dalam Bahasa Sunda yang Bisa Digunakan untuk Mencela

18 Februari 2021
Kabupaten Bogor yang Membuat Salah Paham Orang Kudus (Unsplash)

Fakta Kabupaten Bogor: Jauh dari Pusat Kota dan Membuat Beberapa Orang Kudus Kenalan Saya Jadi Salah Paham

21 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau? (Unsplash)

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

15 Juli 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Sleman semakin mahal, tetapi narasi kota mahasiswa murah tetap dipelihara

15 Juli 2026
5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal

5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal, salah satunya bikin malu saja

11 Juli 2026
Lomba Kebersihan Kampung di Jogja Hanya Berefek Sesaat, Saat Lomba Mendadak Bersih, Selesai Lomba Kembali ke Setelan Pabrik

Lomba kebersihan kampung di Jogja hanya berefek sesaat, saat lomba mendadak bersih, selesai lomba kembali ke setelan pabrik

13 Juli 2026
Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan Terminal

Orang desa paham prioritas, nggak tergoda beli mobil murah seharga motor, lebih pilih motor mahal dan bagus karena kebutuhan

15 Juli 2026
Nuduh semua fans Argentina pendukung zionis itu memang tolol (Unsplash)

Cacat logika menuduh fans timnas Argentina sama dengan mendukung zionis

12 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.