Dulu, saya termasuk orang yang tanpa sadar ikut meremehkan kuliah di Universitas Terbuka. Bukan karena pernah mencoba atau benar-benar tahu sistemnya, tapi karena terbiasa melihatnya sebelah mata seperti kebanyakan orang. Dalam bayangan saya, kuliah itu harus datang ke kampus, duduk di kelas, punya suasana yang bisa diceritakan. Kalau tidak seperti itu, rasanya ada yang kurang. Dari situ, penilaian sederhana muncul: berarti kualitasnya juga berbeda.
Juga, ada anggapan bahwa kuliah itu mahal. Makin mahal, makin baik. Itu berkaitan dengan gengsi, yang muncul dari anggapan bahwa yang berkualitas itu pasti mahal. Hasilnya, apa-apa yang dianggap terjangkau, bikin kualitasnya turun tiba-tiba, hanya karena perkara angka, ia tak menyilaukan mata. Saya pun sama.
Sampai akhirnya saya kenal Universitas Terbuka lebih dekat. Kesan pertama saya biasa saja, bahkan cenderung meremehkan. Tidak ada rutinitas datang ke kampus, tidak ada suasana kelas yang bisa diceritakan, dan tidak ada hal-hal yang biasanya dianggap sebagai “kehidupan mahasiswa”. Rasanya seperti ada yang kurang.
Tapi ternyata, yang kurang itu bukan di sistemnya. Yang kurang itu di cara saya melihatnya.
Kuliah di Universitas Terbuka sambil kerja
Saya menjalani kuliah di Universitas Terbuka sambil kerja. Dan di situ baru terasa, kuliah itu tidak selalu soal idealisme. Tidak semua orang punya waktu untuk duduk di kelas dari pagi sampai sore. Tidak semua orang punya kemewahan untuk fokus belajar tanpa memikirkan hal lain.
Sudah lebih dari setahun saya menjalaninya. Ritmenya memang berbeda, tapi bukan berarti asal-asalan. Ada proses yang tetap dijalani, ada tanggung jawab yang tidak bisa dihindari. Dari situ saya mulai merasa bahwa apa yang didapatkan nanti juga sepadan dengan gelar yang diperoleh.
Fleksibilitas yang ditawarkan bukan sekadar kelebihan, tapi kebutuhan. Waktu bisa diatur, belajar bisa menyesuaikan, dan biayanya jauh lebih masuk akal. Ini solusi yang amat realistis mengingat pendidikan kini dianggap komoditi, yang bikin harganya makin tak masuk akal.
Masalahnya, pilihan seperti ini sering dipandang sebelah mata. Saya tidak bisa bilang wajar, karena memang apa-apa tentang Universitas Terbuka yang dipahami orang-orang hanya stigmanya saja. Beda jika kita bicara kampus lain, UGM misal, yang terkenal karena banyak hal. Padahal tak berarti UT itu medioker. Realitasnya, tidak sama sekali, hanya saja orang belum tahu hingga inti.
Penyumbang ASN terbanyak
Menariknya, di balik semua stigma, ada fakta yang jarang dibicarakan. Universitas Terbuka justru menjadi salah satu kampus dengan jumlah lulusan terbanyak yang berhasil lolos sebagai ASN, dengan lebih dari 9.400 orang yang pernah menempuh pendidikan di UT lolos jadi ASN.
Angka itu tidak kecil. Kampus lain belum tentu bisa menyumbang angka yang sama. Lalu, kalau sudah seperti ini, apanya yang dianggap rendah?
Universitas Terbuka masih dipandang sebelah mata, tapi saya yakin, dalam waktu yang tak begitu lama, justru Universitas ini jadi pilihan paling masuk akal bagi orang-orang. Kuliahnya murah, kampusnya fleksibel, materinya nggak jelek, lulusannya dapet kerja. Lalu, mananya yang mau dianggap rendah?
Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















