Review 'Wonder Woman 1984' yang Ternyata Mirip Misteri Ilahi Indosiar – Terminal Mojok

Review ‘Wonder Woman 1984’ yang Ternyata Mirip Misteri Ilahi Indosiar

ArtikelFeatured

Avatar

Sewaktu nonton Wonder Woman 1984, saya berkali-kali tepuk tangan, terpukau, mbrebes mili, dan mesem-mesem lihat Mbak Gal Gadot. Setelah film kelar dan pulang ke kos-kosan sekalipun saya masih mikir kalau Wonder Woman 1984 adalah film yang sangat luar biasa. Sampai pada akhirnya saya kepikiran, kok rasa-rasanya plot di film garapan Patty Jenkins itu kayak nggak asing.

Tulisan berikutnya akan mengandung sedikit spoiler, bersiaplah, Mylov~

Plot di film Wonder Woman 1984 itu simpel banget. Ada sebuah batu yang bisa mengabulkan keinginan, tetapi setelah keinginan terkabul, si peminta bakal kehilangan sesuatu. Seorang pengusaha minyak yang nyaris bangkrut dan penyakitan bernama Maxwell Lord berusaha mendapatkan batu itu biar bisa sukses. Saya langsung kepikiran konsep pesugihan di gunung sempu. Biasanya kan yang semedi nyari pesugihan dan berhasil sugih, bakal mengalami kehilangan entah itu nyawa anak, nyawa istri, atau malah pemangkasan masa hidup diri sendiri.

Maxwell juga gitu. Bedanya, alih-alih dia semedi tujuh hari tujuh malam di makam-makam angker, dia malah berusaha keras nyari batu legendaris yang keberadaannya sering berpindah-pindah itu. Asli, mencari batu misterius itu susah dan membutuhkan waktu. Ada baiknya si Maxwell itu terbang ke Indonesia dan nyari dukun paling sakti biar cepet kaya.

Tetapi, karena Maxwell ini sangat optimis dan pantang menyerah, akhirnya blio mendapatkan batu itu juga setelah berhasil nyolong dari museum tempat kerjanya Diana Prince, si Wonder Woman itu.

Diana sendiri pernah pakai batu itu secara nggak sengaja. Pas megang-megang batunya, dia mbatin pengin Steve Trevor, pacarnya yang dulu mati di akhir film Wonder Woman, buat hidup lagi. Ternyata kejadian beneran. Sebagai gantinya, Diana kehilangan kekuatan supernya. Ah, tapi apalah arti kekuatan super dibandingkan dengan mesra-mesraan sama pujaan hati kan ya?

Di sisi lain, Maxwell setelah mendapat batu itu, alih-alih minta cepet kaya dan sehat—yang bisa bikin Wonder Woman 1984 selesai seketika itu juga—Maxwell malah minta sesuatu yang bikin tepok jidat. Dia meminta agar menjadi kayak batu itu sendiri. Asli, Maxwell ini gegabahnya nggak ketulungan.

Maksudnya, kalimat “aku ingin menjadi sepertimu (batu)” itu kan multitafsir ya. Jauh lebih multitafsir dibandingkan ucapan Jokowi saat bilang vaksin Covid-19 bakalan gratis. Itu, kalau batunya iseng, si Maxwell justru jadi batu yang beneran batu. Kan nggak heroik, wong nggak durhaka ke orang tua, eh malah nasibnya kayak Malin Kundang yang dikutuk jadi batu. Atau mentoknya si batu agak bernalar sedikit, si Maxwell bakal punya tubuh penuh batu kayak The Thing di serial Fantastic 4 gitu.

Tapi, lucunya, si batu tahu benar yang diinginkan Maxwell. Si batu mengabulkan keinginan agar Maxwell punya kemampuan kayak dirinya. Ini juga berbahaya sebenarnya. Masa orang terpelajar kayak Maxwell nggak pernah baca kisah Aladdin dan lampu ajaib sih? Kan si Jafar meminta dirinya jadi Jin pengabul keinginan di akhir kisah dan justru berujung petaka bagi Jafar sendiri.

Nah, yang dilakuin Maxwell itu sama aja kayak si Jafar. Blio pengin punya kekuatan kayak si batu. Jadi, blio bisa mengabulkan banyak permintaan klien-kliennya dengan catatan bakal ngambil sesuatu milik klien, entah itu kesehatan, kekuasaan, kekuatan, atau sebatas pengawal-pengawalnya.

Dari seorang pengusaha minyak yang nyaris bangkrut, Maxwell mencari pesugihan, dan akhirnya menjelma jadi dukun pesugihan itu sendiri. Sampai akhirnya praktik mengabulkan keinginan itu menggemparkan dunia karena banyak keinginan yang dikabulkan. Si Maxwell lantas menemui presiden Amerika dan tanya apa yang diinginkan Pak Presiden. Alih-alih minta bisa menjabat berpuluh-puluh tahun seperti Soeharto dan bisa melakukan banyak hal termasuk korupsi-kolusi-nepotisme, presiden Amerika malah minta senjata nuklir yang lebih banyak buat ngalahin Rusia.

Sebagai gantinya, Maxwell minta pengaruh, kekuasaan, dan keamanan dari gedung putih. Blio lantas terbang menuju pangkalan penyiaran televisi rahasia milik Amerika yang bisa membajak semua salurun TV di seluruh dunia. Maxwell lantas melakukan live streaming dan menyapa seluruh warga dunia, yang herannya kok seluruh dunia bisa langsung mudeng bahasa Inggris.

Melalui live streaming itu, Maxwell bakal mengabulkan semua keinginan siapa saja yang menonton acara itu. Iya, lagi-lagi saya bingung bagaimana orang Jepang, China, Arab, Indonesia sekalipun, mudeng yang diomongin Maxwell. Pun gimana Maxwell mudeng bahasa mereka juga mbuh piye ceritane.

Setelah terjadi kekacauan karena banyak keinginan manusia dikabulkan, juga ketika perang nuklir hampir kejadian, Wonder Woman tau caranya buat mengakhiri semuanya. Caranya simpel banget, tinggal bilang mau nyabut permintaan, maka segalanya berakhir sudah. Iya, konflik berdarah-darah hanya bakal berakhir dengan menarik permintaan. Akhirnya setelah Mbak Diana menarik permintaan dan bikin Steve Trevor mati lagi, kekuatannya pulih. Mbak-mbak dengan senyuman aduhai ini langsung lompat sana lompat sini buat gabung ke acara live streaming si Maxwell.

Pas ngebut pengin gabung live streaming, Diana menunjukkan kemampuan barunya. Dengan tali laso kinclong-kinclongnya, dia bisa nyabet geledek dan bergelantungan dari geledek ke geledek. Itu, kalau Spiderman tahu, dia pasti nangis berhari-hari dan mutung nggak mau jadi superhero lagi. Reputasinya sebagai ahli gelayutan dari gedung ke gedung dihancurkan sama Mbak Diana yang bisa gelayutan dari geledek ke geledek.

Setelah aksi bergelayutan pakai geledek itu, mbak Diana sampai ke tempat live streaming. Setelah gelud dengan prajurit biasa, dilanjutkan dengan gelud melawan mantan temennya yang sudah berwujud Cheetah dan malahan mirip Taylor Swift di film Cats itu, Diana nemuin Maxwell yang lagi bagi-bagi giveaway ke penduduk bumi.

Gagal berkali-kali mendekati Maxwell dan jatuh tak berdaya, Diana menggunakan jurus andalan terakhirnya. Dia berkhotbah dan minta Maxwell tobat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah film superhero, teknik Bacot no Jutsu ala Naruto dilakukan. Diana berkhotbah, ibarat Naruto menyadarkan Nagato. Atau kalau mu pake kearifan lokal ya ibarat pak ustaz yang menyadarkan si dukun pesugihan biar tobat. Hasilnya? Berhasil dong. Asli, saya shock berat. Kisah heroik di Wonder Woman 1984 diakhiri dengan Bacot no Jutsu dan membuat Maxwell langsung menarik permintaannya. Setelah Maxwell menarik permintaan, dunia langsung adem ayem.

Asli, dengan akhir seperti itu, yang sewaktu nonton saya terkagum-kagum, setelah pulang ke kos dan merenung, saya pengin misuh-misuh. Jingan, Wonder Woman 1984 itu film superhero atau serial Misteri Ilahi yang sering dibintangi Temmy Rahadi dan Revi Mariska di Indosiar itu sih?

Sumber gambar: YouTube hollywoodstreams

BACA JUGA Di YouTube, Saya Lebih Suka Suara Musisi Versi Konser daripada Rekaman Studio dan tulisan Riyanto lainnya.

Baca Juga:  Mie Kober, Mie Gacoan, dan Mie Sakera: Mana yang Lebih Digandrungi Anak Muda Jember?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
24


Komentar

Comments are closed.