Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Review ‘Lily of The Valley’, Potret Dilema Ibu Tunggal yang Juga Seorang Perempuan

Maria Monasias Nataliani oleh Maria Monasias Nataliani
29 Januari 2021
A A
Review 'Lily of The Valley', Potret Dilema Ibu Tunggal yang Juga Seorang Perempuan terminal mojok.co

Review 'Lily of The Valley', Potret Dilema Ibu Tunggal yang Juga Seorang Perempuan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari lalu saya memutuskan menonton satu film dari situs streaming legal film Indonesia, Bioskop Online. Judulnya Lily of The Valley. Kisahnya dituturkan dalam medium short film berdurasi 45 menit besutan sutradara Giovanni Junius Rustanto yang juga berperan sebagai scriptwriter film ini.

Buat saya, Lily of The Valley adalah karya Giovanni Rustanto yang pertama kali saya tonton. Dari ketidaktahuan saya terhadap karya-karyanya, saya justru jadi lebih penasaran dan merasa tertarik. Ditambah dengan prestasi film ini yang sudah wira-wiri duluan di festival film luar negeri. Seperti kemenangannya dalam Gold Rami Award pada Worldfest Houston International Film Festival. Selain itu, Lily of The Valley juga tayang di Urban World Film Festival dan Raices Festival Internacional de Cine de Chivilcoy, Argentina.

ADVERTISEMENT

Film bergenre drama ini mengisahkan problem dilematik seorang ibu tunggal bernama Rita (Imelda Therinne) pada momen perayaan ulang tahun anak tunggalnya, Lily (Adhisty Zara). Dikisahkan kalau Rita dengan suaminya, John (Andryanto) telah bercerai. John dan Rita kini punya pasangan masing-masing. John bersama Sarah (Shindy Huang), sementara Rita punya pacar baru yang tampak lebih muda dari John, yakni Daniel (Farish Nahdi). Pada perayaan ulang tahun ke-18 Lily, Rita mengundang John, Sarah, dan Daniel ke rumahnya. Lengkap dengan nenek Lily atau ibunya Rita yang diperankan oleh Rini Harsono. Dan datang pula sahabat Lily bernama Jasmine (Dwi Indah).

Konflik bermula ketika secara nggak sengaja, Rita menemukan chat mengejutkan dari Jasmine di ponsel Lily. Chat itulah yang mengusik ketenangan Rita, menghancurkan suasana hatinya sepanjang hari itu. Di film ini, Giovanni seperti ingin menunjukkan konflik batin yang bisa terjadi pada ibu tunggal. Di luar tantangan yang dialami, sosok ibu tunggal kerap dihadapkan dengan masalah terkait statusnya sebagai seorang perempuan.

Film Lily of The Valley ini berhasil menangkap kegundahan seorang perempuan, menghidupi peran majemuk yang melekat padanya. Sementara di sisi lain, seorang perempuan juga selayaknya berjuang untuk kebahagiaan diri sendiri. Keriweuhan ini mampu digarap Giovanni Rustanto nyaris mulus, tanpa cacat.

Meskipun setting tempatnya hanya di satu rumah, film ini justru berhasil menimbulkan kesan intimate antar karakternya. Tipe shot yang digunakan di sini juga sama sekali nggak membosankan. Penonton akan disuguhi tipikal shot seperti pada poster film ini dimana kita bisa melihat Rita di balik jendela dapur. Bahkan, di satu scene, penonton akan mendapatkan long take yang akan mewarnai segmen klimaks pada film ini. Satu aspek lagi yang menarik dari segi teknis adalah colouring yang disesuaikan dengan perasaan si tokoh utama, Rita.

Di film ini, Imelda Therinne bisa dibilang sangat sukses menghidupkan karakter Rita. Olah perannya benar-benar membuat saya terkesima. Seolah kegundahan itu ia tunjukkan dengan porsi yang pas. Seluruh mimik dan gerak-geriknya sukses menyampaikan apa yang sedang dirasakan karakter Rita. Adhisty Zara juga semakin melengkapi film ini dengan aktingnya yang segar, manja, dan girly. Cocok buat “Lily” dengan segala dinamikanya sebagai ABG. Potret Lily di sini mengingatkan saya pada tokoh Lolita pada film berjudul sama, meskipun tidak se-ekstrem itu.

Overall, film ini menawarkan tema yang berbeda. Sebuah melodrama yang digarap dengan begitu apik. Kekurangan yang ada di film ini sebetulnya nggak terlalu kentara. Misalnya, saat sang nenek pertama kali menyapa Lily, dialog pada bagian itu terasa agak kaku dan seharusnya bisa lebih cair lagi. Untuk yang lain, sih, sesuai selera, ya. Ada yang bilang durasi segini masih bisa dipanjangin dalam rangka pengembangan karakter. Namun, kalau menurut saya, cerita Lily of The Valley sudah tepat dikemas dalam medium short film. Hanya saja, memang bagian resolusi yang menurut saya bisa ditambah sedikit lebih lama, meskipun pas saya nonton sih tetep oke-oke saja.

Baca Juga:

Review Elvis: Menyorot Sisi Kelam Sang King of Rock and Roll

Review Death on The Nile: kok Kayak Sinetron?

Nah, itu tadi review saya untuk film Lily of The Valley karya Giovanni Rustanto. Film bergenre drama asal negeri sendiri ini akan membuka mata kita pada konflik tak kasat mata, yang unik dan cukup menarik. Selamat menonton.

BACA JUGA Rekomendasi Film Korea Selatan Terbaik Karya 3 Sutradara Perempuan dan tulisan Maria Monasias Nataliani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2021 oleh

Tags: ibu tunggalLily of The ValleyReview Film
Maria Monasias Nataliani

Maria Monasias Nataliani

Part-time writer. Full-time doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano.

ArtikelTerkait

Maid: Kisah Ibu Tunggal Korban KDRT yang Tunjukkan Manusia Bisa Sehoror Itu

15 Oktober 2021
Opini Julia Suryakusuma terhadap Film ‘Tilik’ Berbau Kolonialisme Gaya Baru feminisme terminal mojok.co

Tidak Ada yang Salah dari Kritik Film Tilik Melalui Kacamata Feminisme

24 Agustus 2020
Keramagz, Channel YouTube Review Film yang Bikin Kita Serasa Jadi Sutradara terminal mojok.co rekomendasi channel YouTube review film

Keramagz, Channel YouTube Review Film yang Bikin Kita Serasa Jadi Sutradara

3 Oktober 2020
spider-man: no way home

Beberapa Hal yang Membuat Spider-Man: No Way Home Terasa Cacat (Bagian 1)

20 Desember 2021
Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka) adalah Anime Paling Bikin Sakit Hati

Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka) adalah Anime Paling Bikin Sakit Hati

1 September 2020
joker

Joker Kali Ini Humanis dan Kita Banget

3 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma Mojok.co

Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma

10 Agustus 2026
Sadar nggak, hampir tiap stasiun punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya Mojok.co

Sadar nggak, hampir tiap stasiun kereta punya outlet Roti O, ternyata ini alasannya

5 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.