Real Madrid Juara La Liga: Terima Kenyataan, Berdamai dengan Keadaan – Terminal Mojok

Real Madrid Juara La Liga: Terima Kenyataan, Berdamai dengan Keadaan

ArtikelFeatured

Kamis sore, saya mampir Indomaret untuk membeli rokok dan es krim. Setelah membayar, saya keluar menuju motor. Di sana, pacar saya sudah menanti. Saya berikan es krim itu kepadanya, dan dia tersenyum. Lalu saya berkata “Sayang, nanti malem mau begadang. Nonton Real Madrid, ehehe”.

Waktu berlalu, dan tiba saat kick off. Saya menyeduh kopi ketiga, dan saya sudah siap untuk melihat Madrid mengangkat piala.

***

Sebelum saya lanjut, saya tidak ingin sama sekali mengulas performa Bale yang buruk, drama-drama yang ada, Jovic yang tidak sesuai ekspektasi, dan VAR yang diduga membantu Madrid meraih piala. Simpan omong kosong itu untuk obrolan sampah kalian.

Real Madrid memulai musim 2019-2020 dengan buruk. El Merengues dibantai Atletico Madrid dengan skor 7-3 di pertandingan pra musim, dan harus kehilangan Marco Asensio selama satu musim penuh. Pembelian besar-besaran tak menunjukkan hasil yang memuaskan. Paris Saint-Germain membantai Madrid di Paris, penyelesaian buruk, dan Hazard yang harus keluar dari permainan selama 2 bulan memperparah penderitaan.

Tapi di saat yang sama, Real Madrid menunjukkan perkembangan yang berbeda. Meski mereka susah menang, mereka tetap saja bukan tim yang mudah dikalahkan. Zidane tahu bahwa Cristiano Ronaldo bukanlah seseorang yang bisa digantikan Mariano Diaz dan Eden Hazard. Alih-alih memaksa diri, Zidane merubah Los Galacticos menjadi tim dengan pertahanan terbaik di Eropa.

Real Madrid, akhirnya berdamai dengan keadaan mereka. Ronaldo pergi, itu tidak bisa diubah lagi. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana berusaha untuk menjadi juara. Menjadi tim yang handal dalam bertahan adalah jawabnya, dan itu terbukti.

Baca Juga:  Liverpool Bakal Menang Mudah Melawan Real Madrid? Ah, Nggak Juga

Dalam formasi apa pun yang digunakan Madrid, penyerang akan turun lumayan dalam untuk membantu serangan atau memotong jalur bola lawan. Hal ini dibuktikan dengan statistik Vinicius Junior yang lebih defensif dibanding musim lalu. Federico Valverde muncul menjadi pemain penting untuk Los Galacticos dengan kemampuan pressure yang mumpuni. Valverde juga mencatatkan angka keberhasilan pressure lebih baik dibanding Modric.

Sudah menjadi rahasia umum kalau kekuatan dan kelemahan terbesar Real Madrid adalah sisi kiri yang dihuni Marcelo. Marcelo kerap lambat turun ketika serangan gagal dan lubang yang ditinggalkan sering dieksploitasi lawan. Ferland Mendy didatangkan untuk alasan itu, dan Mendy melakukan tugasnya dengan baik. Mendy selalu berada dalam posisi yang membuat dia siap untuk menyerang namun juga bisa memotong bola dengan mudah andai Madrid diserang.

Benzema mendapat peran baru dalam skema Zidane musim ini. Selain turun untuk membantu serangan, Benzema menjadi pemain pertama yang memotong serangan balik dari musuh. Singkatnya, Zidane berhasil membuat Madrid tahu cara bertahan yang bagus.

Namun Real Madrid punya catatan buruk dalam masalah menyelesaikan peluang. Karena Benzema harus sering turun untuk membantu serangan, bola yang dikirim ke kotak penalti sering tidak menemui siapa pun. Baiklah, solusinya adalah memasang Jovic. Namun Jovic bukanlah pemain yang punya level sama dengan Benzema perkara membangun serangan.

Baca Juga:  Fungsi Ruang Tamu: Museum Pencapaian dan Gagasan Ideal Keluarga

Tapi catatan buruk ini justru melahirkan rekor lain. Karena pada dasarnya Madrid tidak punya striker murni di lapangan, para pemain terlepas apapun posisinya dituntut untuk bisa mencetak gol. Hingga kini, ada 21 pemain Real Madrid yang mencetak gol. Hanya Eder Militao, Courtois, Altube, dan Areola yang tidak mencetak gol.

Yang menarik, tiga dari empat pemain tersebut posisinya adalah kiper.

Pandemi melanda, dan mengharuskan liga untuk dihentikan sementara. Musibah ini justru jadi berkah untuk Madrid karena kali pertama dalam musim ini, Real Madrid tidak punya pemain kunci yang cedera. Marco Asensio dan Eden Hazard akhirnya pulih, yang berarti Real Madrid menatap season restart dengan tenaga penuh.

Real Madrid menyapu 10 pertandingan dengan 10 kemenangan. Di saat yang sama, Barcelona harus terjungkal melawan Osasuna dan membuang poin penuh dua kali. El Merengues menyalip di akhir-akhir dan akhirnya menjadi juara.

Real Madrid juara dengan skuat yang bisa jadi bukanlah skuat terbaik. Mereka kehilangan Ronaldo dan terlalu bergantung kepada Benzema. Mereka kurang lihai dalam mencetak gol, dan mereka mencetak personal error yang jauh lebih tinggi dibanding musim-musim sebelumnya.

Tapi di saat yang sama, Los Galacticos berubah menjadi tim dengan pertahanan terbaik, melakukan 88 recoveries per game, dan konsisten. Ugly win, yes, but win is a win. Menang secara buruk secara konsisten, menurut saya, jauh lebih baik dibanding mencetak 6 gol minggu ini untuk kalah selama dua minggu ke depan.

Baca Juga:  Drama Korea pada 2000-2010 yang Berhasil Bikin Kita Terserang Korean Wave

Zidane mungkin menganggap serius kata-kata Sir Alex Ferguson yang berbunyi “attack wins you games, defence wins you titles”. Dia sudah berkata akan membawa Real Madrid ke tempat yang seharusnya. Dan dia membawa Madrid menjadi juara di tanah para Matador.

Mungkin Madrid juara dengan skuat berisi pemain tua yang dibilang habis dan pemain muda yang belum matang. Tapi ingat, pemain muda yang belum matang ini berumur di bawah 22 tahun. Mereka masih punya waktu panjang untuk bersinar. Dan ketika tiba saatnya, Madrid akan begitu mengerikan.

***

Peluit pertandingan berakhir akhirnya ditiup. Pemain melompat kegirangan, lalu saling berpelukan. Zidane memeluk satu per satu pemainnya bagai anak sendiri. Mereka seakan melupakan ingatan memalukan di musim 2018/2019, dan itu lumrah karena mereka sedang merayakan kerja keras mereka.

Saya mengambil sebatang rokok. Tangan saya bergetar menahan tangis saat menyulut rokok. Sebulir air mata mengalir di pipi. Ah bangsat, memang sebaiknya tidak usah berlagak tegar.

Hala Madrid, hala Madrid, hala Madrid.

BACA JUGA Hanya untuk Dua Pertandingan Ini Saja, Real Madrid Jangan Ikut-ikutan Arsenal dan artikel Rizky Prasetya yang lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.