Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Puan Maharani atau Tidak Sama Sekali: Kegalauan PDIP yang Rasional

Zamzam Muhammad Fuad oleh Zamzam Muhammad Fuad
10 Oktober 2022
A A
puan maharani dpr Pak RT mojok

puan maharani dpr Pak RT mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Cerita bermula ketika mengantar istri ke pasar. Di tengah jalan, tiba-tiba mak jegagik saya melihat banyak spanduk Puan Maharani di tengah jalan. Mungkin ada itu sepuluh atau lima belas spanduk. Besar-besar. Jelas saya kaget, seperti kagetnya Roro Jonggrang melihat Candi Prambanan: wong semalam belum ada, kok pagi-pagi sudah nongol.

Masalah spanduk ini memancing pertanyaan warga, apakah Puan berniat ikut Pilpres di 2024 nanti? Tanda tanya warga beralasan. Sebab, belakangan ini para politisi yang diisukan nyapres mulai narsis memajang fotonya di ruang-ruang publik. Nah terkait isu Puan nyapres ini, warga tidak langsung menyambut, malah saling bertanya: apa iya Mbak Puan bakal menang?

Wajar sih kalau ada warga yang kurang sreg dengan pencapresan Puan Maharani. Maklum, beliau memang kurang populer di hadapan netizen karena video viralnya malah menurunkan citra. Sebut saja adegan mematikan microphone saat rapat atau merayakan ulang tahun di tengah kenaikan harga BBM. Mungkin, hal-hal seperti itu yang membuat tingkat elektabilitas Puan rendah.

Tidak hanya masyarakat, kader PDIP (mungkin) juga heran kenapa harus mati-matian membela Puan. Beberapa survei menempatkan Ganjar Pranowo di urutan atas, yang artinya, Ganjar jauh lebih populer daripada Puan. Survei Litbang Kompas menunjukkan kalau Ganjar dan Tri Rismaharini adalah kader PDIP yang elektabilitasnya lebih tinggi daripada Puan. Jadi wajar kalau pencalonan Puan dianggap irasional.

Tapi tunggu dulu, jangan sembarangan menuduh. Perlu dijelaskan dulu, rasional itu apa?

Sejauh yang saya tau, rasional adalah berpikir logis dan masuk akal, yang bisa diuji dengan membandingkan antara cara dan tujuan. Misalnya, ada polisi membunuh anak buah yang paling disayang. Orang tentu menilai perbuatan itu biadab. Oleh karena itu, sang pembunuh buru-buru membuat suatu tujuan, agar tindakannya bisa dibenarkan: melindungi marwah keluarga, karena istrinya dilecehkan oleh sang anak buah. Lantaran memiliki tujuan, maka menembak bisa dianggap tindakan rasional. Oleh karena itu diyakini bisa mengurangi vonis hukuman. Inilah mengapa sang pembunuh mati-matian agar isu pelecehan seksual ini dapat diakui sebagai fakta dalam persidangan. Duh, maaf jadi curcol.

Nah, kembali lagi, untuk menilai rasional tidaknya PDIP memajukan Puan Maharani, harus dilihat tujuannya. Kalau tujuannya adalah untuk menang pemilu, wajar kalau pencapresan Puan dianggap irasional. Namun, kalau tujuannya untuk menjaga brand image PDIP, memajukan Puan bisa dianggap rasional. Dan harus diingat bahwa memajukan Puan itu bukan hanya demi Megawati atau Puan. Namun, demi PDIP sendiri.

Tidak sedikit masyarakat yang menilai Megawati irasional karena ngotot memajukan Puan mentang-mentang dia anaknya. Namun menurut saya, Megawati lebih rasional daripada kelihatannya. Sebab, kalau hanya begitu alasannya, Megawati sudah memajukan anaknya sebagai capres atau cawapres bahkan sejak Pilpres periode lalu ketika masih elektabilitasnya masih 0 persen.

Baca Juga:

Tiga Jalan Menuju Revolusi: Tan Malaka, Soekarno, dan D.N. Aidit

Isu Ijazah Jokowi Palsu Adalah Isu Goblok, Amat Tidak Penting, dan Menghina Kecerdasan, Lebih Baik Nggak Usah Digubris!

Kegalauan PDIP atas pencapresan Puan Maharani memang harus dirunut dari karakter sistem politik Indonesia yang semakin pragmatis. Partai semakin mementingkan perolehan suara daripada membangun platform ideologis. Dan ketika partai tidak punya ideologi yang otentik, maka harus ada hal lain yang membedakan PDIP dengan partai yang lain. Atau dalam bahasa marketing: unique selling point. Dan buat PDIP, itu jelas sosok Soekarno.

Pertanyaannya: Apa tidak bisa PDIP menjaga identitas Soekarno-nya tanpa Puan Maharani? Tentu saja bisa. Namun tanpa Puan, apa bedanya PDIP dengan partai lainnya? Karena selain PDIP, ada juga beberapa partai yang berusaha mengaku mewarisi semangat, cita-cita, dan pemikiran Soekarno.

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, di pidatonya mengatakan bahwa keputusannya nyapres di 2024 terinspirasi oleh semangat Bung Karno yang tidak pantang menyerah. Pidato Prabowo sarat dengan pemikiran Bung Karno dengan berkali-kali menyerukan tentang aset strategis Indonesia yang diambil asing. Dan pada 2014, Prabowo mengaku bahwa di masa kecil ia pernah bertemu dan digendong oleh Bung Karno. Prabowo juga mengaku kalau kemeja safarinya diilhami oleh gaya berpakaian Bung Karno.

Tidak cuma Prabowo, Surya Paloh juga gencar mengimitasi Soekarno. Demi membungkus dirinya sebagai titisan Soekarno, Ketua Partai Nasdem itu meniru gaya pidato Soekarno habis-habisan. Tidak hanya teknik pidatonya, gagasan Soekarno-pun sering dia sitir dalam pidato-pidatonya. Ia juga sempat menyedot perhatian publik ketika menziarahi makam presiden pertama Republik Indonesia itu.

Artinya, semua partai bisa mengaku berideologi nasionalis. Semua tokoh politik bisa meniru gaya pidato atau gaya berpakaian Soekarno, atau terinspirasi oleh pemikiran atau semangat juang Soekarno. Namun, tidak semua orang bisa mengklaim memiliki nasab atau darah Soekarno. Ya hanya Megawati dan Puan. Dan, selama ini, memang unique selling point itulah yang dirawat dan diruwat oleh PDIP.

Meninggalkan Puan dari panggung pencapresan ibarat Toko Buku Social Agency yang tiba-tiba berjualan sembako. Mungkin omzet bertambah, tapi identitas brand PDIP keropos seketika. Dan ketika unique selling point sebagai partai trah Soekarno hancur, maka bukan hanya Puan yang hancur, tapi masa depan PDIP juga dipertaruhkan.

Adalah betul jika ada orang berkata: Puan bisa tetap dapat jabatan politik sekalipun Ganjar jadi capres dan keluar sebagai pemenang. Namun, Megawati juga pasti telah menangkap sinyal meredupnya trah Soekarno di PDIP. Sementara di sisi lain, Jokowi yang menjadi kutub kekuatan politik lain di PDIP, juga telah menyiapkan gerbong politik dengan menjadikan Gibran dan Bobby sebagai walikota. Apalagi banyak orang menilai Ganjar lebih dekat ke Jokowi daripada Megawati.

Itu baru yang kelihatan. Mungkin ada juga loyalis Jokowi yang sudah menduduki kursi strategis di daerah. Maka kalau kursi presiden 2024 diisi oleh Ganjar, kans Puan menjadi presiden dan penguasa PDIP di kemudian hari semakin tipis. Sebab, tidak menutup kemungkinan kalau Ganjar menang sekarang, ia akan menang lagi di periode selanjutnya. Maka tidak ada lain bagi Megawati selain mencapreskan Puan sekarang atau tidak sama sekali.

Ngotot memajukan Puan sebagai capres memang pertaruhan besar bagi PDIP. Ini berisiko menggagalkan PDIP dalam Pilpres 2024. Tapi demi branding “partai trah Soekarno”, Puan memang harus maju. Nah, sekarang terserah kader-kader PDIP, apakah masih rasional berpolitik demi loyalitas terhadap trah Soekarno?

Sumber gambar: Akun Twitter @Harian_Jogja

Penulis: Zamzam Muhammad Fuad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Ganjar Pranowo Harus Memilih, Tetap Bersama PDIP Tanpa Mencapres atau Mencapres Tanpa PDIP

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Oktober 2022 oleh

Tags: ganjar pranowoJokowiPDIPpemilu 2024puan maharaniSoekarno
Zamzam Muhammad Fuad

Zamzam Muhammad Fuad

Penulis nyambi jualan online.

ArtikelTerkait

Surat Terbuka untuk Bapak Presiden dari Perempuan Adat terminal mojok (1)

Surat Terbuka untuk Bapak Presiden dari Perempuan Adat

16 Agustus 2021
Betapa Tidak Pentingnya Mengingat Nama-nama Menteri Saat Ini terminal mojok.co

Betapa Tidak Pentingnya Mengingat Nama-nama Menteri Saat Ini

29 Desember 2020
Nostalgia 6 Janji Politik Paling Absurd yang Pernah Saya Dengar Terminal Mojok

Nostalgia 6 Janji Politik Paling Absurd yang Pernah Saya Dengar

4 Desember 2022
Mitos Seram di Gunungkidul selain Pulung Gantung Terminal Mojok

Pengalaman KKN di Gunungkidul: Warung Tutup Jam 7 Malam dan Menyaksikan Kemenangan Jokowi di Desa Pro Prabowo

4 Agustus 2023
Tiga Tips Keluarga Berjaya Ala Presiden Jokowi Terminal Mojok

Tips Keluarga Berjaya Ala Presiden Jokowi

15 Desember 2020
mengkritik jokowi

Semua Orang Harus Mengkritik Jokowi

14 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.