Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Poso dan Pengalaman Menjadi Terduga Teroris

Gabriel Bezaleel Matahari oleh Gabriel Bezaleel Matahari
23 Oktober 2019
A A
poso

poso

Share on FacebookShare on Twitter

Mendengar kata Poso, tentu tidak bisa kita lepaskan dari ingatan masa lampau bahwa di tempat ini, pernah terjadi kerusuhan besar yang didasari akan identitas agama. Dengan ribuan korban jiwa serta banyak harta benda yang porak poranda.

Masa lalu Poso yang begitu mencekam, tidak membuat saya gentar untuk datang ke sana mencari pengalaman dan membuka mata bahwa Indonesia itu bukan hanya di Pulau Jawa. Di Poso saya bekerja di salah satu penginapan di pinggir aliran Danau Poso, dekat jalan Trans Sulawesi. Namun karena kejadian hari Minggu lalu, saya pun sadar bahwa ingatan masa lalu tentang kerusuhan Poso ini masih melekat jelas di benak masing-masing warganya.

Hari Minggu, seperti biasanya sebagai orang Nasrani yang taat, tapi tidak taat-taat banget saya pergi ke sebuah gereja yang baru kali itu saya masuki, karena saya bangunnya kesiangan dan kebetulan ada gereja yang baru akan memulai ibadah.

Saya pun memacu motor dinas yang dikasih pinjam sama bos, berupa Honda Win, tanpa STNK, dan plat nomor. Sampai di pintu gerbang ada penjaga yang berjaga saya pun menyapanya dan tak lupa saya memarkirkan motor saya di samping bangunan gereja tersebut.

Dengan gagah, saya pun memasuki bangunan gereja, karena entah kenapa hari itu rasanya perasaan saya senang sekali, yang akhirnya membuat tingkat kepedean saya naik drastis. Berjabat tangan dengan penerima tamu dan duduk di bagian tengah gereja. Kesan saya gerejanya luas dan jemaatnya banyak, tidak seperti gereja di desa saya sudah bangunannya kecil, yang datang itu lagi, itu lagi.

Sambil menunggu kebaktian dimulai saya cek-cek sosial media, buat menghitung orang Nasrani yang riya akan ibadahnya dengan menggunggah stories dengan gambar mimbar gereja dan di pojok dituliskan Happy Sunday. Satu, dua, hingga kurang lebih sepuluh stories dengan konten yang saya tuliskan di atas, ada dalam daftar stories saya pagi itu.

Kebaktian pun dimulai, pendeta memasuki mimbarnya diiringi dengan nyanyian. Sialnya karena baru pertama kali bergereja di tempat itu, saya tidak tahu lagunya, jadilah saya hanya berdiri diam mengikuti lagu dengan khidmat dan bersenandung di dalam hati.

Setelah pujian selesai, saya pun kembali duduk untuk mendengarkan khotbah dari Pendeta yang temanya pagi itu tentang ketulusan dalam melakukan segala hal. Intinya jika segala hal dilakukan dengan tulus, maka Tuhan akan memberkati langkah berikutnya secara terus-menerus.

Baca Juga:

Pati Bukan Sarang Penjahat dan Plat K Bukan Berarti Kriminal, Ada Hal Baik yang Bisa Diapresiasi di Sini

Motor Bodong, Tetap Diminati meski Bahaya Menanti, tapi, Mengapa?

Saat sedang khusyuk mendengarkan khotbah, tiba-tiba saja dari belakang ada yang mencolek saya. Om-om dengan badan besar, muka sangar dan kacamata hitam yang tergantung di atas topinya. Dalam batin, sudah mak tratap lah pokoknya, walaupun saya yakin, saya tidak melakukan kesalahan sedikit pun.

Om-om itu pun menanyakan apa isi tas yang saya bawa. Saya pun menjelaskan bahwa di dalam tas tersebut ada dompet, handphone, dan sialnya saya lupa mengeluarkan paku dan lakban, karena sehari sebelumnya saya mendapat tugas memperbaiki beberapa kerusakan kamar penginapan.

Hasil akhir lakban dan paku itu pun dibawa pergi oleh om-om itu. Hati saya tenang. Saya kembali mendengarkan khotbah dan beberapa kali membuka handphone saya untuk membaca nas alkitab yang digunakan pak pendeta untuk melengkapi khotbahnya.

Kebaktian pun berjalan lancar, sampai doa penutup, saya kembali dipanggil, kali ini oleh bapak satpam dari gereja. Bapak Satpam mengajak saya untuk bertemu dengan Bapak Polisi yang berjaga di luar. MAK DHEG!!!! Bingung, takut, lemas, semua bercampur jadi satu. Saya kepikiran wah bakal jadi apa saya ini, masa gara-gara paku dan lakban, saya sampai harus berurusan dengan Polisi? Bisa-bisa saya langsung dideportasi ini ke Pulau Jawa, karena membuat masalah di Poso. Mending dideportasi, kalau di penjara di Poso, bagaimana cocot tetangga akan berbunyi?

Saat keluar pun, ada seorang jemaat yang mengintimidasi saya dengan berkata, “heh kamu ya, kamu! Mana teman-teman kamu yang dari tadi dikontak lewat handphone?” Sambil menatap marah ke saya. Tetapi karena saya  tidak merasa bersalah dan melihat orang itu marah tapi mukanya jadi lucu, jadinya saya malah cengar-cengir (mohon maaf ya, bapak yang saya maksud).

Polisi sudah siap di pos jaga dan menginterogasi saya. Tempat saya bekerja, bosnya siapa, ke sini sama siapa, buat apa paku serta lakban, kenapa motor tidak ada STNK nya, hingga saya pun diminta KTP. Inilah titik balik saya, “Pak saya tidak mungkin membuat keributan di tempat ibadah saya Pak.” Akhirnya polisi itu percaya dan meminta maaf karena salah paham, dan tak lupa meminta saya untuk menitipkan tas di pos jaga untuk mengurangi kekhawatiran jemaat yang ada di dalam gereja. Saya pun patuh, lagipula yang jaga Polisi ini. Saya pun kembali ke dalam gereja dan mengikuti prosesi kebaktian hingga selesai.

Walaupun ada saja kejadiannya, berkebaktian di gereja baru, jujur saya mendapatkan hikmah dari kejadian ini. Iya, saya langsung terkenal, tanpa perlu mengenalkan diri terlebih dahulu. Ya, meski terkenalnya lewat cara yang nyeleneh. hahaha

Di sisi lain, saya pun bisa merasakan trauma orang Poso akan kerusuhan masa lalu yang pernah terjadi. Ketakutan itu tidak akan pernah hilang, mungkin hingga akhir hayat. Akhirnya menimbulkan paranoid terhadap orang baru, serta hal-hal baru yang muncul. Maka dari itu, saya hanya berharap agar Indonesia tidak akan pernah lagi meletus kerusuhan dengan identitas agama, maupun identitas lainnya, karena bekas kerusuhan itu bukan hanya kerusakan materiil saja, namun juga merusak psikologis yang membekas bagi korban kerusuhan tersebut. (*)

BACA JUGA Pengalaman Misterius dan Tidak Masuk Akal yang Betulan Kejadian Selama Tinggal di Kalimantan atau tulisan Gabriel Bezaleel Matahari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2019 oleh

Tags: bomkerusuhanKriminalpengalaman nyataposoterduga teroristeror
Gabriel Bezaleel Matahari

Gabriel Bezaleel Matahari

ArtikelTerkait

#KitaSemuaBersaudara

Mewujudkan #KitaSemuaBersaudara Dalam Realita

21 Agustus 2019
Kuntilanak, Hantu Film Horor yang Lebih Pantas Dikasihani ketimbang Ditakuti

Teror Kuntilanak dan Kunjungan yang Tak Diharapkan

24 Oktober 2019
gedung perkantoran

Teror Mistis dan Ketakutan di Gedung Perkantoran

5 Juli 2019
copet

Copet Dapat Beraksi Di Mana Saja, Waspada Terhadap Segala Modusnya

8 Agustus 2019
Orang yang Mematikan Centang Biru WhatsApp Pasti Punya Alasan terminal mojok.co

Modus Penipuan via SMS yang Kian Membosankan

14 Juni 2019
Kita Tidak Takut dengan Grup Pencak Silat, Kita Hanya Takut pada Jumlah

Kita Tidak Takut dengan Grup Pencak Silat, Kita Hanya Takut pada Jumlah

14 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.