Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pesan Tersirat di Balik Cerita yang Diusung Kesenian Barongan Blora

Aly Reza oleh Aly Reza
14 September 2020
A A
barongan blora pesan tersirat alam mojok

barongan blora pesan tersirat alam mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Ngomongin soal kultur lokal kota Blora, Jawa Tengah, salah satu yang menjadi daya tarik adalah adanya kesenian barongan yang juga menjadi ikon identitas bagi kota tersebut. Jadi selain dikenal dengan julukan kota Samin, beberapa orang juga menyebut Blora sebagai kota Barongan.

Akhir tahun lalu saya sempat berkunjung ke kediaman Pak Adi Wibowo, founder grup kesenian barongan Risang Guntur Seto, untuk menggali informasi mengenai perkembangan kesenian khas kota Blora tersebut.

Dari diskusi dengan Pak Adi Wibowo, saya menemukan perspektif yang cukup menarik di luar konteks historis yang jadi fokus pertanyaan saya. Beliau malah membeberkan pesan tersirat dari segi cerita yang diusung dalam barongan. Secara singkat, barongan Blora itu mengangkat cerita tentang Singo Barong Gembong Amijoyo, sosok manusia berkepala singa penjaga hutan Jati Wengker (beberapa orang menyebut hutan ini terletak di Ponorogo. Tapi Pak Adi Wibowo bersikukuh bahwa Jati Wengker adalah nama lain dari Blora pada zaman dulu. Karena faktanya secara geografis kota Blora terdiri dari bentangan hutan jati.) Pesan tersirat yang terkandung dalam cerita tersebut terdapat dalam segmen-segmen episodik yang saya rangkum di bawah ini:

Menjaga alam

Pesan ini diambil dari ultimatum Singo Barong kepada siapa saja yang hendak memasuki hutan Jati Wengker. Dalam sumpahnya dia bertaruh nyawa, “Barang siapa mendekati hutan Jati Wengker, maka langkahi dulu mayatku”. Sumpah tersebut keluar seiring dengan munculnya tokoh bernama Klana Swandana yang memaksa hendak membuka jalur menuju Kediri melalui hutan Jati Wengker. Permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Singo Barong. Bahkan keduanya akhirnya terlibat baku pukul.

Hutan Jati Wengker adalah simbol alam, sementara Singo Barong adalah gambaran seseorang yang gigih menjaganya. Secara implisit bagian ini memberikan pesan agar kita jadi sosok seperti Singo Barong yang menolak apa pun bentuk eksploitasi terhadap alam untuk kepentingan pribadi manusia. Suatu kali Singo Barong juga berkata, “Kalau seandainya nanti aku sudah mati, maka kerusakan dan bencana akan terjadi di mana-mana.” Maksud pernyataan ini adalah, kelak jika sudah nggak ada lagi orang yang peduli dengan alam, maka kerusakan dan bencana besar bakal mengancam kelangsungan hidup manusia.

Kemudian dari penghadangan yang dilakukan oleh Singo Barong terhadap Klana Swandana kita bisa belajar, sudah seharusnya kita melawan jika ada orang-orang yang mengeksploitasi alam demi kepentingan kelompoknya sendiri.

Tanggung jawab dan patriotisme

Konteks bertanggung jawab diambil dari lakon Singo Barong yang dengan komitmen penuh melaksanakan tugasnya, yaitu menjaga hutan Jati Wengker. Merupakan pesan agar kita bisa menjaga amanah dan menjalankan tugas apa pun yang diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana yang dicontohkan Singo Barong. Tak goyah oleh rintangan apa pun, seperti Singo Barong yang tetap teguh pendirian meski nyawanya berada di bawah ancaman Klana Swandana.

Sementara patriotisme merupakan simbol dari pengorbanan dan dedikasi Singo Barong terhadap tanah yang dia pijaki; hutan Jati Wengker. Karena masyarakat Jawa percaya, “Tempat di mana kau minum dan makan dari buminya, di situlah kau harus rela mati untuk membelanya.” Dan hal itulah yang tercermin dari lakon Singo Barong yang sedari awal bahkan bersumpah, kalau ada yang mau mendekati (merusak) hutan Jati Wengker, maka nyawanya sendiri jadi taruhan.

Baca Juga:

Satu Dekade Merantau, Transportasi Umum di Blora Masih Gaib dan Jalanannya Bikin Cepat Menghadap Tuhan

Bupati Blora, Kontenmu Nggak Akan Mampu Menutupi Bobroknya Kinerja Pemkab!

Waspada terhadap provokasi dan adu domba

Rata-rata pertikaian memang lahir dari adanya aksi provokasi dan adu domba. Seandainya tidak, ya pasti perang Bharatayuddha nggak bakal terjadi. Begitu juga dengan pertarungan hidup-mati antara Singo Barong dengan kakaknya sendiri, Jaka Lodra.

Bermula dari kekalahan Klana Swandana dan kegagalannya menembus hutan Jati Wengker, dia kemudian mengadu domba kakak beradik tersebut. Keduanya bertarung habis-habisan dan berakhir dengan tanpa adanya pemenang. Pesan yang bisa diambil, sudah semestinya kita selalu waspada terhadap segala bentuk provokasi dan adu domba. Lebih-lebih jika itu menyangkut saudara sendiri.

Perang saudara bukannya bakal menyelesaikan masalah, tapi hanya buang-buang waktu dan tenaga, tanpa ada hasil apa-apa. Yang menikmati keuntungan justru sang provokator. Dalam hal ini digambarkan dengan Klana Swandana yang akhirnya bisa memasuki hutan Jati Wengker setelah memastikan si penjaga hutan (Singo Barong) sudah lengah karena terlampau lelah setelah bertarung habis-habisan dengan sang kakak.

Secara khusus Pak Adi Wibowo menyebut, bahwa lakon Singo Barong bisa dikatakan adalah tuntutan bagi masyarakat Blora agar berkarakter sebagaimana karakter Singo Barong Gembong Amijoyo. Antara lain, tegas, berani, konsisten, tanggung jawab, serta sikap patriotisme sebagai konsekuensi atas hak dan kewajiban yang harus dikerjakan. “Ya malu to kalau kita dengan pedenya mengklaim barongan sebagai simbol identitas kota Blora, sementara kita nggak bisa atau malah nggak mau mengambil dan mengamalkan pesan yang terkandung di dalamnya.” Tutur Pak Adi Wibowo menutup diskusi kami sore itu.

BACA JUGA Model Dakwah ala Kultum Pemuda Tersesat Sudah Ada Sejak Zaman Rasulullah dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2020 oleh

Tags: barongblora
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Jalan Raya Purwodadi-Blora Bikin Resah Pejalan Kaki dan Pengendara

Jalan Raya Purwodadi-Blora Bikin Resah Pejalan Kaki dan Pengendara

12 September 2023
Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

Rujak Teplak Khas Tegal Adalah Anomali bagi Warga Blora, Rujak kok Jadi Menu Sarapan, Aneh!

9 Januari 2026
3 Alasan Blora Kalah Pamor Dibanding Kabupaten Tetangga

3 Alasan Blora Kalah Pamor Dibanding Kabupaten Tetangga

14 Oktober 2025
Impian Blora Jadi Kawasan Industri Perlu Dipikirkan Kembali agar Tak Menyesal Dunia Akhirat

Impian Blora Jadi Kawasan Industri Perlu Dipikirkan Kembali agar Tak Menyesal Dunia Akhirat

2 Maret 2025
Kopi Santan, Kopi Indie Khas Blora yang Nggak Kalah dari Kopi Susu Kekinian terminal mojok

Kopi Santan, Kopi Indie Khas Blora yang Nggak Kalah dari Kopi Susu Kekinian

30 Juni 2021
Ironi Blora: Bukan Lumbung Pangan, tapi Jadi Lumbung Utang   cepu

Ironi Blora: Bukan Lumbung Pangan, tapi Jadi Lumbung Utang  

19 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

4 Juni 2026
Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

7 Juni 2026
Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang Mojok,co

Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang

5 Juni 2026
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

7 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

9 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.