Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
15 Juli 2026
A A
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang Semarang yang setiap hari dijemur cuaca panas, Lembang menempati posisi istimewa di memori saya. Dulu, bayangan saya tentang tempat ini sangat klasik. Hamparan kebun teh yang menghijau dipadukan dengan udara dingin yang menusuk tulang.

Bagi banyak orang, Lembang adalah pelarian paling pas untuk sekadar healing tipis-tipis. Namun, kunjungan terakhir saya ke sana malah menyisakan tanda tanya besar. Ekspektasi menikmati kedamaian justru berbenturan keras dengan realitas lapangan.

ADVERTISEMENT

#1 Horor di siang bolong, bertemu pocong yang berkeliaran di tengah jalan Lembang

Biasanya, pocong cuma jadi hiasan di adegan film horor. Tapi di Lembang, saya justru disuguhi pemandangan pocong jadi-jadian yang berkeliaran bebas di tengah jalan. Dan perlu saya tekankan, ini literally di tengah badan jalan. Bukan di trotoar seperti atraksi serupa yang banyak dijumpai di Jalan Asia Afrika, Bandung.

Bukannya bikin takut atau terhibur, kehadiran mereka justru lebih sering bikin saya senewen. Tingkah mereka yang sembarangan mengambil ruang jalan benar-benar bikin gregetan. Puncaknya adalah ketika mereka nekat mendekatkan wajah penuh makeup menyeramkan ke jendela mobil atau mengetuk-ngetuk kaca demi mengais recehan.

Kalau saja eksistensi mereka ditertibkan secara serius seperti di pusat kota Bandung, mungkin fenomena ini bisa jadi daya tarik wisata yang unik. Tapi di Lembang, malah mengusik kenyamanan dan bikin emosi pengendara naik saat niatnya ingin menikmati liburan.

#2 Modus bantuan di Tangkuban Perahu

Saat menapakkan kaki di Tangkuban Perahu, keramahan para penjaja terasa sangat personal. Mereka sigap menawarkan bantuan. Mulai dari memberi arahan lokasi hingga menjadi fotografer dadakan untuk wisatawan di Lembang.

Namun, ada satu fakta unik. Mereka kompak menolak pemberian uang sebagai tanda terima kasih. Lembaran rupiah yang disodorkan sebagai apresiasi ditolak mentah-mentah. Satu-satunya cara untuk membalas kebaikan mereka hanyalah dengan satu jalur. Yakni, membeli barang dagangan yang dijajakan.

Usut punya usut, peristiwa ini bukan murni bentuk kedermawanan. Tapi, siasat di tengah sistem pengelolaan destinasi yang sudah dipegang pihak swasta. Rupanya, para pedagang diwajibkan oleh pengelola untuk tetap tampil proaktif melayani pengunjung tanpa ada kompensasi sepeser pun dari pihak manajemen.

Baca Juga:

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa

Di sisi lain, setiap tahun mereka harus merogoh kocek hanya untuk membayar biaya izin agar bisa mengais rezeki di sana. Jadi, bantuan tersebut sebenarnya adalah strategi bertahan hidup agar dagangan lebih cepat laku. Bukan sekadar keramahtamahan yang tulus tanpa motif ekonomi.

#3 Harga stroberi yang berbeda di pagi dan malam hari

Masih di kawasan Tangkuban Perahu Lembang, pengalaman membeli stroberi turut meninggalkan kekecewaan. Awalnya, penawaran harga Rp35.000 per wadah atau Rp100.000 untuk tiga wadah terdengar cukup masuk akal.

Secara visual, wadah plastik tampak penuh dan menggiurkan. Bahkan rasa buahnya memang manis saat dicoba. Namun, kepuasan itu segera berganti menjadi umpatan dalam hati saat menyadari telah menjadi korban sulap pedagang.

Ternyata, volume stroberi yang tampak melimpah hanyalah ilusi optik. Bagian dasar wadah disumpal kardus dengan cukup rapi sehingga buah asli hanya mengisi lapisan paling atas. Jumlahnya pun hanya belasan butir.

Ironisnya, penyesalan terasa semakin menyesakkan ketika malam harinya mendapati harga stroberi di kawasan Lembang hanya Rp50.000 untuk tiga wadah. Yang lebih menyakitkan, wadah-wadah malam itu benar-benar transparan sampai ke dasar, tanpa ada siasat kardus yang memanipulasi kuantitas.

#4 Krisis identitas oleh-oleh di Lembang

Salah satu yang paling bikin saya tertawa adalah saat melihat deretan toko oleh-oleh. Saat mau mencari kudapan khas Lembang yang autentik, mata saya malah tertuju pada berbagai produk yang sebenarnya merupakan identitas kota lain. Bayangkan saja, di sana saya menemukan bakpia dari Jogja, almond crispy asal Surabaya, bahkan carica khas Dieng.

Satu-satunya produk yang coba mengklaim diri sebagai tuan rumah hanyalah bolu susu. Meski setelah dicicipi, rasanya tak jauh berbeda dengan kue bolu biasa yang bisa ditemukan di toko roti sudut jalan mana pun. Alhasil, niat saya membawa pulang kenang-kenangan khas malah berujung pada kebingungan.

Kunjungan ke Lembang kali ini meninggalkan pelajaran berharga bagi saya untuk tak menaruh ekspektasi setinggi puncak gunung pada sebuah destinasi yang terus dipaksa berubah oleh tren. Mungkin, sebuah tempat wisata bahkan mesti rela kehilangan jati dirinya demi tetap bernyawa in this economy.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2026 oleh

Tags: lembangoleh-oleh khas lembangSemarangwisata di lembang
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Jangan Berkendara di Tembalang kalau Nggak Kuat Mental Mojok.co

Jangan Berkendara di Tembalang kalau Nggak Kuat Mental

27 November 2023
Teror Jalan Silayur Semarang Lebih Seram dari Sekadar Jalan Angker Mojok.co

Teror Jalan Silayur Semarang Lebih Seram dari Sekadar Jalan Angker

21 Oktober 2025
Gang 41 Ngaliyan Semarang, Gang Sempit yang Jadi Pintu Doraemon Mahasiswa UIN Walisongo

Gang 41 Ngaliyan Semarang, Gang Sempit yang Jadi Pintu Doraemon Mahasiswa UIN Walisongo

2 November 2023
4 Kuliner Khas Semarang yang Bikin Warga Lokal Angkat Tangan, Hanya Cocok untuk Wisatawan  

4 Kuliner Khas Semarang yang Bikin Warga Lokal Angkat Tangan, Hanya Cocok untuk Wisatawan  

19 Juli 2025
Pasar Semawis, Secuil Keindahan di Tengah Kacaunya Semarang Mojok.co

Pasar Semawis, Secuil Keindahan di Tengah Semarang yang Semakin Kacau

22 April 2024
nasi gandul bukan oseng pepaya mojok

Miskonsepsi Warga Banyumasan tentang Nasi Gandul: Dikira Sayur Daun Pepaya, padahal Bukan

25 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026
Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura Mojok.co

Stadion karapan sapi di Bangkalan terlalu bapuk, orang sulit percaya ini ikon budaya Madura

3 Agustus 2026
Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

2 Agustus 2026
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.