Perjumpaan Terakhir: Pada Akhirnya Kita akan Menyusul Mereka

Menjelang waktu maghrib kami membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Siapa sangka sore itu menjadi gurau terakhir dengan kawanku.

Artikel

Avatar

Beberapa waktu lalu aku cukup dikejutkan dengan rekan kerjaku yang tiba-tiba minta izin pulang awal di saat belum genap setengah jam bekerja di kantor. Tentu jika bukan karena alasan yang sangat penting, tak mungkin dia izin pulang sepagi itu.

Pagi itu dia izin pulang awal karena ayahnya sakit, artinya hari itu dia tidak jadi bekerja. Berselang dua hari kemudian, rekanku ini masih tidak masuk kerja. Dan pada hari ketiga dia kembali masuk kerja, tapi dengan membawa kabar duka bahwa ayahnya telah tiada, malam hari ketika pagi harinya dia pulang awal. Seolah tanpa peringatan yang panjang, tiba-tiba ayahandanya harus tutup usia saat itu juga.

Aku juga masih ingat kejadian beberapa tahun lalu. Tepat di bulan Agustus seperti sekarang ini, saat itu aku dan beberapa teman mau menyiapkan acara bazar peringatan HUT Kemerdekaan RI. Jum’at sore kami membabat rumput ilalang yang tumbuh liar tak jauh dari rumahku, untuk dekorasi stand bazar yang digelar di hari Minggu pagi. Sengaja kami cari bahan dekorasi stand bazar yang murah meriah tapi masih terlihat keren. Lagipula tema bazarnya retro, kami rasa masih cocok jika menghias stand dengan tumpukan jerami dan rumput ilalang kering.

Menjelang waktu maghrib kami membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Siapa sangka sore itu menjadi gurau terakhir dengan kawanku. Salah seorang kawanku terlibat kecelakaan sepeda motor persis di depan rumahnya. Tanpa ampun, kawanku terluka parah. Tak sampai semalam berada di IGD, dia menghembuskan nafas terakhir. Lagi-lagi seolah tanpa peringatan panjang, maut datang menjemput, tak harus menunggu tua.

Entah sudah berapa contoh kisah yang menceritakan bahwa syarat mati tidak harus sakit lama, tidak harus tua, dan tidak harus menunggumu siap. Kejam!

Tentu kita sudah sama-sama tahu berita meninggalnya dr. Ryan Thamrin (dr. OZ) beberapa tahun lalu dan Agung Hercules baru-baru ini. Keduanya adalah sosok yang nampak sehat, bugar, dan ceria. Siapa yang menyangka bahwa ada penyakit yang bersemayam di kepala mereka. Yang pada akhirnya hal itu mengakhiri hidup mereka di usia yang tidak terlalu tua. Seolah tanpa kompromi, penyakit bisa menyerang siapapun, kepada yang terlihat sehat sekalipun.

Baca Juga:  Mungkinkah Nembak Gebetan dengan Tingkat Keberhasilan Sampai 99,99%? (Lanjutan)

Tiba-tiba aku teringat penggalan puisi dari almarhum WS Rendra.

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipanBahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

 

Ya, memang mudah berkata untuk jangan sedih pada orang yang baru saja kehilangan. Tapi ketika diri kita sendiri yang mengalami kehilangan, sungguh semua nasehat diatas tak berlaku. Bukan bermaksud mengungkit duka, tapi aku salut sama ketegaran orang yang pernah mengalami kehilangan sosok orang tua. Coz he is your iron man and you love him 3000.

Aku sadar, suatu saat aku pasti mengalaminya juga. Sosok orang tua tidak akan selamanya menjadi pengayom hidup kita di dunia. Suatu saat nanti ayah dan ibuku juga akan meninggal, istri dan anakku juga takkan abadi. Entah mereka atau aku yang lebih dulu pensiun dari kehidupan dunia ini.

Untuk beberapa saat aku bisa ngomong semua hanyalah titipan hingga sampai titik terakhir, yang pada membuat tersadar bahwa semua akan kembali ke Sang Pemilik Hidup. Untuk beberapa saat lain aku juga bisa ngomong hidup di dunia ini hanya sementara. Untuk beberapa saat yang lain aku kembali bisa ngomong berbahagialah orang yang meninggal, karena meninggal itu adalah jalan untuk kita berjumpa dengan Tuhan kita.

Baca Juga:  Membuang Makanan itu Melukai Kemanusiaan Kita

Tapi untuk saat-saat yang lain (yang lebih sering), rasa-rasanya aku tak pernah siap jika malaikat Izrail menjemputku atau keluargaku dan menyisakan momen terakhir dalam hidup. Membayangkan kehilangan salah satu dari keluargaku saja aku tak sanggup, lebih berat lagi kalau membayangkan aku yang harus meninggalkan mereka lebih dulu, tentu aku tak tega melihat anak istriku menangis dan harus melanjutkan hidup tanpaku. Kehilangan itu berat, tapi lebih berat lagi kalau melihat orang kehilangan karena kita.

Aku tau membayangkan anggota keluarga kita meninggal itu tidak baik. Sebab yang suka berandai-andai itu temannya setan. Tapi bukankah zikir yang seringkali mampu menghadirkan rasa khusyuk adalah dzikrul maut? Berdzikir dengan mengingat kematian. Apalagi faedahnya kalau bukan agar kita lebih menyiapkan bekal dalam menghadapinya.

Dan kabar duka yang terbaru bagi bangsa ini yakni perginya sosok ulama kharismatik, KH Maimun Zubair. Yang kita semua tahu beliau meninggal di tanah suci pada saat beribadah. Linimasa langsung ramai ucapan belasungkawa dan kenangan kata mutiara dari tutur kata beliau. Mbah Maimun, bolehkah aku cemburu padamu?

Bolehkah aku cemburu padamu yang tutup usia pada saat menjalankan ibadah, ibadah yang tak semua orang mampu melakukannya. Disalatkan di Masjidil Haram, hingga banyak orang berebut untuk mengantarkan jenazahmu ke tempat peristirahatan terakhir di Ma’la. Tempat pemakaman yang dekat dengan keluarga Nabi.

Tapi siapalah aku yang sok-sokan cemburu pada kekasih Allah. Kiai bukan, santri bukan, amal ibadah pun biasa-biasa saja. Aku hanya seorang saksi, saksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Itu pun entah aku benar-benar bersaksi, atau hanya menirukan kalimat yang diajarkan padaku di sekolah. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
456 kali dilihat

4

Komentar

Comments are closed.