• 7
    Shares

MOJOK.CO – Masyarakat tanpa sadar meminta tuntutan profesi seseorang, juga diaplikasikan ke dalam kehidupan pribadinya. Ya, nggak bisa gitu juga sih~

Saya sering mendengar suara-suara di sekitar saya, yang tanpa sadar menuntut orang lain untuk dapat bertingkah laku seperti yang mereka harapkan. Menuntut seseorang di kehidupan aslinya tetap bertingkah laku sesuai dengan profesinya masing-masing.

Misalnya nih, seorang psikolog dianggap tidak boleh galau, harus bersikap layaknya malaikat. Sementara dokter, karena memiliki pekerjaan untuk mengobati orang lain, sehingga dianggap tidak boleh sakit. Harus selalu sehat. Lah, bagaimana bisa?

Hal ini terjadi dikarenakan seseorang sulit membedakan urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Sehingga kedua urusan yang berbeda tersebut menjadi berbenturan. Lalu terjadi bias yang sulit untuk dipisahkan.

Ada satu kejadian yang sangat melekat dengan saya, sebagai seorang sarjana psikologi. Jadi, dulu saya pernah bertengkar agak heboh dengan mantan pacar saya. Dalam pertengkaran itu, kami sama. Sama-sama tidak mau mengalah. Sama-sama merasa paling benar.

Lalu, tahukah kalian apa yang kemudian terjadi? Sang mantan pacar–yang pernah jadi kesayangan–ini, bisa-bisanya ngomong, “Kamu kan sarjana psikologi. Harusnya kamu bisa lebih memahami keadaan, dong. Dasar, sarjana psikologi tapi nggak nggak mau ngalah dan menang sendiri.”

What the….

Apaan coba, bawa-bawa bidang keilmuan saya. Apakah seseorang yang sudah pernah belajar psikologi, tidak boleh marah? Apakah harus tetap bersikap sabar dan tenang terus-terusan?

Ini kondisinya saja masih sarjana, loh. Belum yang bener-bener udah jadi psikolog. Kira-kira bakalan separah apa tuntutan yang diberikan oleh sang mantan pacar, kalau saya sudah jadi psikolog?

Selain itu, lihat saja kemarin sewaktu Dr OZ Ryan Thamrin meninggal dunia karena penyakit kanker dan maag akut. Beliau sebagai salah satu dokter yang dirasa dekat dengan masyarakat dan populer karena sering muncul di televisi ini, ketika meninggal, semacam membuat publik tidak percaya.

Baca juga:  Sebagai Psikolog, Bu Poppy Nggak Pantas Victim Blaming pada Korban Kekerasan Seksual

Lalu ramai-ramai berkata, “Kok dokter bisa sakit, sih?” Lah mbok kira. Justru dokter itu sangat rentan mendapat penyakit. Jam kerjanya aja seperti itu. Belum lagi dia harus bertemu pasien dengan berbagai penyakit.

Walaupun dia sudah berusaha memiliki pola hidup yang sehat. Tapi jangan lupa loh, dokter juga manusia. Masalah daya tahan tubuh memang bisa kita usahakan, tapi kan tidak bisa kita kondisikan.

Contoh yang lain, saya pernah datang ke salon kecantikan berniat untuk minta dipijat. Sebenarnya capek biasa sih. Cuma sayanya aja yang lagi pengin memanjakan diri. Nah, pas proses pijat memijat itu, si mbak-nya ini cerita-cerita untuk mencairkan suasana gitu lah.

Dia cerita, nggak jarang ketika lagi libur kerja, dia pergi ke salon kecantikan yang lain, dan meminta untuk dipijat juga. “Ya, meskipun saya ini tukang pijat, saya juga butuh dipijat buat ngurangi capek, Mbak.”

Tuh kan, orang yang profesinya sebagai tukang pijat aja juga butuh dipijat orang lain, supaya bisa mijat kliennya sendiri.

Contoh yang lain lagi, ini pengalaman saya sebagai salah satu kru Mojok. Jadi Mojok yang punya tagline, “Sedikit Nakal Banyak Akal” ini sering dianggap sebagai situs humor. Tentu saja karena tulisan-tulisannya yang kebanyakan lucu dan menyegarkan. Inget ya, kebanyakan. Nggak semuanya.

Lalu, hanya karena saya kerja di Mojok, maka ketika saya berkenalan dengan orang lain, dan ia tahu di mana saya bekerja. Mereka pun dengan serta merta langsung menganggap kalau, “Wah, Mbaknya kerja di Mojok? Berarti lucu, dong?”

Baca juga:  Urusan Rambat dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Iya. Saya memang lucu dan menggemaskan. Puas? Jadi pengin ngunyel-ngunyel saya, nggak?

Sepertinya, profesi kita memang bakal melekat dengan kehidupan keseharian kita. Lalu orang lain menjadi tidak dapat membedakan, mana diri kita yang hidup dalam tuntutan profesi. Dan mana diri kita yang sedang hidup dalam kehidupan pribadi.

Semua menjadi bias dan terlihat sama saja. Sampai-sampai, tanpa sadar tuntutan profesi tersebut sampai melupakan bahwa diri kita juga sama-sama manusia. Seprofesional apapun tuntutan dari pekerjaan kita, diri kita bukanlah robot. Kita tetap manusia yang sama-sama penya perasaan, daya tahan tubuh, dan sebagainya.

Di kehidupan pribadi kita, kita pun butuh untuk melepaskan sejenak topeng kita. Topeng yang kita gunakan untuk nampak berkompeten. Bagaimanapun, kita butuh untuk beristirahat sejenak dengan menjadi diri kita sendiri. Beristirahat dari berbagai kepalsuan (mungkin), untuk sekedar men-charge energi.

Jadi bisa dibayangkan, kan? Bagaimana stres nya para publik figur yang merasa tidak memiliki kehidupan pribadi itu? Banyak diantara mereka merasa semakin tertekan ketika sedang melakukan aktivitas di luar pekerjaannya, namun tetap diikuti oleh para paparazi.

Begitulah, jangan sampai kita melupakan bahwa apapun pekerjaan seseorang, ia tetap memiliki kehidupan pribadi. Yang mana, di dalamnya ia juga punya permasalahan, dan tidak dapat selalu dapat dijalankan dengan mulus-mulus saja.

Tidak apa-apa jika tuntutan profesi tersebut ditujukan saat ia tengah bekerja, namun jika tuntutan tersebut juga diminta saat ia sedang berada dalam kehidupan pribadinya, ya kasihan dong~

Psikolog juga bisa galau. Dokter tidak selalu sehat. Tukang pijat juga butuh dipijat. Dan kru Mojok tidak selalu lucu.

Sederhana saja, di balik orang yang kuat, pasti ia juga butuh orang yang dapat menguatkan.