Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Perempatan Mirota Godean Jogja: Ruwet dan Problematik Sejak Dulu

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
2 Juli 2024
A A
Perempatan Mirota Godean Jogja: Ruwet dan Problematik Sejak Dulu

Perempatan Mirota Godean Jogja: Ruwet dan Problematik Sejak Dulu (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Siapa pun yang melintas di perempatan Mirota Godean Jogja kudu banyak-banyak bersabar mengingat perempatan ini begitu problematik.

Jalan Godean dengan segala dinamika menyebalkannya memang nggak pernah usai. Jalannya yang punya lebar nggak seberapa tapi rusak parah itu sudah cukup bikin pengendara stres tiap lewat. Belum lagi jaminan macet akan selalu terjadi setiap jam-jam sibuk dan akhir pekan.

Itu baru Jalan Godean sisi Kabupaten Sleman. Jalan Godean sisi timur yang sudah masuk Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul dan Kecamatan Tegalrejo Kota Jogja pun sama meresahkannya. Titik utama keresahan ini berlangsung di perempatan samping dan depan Mirota Kampus Godean.

Setiap pekerja atau pelajar yang nglaju dari Minggir, Moyudan, Godean, dan sekitarnya menuju Kota Jogja, pasti melewati perempatan ini. Begitu juga pengendara yang berasal dari pusat kota dan mau ke barat.

Barangsiapa yang akan melintasi perempatan ini, wajib hukumnya untuk mempersiapkan diri menghadapi kesemrawutan. Pasti ada saja yang menyebabkan lalu lintas tersendat di titik ini. Orang Jogja yang cukup asing dengan suara klakson pun pasti akan terbiasa dan akrab dengan tan-tin-tan-tin yang memekakkan telinga itu.

Perempatan Mirota Godean merindukan bangjo

Dari saya masih kecil hingga sekarang, perempatan ini memang konsisten mempertahankan identitasnya sebagai persimpangan yang problematik. Keluarga saya yang tinggal di sebelah utara perempatan saja sangat menghindari untuk menyeberang jalan lewat persimpangan ini.

Sebenarnya, dulu, alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) atau bangjo sempat dioperasikan di perempatan ini. Bahkan sisa-sisa keberadaan lampu bangjo ini masih bisa kita lihat di lima titik. Tapi sekarang bangjo ini fungsinya sudah lebih mirip prasasti untuk mengingatkan warga lokal bahwa ia pernah hadir di perempatan Mirota Godean ini.

Meskipun begitu, ketika saya tanya orang tua dan tetangga saya terkait bangjo ini, mereka justru kontra. Pada masa itu, Jogja belum seramai sekarang. Alih-alih dianggap berjasa, keberadaan bangjo yang lampu merahnya terlalu lama justru dirasa menghambat perjalanan. Ditambah lagi jalan yang dipasangi bangjo ini sebenarnya adalah jalan kampung yang kebanyakan pengendara yang melintasinya ya hanya warga lokal.

Baca Juga:

Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Tapi sekarang Jogja memang sudah berubah. Kampung di utara dan selatan perempatan Mirota Godean semakin padat oleh permukiman dan perumahan. Volume kendaraan yang melintasi perempatan ini juga meningkat tajam dibandingkan 1-2 dekade lalu. Kini, bangjo justru dirasa dibutuhkan. Tapi, tentunya dengan durasi lampu merah dan hijau yang nggak usah kelamaan kayak Bangjo Pingit.

Kehadiran pak ogah justru nggak membantu mengurai kemacetan

Semenjak absennya bangjo di sini, perempatan Mirota Godean berubah menjadi persimpangan bebas yang pengendaranya wajib mandiri, alias nengok kanan-kiri sendiri, nekat sendiri, dan nyebrang sendiri. Beberapa tahun belakangan ini muncullah pak ogah atau sukarelawan yang membantu menyeberangkan kendaraan.

Biasanya pengendara-pengendara yang merasa terbantu bakal ngasih recehan untuk pak ogah sebagai bentuk apresiasi. Sayangnya, pak ogah di perempatan Mirota Kampus ini alih-alih membantu mengurai kemacetan, ia justru membuat situasi jalan semakin semrawut.

Lalu lintas yang memang sudah padat banget di perempatan Mirota Godean itu harus disibak agar kendaraan bisa menyeberang. Pak ogah memang selalu memprioritaskan kendaraan yang akan menyeberang. Masalahnya, kalau kendaraan yang mau menyeberang diutamakan terus, gimana nasibnya kendaraan lain yang ada di jalan utama dan mau melaju lurus?

Selain itu, warga lokal sekitar perempatan ini pernah menjumpai pak ogah yang kurang paham cara mengatur lalu lintas. Pak ogah yang satu ini membuat kode dengan tangannya yang diartikan oleh pengendara dari selatan dan barat untuk tarik gas dan sama-sama maju ke depan. Alhasil, kendaraan dari selatan dan barat bertumbukan karena kesalahan ini.

Pembatas jalan justru bikin perempatan Mirota Godean makin macet

Anehnya lagi, setiap kesemerawutan lalu lintas nggak tertolong, keesokan paginya pasti sudah ada pembatas jalan di perempatan ini. Wujud pembatas ini bermacam-macam. Tahun 2017 pembatas jalannya cuma pakai tali tipis yang kalau dipotong pakai cutter juga akan langsung putus. Lalu mulai 2023, perempatan ini sudah mulai dipagari menggunakan pembatas jalan yang agak layak.

Tapi, apakah pembatas jalan ini menjadi solusi atas lalu lintas perempatan Mirota Godean yang berantakan? Oh, tentu tidak. Keberadaan pembatas jalan ini malah memicu masalah lain.

Kendaraan yang mau berbelok ke kanan atau menyeberang di perempatan ini harus putar balik di ujung pembatas jalan. Mari sedikit saya ingatkan lagi bahwa jalan ini sudah sangat padat. Kepadatan lalu lintas yang disibak oleh pak ogah saja malah bikin semakin macet, apalagi kalau ada penumpukan kendaraan di sisi kanan jalan yang mau putar balik. Makin-makin, deh, tuh.

Ditambah lagi, dua titik putar balik yang diambil oleh para kendaraan ini langsung bersebelahan dengan shelter bus Trans Jogja. Berantakan banget deh lalu lintasnya kalau ada kendaraan putar balik yang bertepatan dengan bus Trans Jogja berhenti atau melintas.

Pembatas jalan ini pun agaknya membuat pengendara semakin egois. Mereka yang mau putar balik mau menang sendiri, begitu pula dengan kendaraan yang melaju lurus dari barat dan timur, sama-sama nggak mau ngalah.

Ke mana polisi dan pihak berwajib selama ini?

Kesemrawutan perempatan Mirota Godean ini sudah berlangsung bertahun-tahun tapi nggak pernah nampak ada penyelesaian dari pihak berwajib sampai saat ini. Boro-boro penyelesaian selain penggunaan pembatas jalan, saya  juga sangat jarang melihat polisi yang mengatur lalu lintas di sini.

Saya khawatir perempatan ini akan semakin semrawut dan macet sampai nggak tertolong lagi. Pengendara yang lewat sini akan jadi semakin keras kepala dan ogah mengalah yang mengubah perempatan ini menjadi titik rawan kecelakaan. Sebelum perempatan Mirota Godean ini berubah jadi persimpangan mematikan, harus segera ada penyelesaian dari pihak yang bertanggungjawab. Dan saya harap banget solusi itu bukan cuma berupa pembatas jalan.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jalan Godean Puluhan Tahun Tidak Diperbaiki, Pemerintah Provinsi Jogja Lupa atau Tidak Lagi Peduli ada Warganya pada Mati?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2024 oleh

Tags: Jogjamirota godeanperempatan mirota godean
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

Ambisi PT KAI Perluas Lempuyangan Bikin Pelaju KRL Jogja Solo Menderita (Unsplash)

Terbitnya SP3 dari PT KAI buat Warga Lempuyangan dan Bayangan Mengerikan Biaya Transport Pelaju KRL Jogja Solo sampai Setengah UMP Jogja

18 Juni 2025
Jogja Nggak Berubah Itu Bullshit! Cuma Omong Kosong Belaka! (Unsplash)

Ironi Remaja Kota Jogja: Fasih Misuh dengan Bahasa Jawa, tapi Sulit Bicara Pakai Bahasa Jawa Krama

25 Januari 2026
Warung Madura Dianggap Menjajah Jogja, Guyonan Paling Lucu Abad Ini

Warung Madura Dianggap Menjajah Jogja, Guyonan Paling Lucu Abad Ini

6 Maret 2023
Klaten, Kota Kecil yang Terlupakan di Tengah Pesona Jogja-Solo (Unsplash)

Klaten, Kota Kecil yang Terlupakan di Tengah Pesona Jogja dan Solo

24 September 2024
Ringroad Selatan Jogja : Siang Hari Penuh Sesak, Malam Hari Menjadi Medan Perang

Ringroad Selatan Jogja : Siang Hari Penuh Sesak, Malam Hari Menjadi Medan Perang

22 Agustus 2024
Nestapa Magelang, Diapit Dua Kota Besar tapi Transportasi Umumnya Nggak Berkembang

Nestapa Magelang, Diapit Dua Kota Besar tapi Transportasi Umumnya Nggak Berkembang

3 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026
Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang Mojok.co

Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang

28 April 2026
Hal-Hal Aneh Bagi Orang Lamongan Ketika Mengunjungi Jakarta (Unsplash)

Hal-Hal Aneh Bagi Orang Lamongan Ketika Mengunjungi Jakarta

30 April 2026
Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026
Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan Mojok.co

Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan

1 Mei 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.