Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Penyesalan Mereka yang Kuliah 7 Tahun: Kehilangan Teman Seperjuangan, Karier Terhambat, hingga Merepotkan Orang Tua

Iqbal AR oleh Iqbal AR
3 Oktober 2025
A A
Penyesalan Mereka yang Kuliah 7 Tahun: Kehilangan Teman Seperjuangan, Karier Terhambat, hingga Merepotkan Orang Tua Mojok.co

Penyesalan Mereka yang Kuliah 7 Tahun: Kehilangan Teman Seperjuangan, Karier Terhambat, hingga Merepotkan Orang Tua (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Cepat atau lambat studi tidak memengaruhi kesuksesan hidup. Hanya saja, ada banyak penyesalan ketika menyelesaikan kuliah 7 tahun.

Sejak pertama kali masuk kuliah pada 2016 silam, saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa saya nggak boleh molor kuliahnya. Saya harus lulus tepat waktu. Kalaupun molor, toleransinya hanya dua semester (satu tahun). Janji ini bukan tanpa alasan. Beasiswa kuliah saya hanya menanggung 8 semester (4 tahun) masa kuliah saya. Dan, kalau sampai saya molor, itu berarti saya harus bayar sendiri. Bahkan, bisa jadi beasiswa saya dicabut di tengah jalan.

Janji itu saya pegang betul. Kuliah saya nggak molor (setidaknya nggak melebihi batas toleransi). Saya berhasil lulus cukup tepat waktu, selama 9 semester (4,5 tahun). Karena itu, saya jadi punya banyak waktu untuk mengejar banyak hal, khususnya untuk meniti karier. Dengan lulus tepat waktu, saya juga bisa melanjutkan hidup tanpa ada rasa penyesalan.

Bukan apa-apa, sebab ada beberapa kawan yang tidak seberuntung saya, mereka yang kuliah 7 tahun, dan kini punya penyesalan akan hal itu. Sebab dengan kuliah yang molor, beberapa kawan ini melewatkan banyak hal dalam hidupnya, dan nggak bisa lagi melakukan hal-hal yang seharusnya bisa mereka lakukan.

Ditinggal teman seperjuangan dan menghambat karier

Alif nggak pernah membayangkan bahwa dirinya akan berakhir menjadi admin jasa pengiriman ekspedisi. Ketika kuliah, Alif yang dulu kuliah di jurusan Ilmu Administrasi Negara salah satu kampus negeri terbaik di Malang ini bercita-cita ingin jadi pegawai BUMN/BUMD, konsultan, atau minimal PNS. Tapi, cita-cita Alif ini perlahan sirna karena kesalahannya sendiri.

“Gara-gara aku kuliah 7 tahun, aku jadi agak susah untuk mewujudkan apa yang dulu tak cita-citakan,” ujar Alif kepada saya. Alif yang masuk kuliah pada 2014, sebenarnya sudah punya pandangan akan masa depannya. Dalam bayangan Alif dulu, dia membayangkan akan kuliah maksimal 5 tahun, lalu daftar BUMN/BUMD. Kalau gagal, mungkin dia akan cari lowongan di bidang konsultan, atau minimal daftar CPNS. Itu yang ada di kepala Alif. Tapi, kenyataan berkata lain.

Di pertengahan masa kuliahnya, Alif mulai ngaco. Gara-gara keasyikan main game semacam DOTA, kuliah Alif perlahan terbengkalai. Semester demi semester, Alif harus menerima bahwa IPK-nya nggak pernah lebih dari 2,5 dan Alif harus mengulang banyak mata kuliah. Imbasnya, kuliah Alif molor, dia nggak bisa lulus tepat waktu, dan mau nggak mau harus mengejar ketertinggalannya. Akhirnya, setelah perjuangan panjang dan sendiri, Alif berhasil lulus tahun 2021, itupun dengan hasil yang biasa saja.

“Nek ditanya nyesel, ya pasti nyesel. Pertama, aku kehilangan teman seperjuangan. Kebanyakan teman-teman terdekatku lulus duluan. Jadi ketika masa skripsi atau lagi mengulang matkul, aku nggak punya teman untuk membimbing dan menemani. Kedua, ya karierku terhambat. Aku jadi kesusahan untuk jadi pegawai BUMN dan sebagainya,” ujar Alif.

Baca Juga:

Alasan Saya Lebih Nyaman Diajar Dosen Muda daripada Dosen Tua

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

Alif melanjutkan bahwa usianya yang menginjak 26 tahun ketika lulus kuliah bikin dirinya nggak punya banyak pilihan. Plus, Alif lulus ketika covid sedang ganas-ganasnya. Cari kerja makin susah. Mau daftar BUMN susah dan pastinya kalah sama yang muda-muda. Mau daftar CPNS juga sudah pernah gagal dan malas mengulangi lagi. Intinya, kata Alif, dia nggak punya banyak waktu.

Menyesal kuliah 7 tahun karena merepotkan orang tua

Satu penyesalan besar Alif terkait kuliah 7 tahun adalah terkait orang tua. Iya, selama kuliah 7 tahun, Alif dibiayai oleh orang tuanya. Alif mungkin beruntung karena orang tuanya masih mau membiayai kuliahnya, dan biaya semesterannya masih belum terlalu mahal (apalagi kalau dibandingkan sekarang). Tapi, bagaimanapun juga, Alif menyimpan penyesalan terkait hal itu.

“Yo gak enak ae karo bapak-ibuk,” ujar Alif. “Bapak-ibuk membiayai kuliahku selama 14 semester. Per semesternya 2 juta. Kalau ditotal lumayan itu angkanya. Kasihan juga sama orang tua, apalagi sekarang gagal jadi apa yang dulu tak cita-citakan.” lanjut Alif.

Senasib dengan Alif, teman saya yang lain Alfan lulusan Manajemen UM, juga menyesali hal serupa. Alfan yang kuliahnya molor hingga 7 tahun karena terlalu sibuk nongkrong dan menggeluti game Mobile Legend ini mengaku menyesal karena sudah merepotkan orang tuanya. Selama 7 (2015-2022) tahun itu, biaya kuliah Alfan ditanggung oleh kedua orang tuanya.

“Yang tak sesali ya orang tua. Apalagi soal biaya, kan, mikir juga, karena dibiayai orang tua. Kasihan orang tua, apalagi aku nggak ikut wisuda juga. Itu tok, sih.” ujar Alfan.

Nggak semua punya penyesalan sedalam itu

Meskipun Alfan punya penyesalan terkait kuliah 7 tahun karena merepotkan orang tua, Alfan secara umum nggak terlalu menyesali keputusannya kuliah selama 7 tahun. Apalagi kalau kaitannya dengan karier. Baginya, mau kuliah 4 tahun atau 7 tahun itu sama saja. Terlebih di bidang yang digeluti Alfan saat ini (Alfan bekerja sebagai sales pupuk dan obat pertanian), kuliah berapa tahun dan ijazah itu seakan nggak guna.

Bahkan, ketika saya tanya apakah ada penyesalan terkait cita-cita, Alfan malah berkelakar. “Lha wong aku iki pro-player, kok,” Alfan lalu menegaskan bahwa dia mungkin akan jadi pro-player Mobile Legend. Kalau nggak (dan memang nggak), dia akan jadi petani, atau mungkin buka bisnis sendiri, meskipun saat ini dia masih jadi sales.

Alif dan Alfan mungkin bisa jadi contoh kecil dari mereka yang mengalami kuliah selama 7 tahun. Alif mungkin cukup mewakili kebanyakan orang yang bernasib sama. Mereka menyesali kuliahnya yang molor, yang mana sampai berpengaruh ke banyak hal dalam hidupnya. Tapi ada juga orang-orang yang seperti Alfan, yang nggak terlalu menyesali kuliahnya yang molor, bahkan terkesan biasa saja karena nggak banyak mempengaruhi karier atau pekerjaannya sekarang.

Intinya, kalau kata orang Jawa, “urip iku sawang-sinawang” memang.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Alasan Saya Memilih UGM sebagai Tempat Kuliah S1 meski di Awal Sempat Ingin Merantau.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Oktober 2025 oleh

Tags: 7 tahunKuliahkuliah 7 tahunkuliah lamaMahasiswamahasiswa tua
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Tips Lulus Cepat dan Cum laude Tidak Berfungsi untuk Kaum Bad Luck terminal mojok.co

Katanya Mahasiswa Pintar, tapi kok Nggak Cum Laude?

30 Juni 2023
masa lalu

Mahasiswa Sekarang dan Romantisme Masa Lalu yang Bikin Kesel

30 September 2019
Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru Mojok.co

Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru

1 November 2023
Rahasia Lulus Kuliah Lebih Cepat: 10 Online Tools yang Membantu Mahasiswa Menyelesaikan Skripsi

Rahasia Lulus Kuliah Cepat: 10 Online Tools yang Membantu Mahasiswa Menyelesaikan Skripsi

9 April 2023
suka duka KRS mojok

Di Kampus Saya, Waktu KRS Adalah Waktu Penuh Drama yang Menggemaskan

27 Juli 2021
Dulu Sepelekan Kuliah, Kini Nangis Gaji di Bawah UMR (Unsplash)

Dulu Bilangnya Kuliah Cuma Formalitas, Sekarang Nangis Karena Gaji Masih di Bawah UMR Meski Sudah 5 Tahun Kerja

3 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Malas dan Tidak Punya Uang Mojok.co

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

8 Januari 2026
Alasan Booth Nescafe di Kulon Progo Selalu Ramai, padahal Cuma Kecil dan Menunya Itu-Itu Saja Mojok.co

Alasan Booth Nescafe Bisa Jadi Primadona Ngopi Baru di Kulon Progo

6 Januari 2026
Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA Mojok.co

Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA

9 Januari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal

6 Januari 2026
Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

5 Januari 2026
Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

Dosen Indonesia Itu Bukan Peneliti, tapi Buruh Laporan yang Kebetulan Punya Jadwal Ngajar

6 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah
  • Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal
  • Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.