Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Pengendara Motor yang Juga Pengguna Kacamata Adalah Orang Paling Sial ketika Hujan

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
8 Januari 2026
A A
Pengendara Motor yang Juga Pengguna Kacamata Adalah Orang Paling Sial ketika Hujan

Pengendara Motor yang Juga Pengguna Kacamata Adalah Orang Paling Sial ketika Hujan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Hujan selalu datang dengan cara yang tidak adil. Bagi sebagian orang, ia hanya urusan jas hujan dan jalan basah. Tapi bagi pengendara motor yang memakai kacamata, hujan adalah kesialan yang berlapis-lapis. Pandangan mendadak buram, refleks melambat, dan rasa waswas naik dua tingkat. 

Ketika orang lain masih bisa melaju dengan “hanya” mengeluh kedinginan, kami sibuk bernegosiasi dengan nasib: mau tetap jalan dengan penglihatan setengah mati, atau menepi sambil menerima kenyataan bahwa perjalanan hari ini akan jauh lebih lama dari seharusnya.

Hidup sebagai pengguna kacamata saja sebenarnya sudah cukup merepotkan. Kami ini manusia yang selalu butuh alat bantu. Bangun tidur cari kacamata. Mau mandi cari kacamata. Kacamata jatuh, panik. Padahal logikanya lucu: kami mencari benda agar bisa melihat, tapi untuk mencarinya, kami justru tidak bisa melihat.

Kesialan itu masih bisa ditoleransi kalau hidup hanya soal duduk, membaca, dan berjalan pelan-pelan. Masalahnya, hidup jarang sesederhana itu. Ada satu fase hidup yang membuat penderitaan pengguna kacamata naik level: ketika harus mengendarai motor.

Susahnya jadi pengendara motor berkacamata: ketika hujan turun, pandangan ikut luntur

Buat yang belum paham, izinkan saya jelaskan secara perlahan. Ketika pengendara motor berkacamata kehujanan, air hujan akan menempel di lensa kacamata. Seketika pandangan jadi buram. Dunia berubah jadi lukisan abstrak. Lampu kendaraan lain menyebar seperti video buram.

Oke, mungkin solusinya menutup kaca helm. Masalahnya, air hujan juga membasahi kaca helm. Jadilah buram bertumpuk buram. Kacamata basah, helm basah, penglihatan pun ikut menyerah. Mungkin terdengar alay dan berlebihan, tapi inilah realitasnya.

Bagi pengguna helm full face, mungkin mereka lebih “enak”. Cuma, ketika kaca helm sudah kalah melawan air hujan, ujungnya ya sama saja.

Bagi pengendara motor bermata “normal”, biasanya tinggal membuka kaca helm. Angin menerpa wajah, air mengalir, pandangan kembali jernih. Tapi itu berlaku kalau Anda tidak mengalami masalah dengan kondisi mata sehingga harus pakai kacamata.

Baca Juga:

3 Kebiasaan Pengendara Motor di Solo yang Dibenci Banyak Orang

Saya Hidup Cukup Lama hingga Bisa Melihat Wonosobo yang Daerah Pegunungan Itu Kebanjiran

Efek daun talas itu hak istimewa

Sebagai warga biasa dengan ekonomi yang mendat-mendut, saya hanya mampu membeli kacamata berlensa standar. Tidak ada efek daun talas. Tidak ada teknologi anti-air. Air hujan tidak mengalir indah seperti iklan. Yang ada menempel, membentuk titik-titik kecil yang membuat jarak pandang tinggal kira-kira.

Apakah saya tidak menginginkan lensa tersebut? Tentu saja saya ingin, masalahnya dompet saya tidak demikian. Harganya agak kurang masuk. Setidaknya bagi ekonomi saya. Iya, di satu titik saya juga sadar, “efek daun talas” adalah simbol kelas sosial. Pengguna kacamata, terlebih pengendara motor, yang bisa melihat jelas saat hujan, adalah mereka yang hidupnya sedikit lebih beruntung.

Sementara kami, para pengguna kacamata kelas menengah ke bawah, hanya bisa mengelap lensa dengan jaket, kaus, atau tangan basah, lalu berharap keajaiban agar hujan segera mereda.

Perjalanan yang lambatnya berlipat-lipat 

Saya pernah mengalami pengalaman paling menyebalkan: kehujanan dari perbatasan Lamongan–Mojokerto sampai Lamongan utara. Kalau kondisi normal, perjalanan itu sekitar dua jam. Santai. Wajar. Bisa sambil maido pemerintah.

Tapi karena hujan dan pandangan kabur, saya terpaksa melaju pelan. Sangat pelan. Setiap lampu kendaraan lawan arah terasa seperti flash kamera. Setiap genangan air terasa seperti jebakan Batman.

Akibatnya, durasi perjalanan itu hampir dua kali lipat. Bukan karena macet. Bukan karena rusak. Tapi karena saya tidak bisa melihat dengan layak. Saya memilih selamat ketimbang sok gagah dengan kecepatan. 

Di titik itu, hujan bukan lagi romantis. Hujan adalah kesialan, setidaknya bagi pengendara motor pengguna kacamata seperti saya. Iya, bagi pengendara motor pengguna kacamata, hujan bukan sekadar cuaca. Ia adalah ujian hidup yang datang tanpa aba-aba. Ah, hidup memang kadang sial sekali memang.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Beberapa Momen yang Bikin Saya Sadar Pakai Kacamata Itu Nggak Enak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: hujankacamatakacamata antiairPengendara Motor
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Kendaraan Plat F Adalah Maut, Musuh Bersama Pengendara Se-Jadetabek!

Kendaraan Plat F Adalah Maut, Musuh Bersama Pengendara Se-Jadetabek!

29 Juli 2024
musim hujan cara mengurangi potensi basah kuyup ketika hujan turun mojok.co

Menghitung Potensi Basah Kuyup ketika Bepergian Saat Musim Hujan

4 November 2020
Honda Scoopy, Motor dengan Lampu Jauh Paling Nyebelin

Honda Scoopy, Motor dengan Lampu Jauh Paling Nyebelin

21 Mei 2023
pencinta hujan

Yang Mendaku Pencinta Hujan Itu Apa Suka Mengumpat Juga Kalau Tiba-Tiba Hujan?

5 Maret 2020
3 Keapesan yang Cuma Dirasakan Orang Berkacamata. Yang Sabar, Bos! terminal mojok.co

3 Keapesan yang Cuma Dirasakan Orang Berkacamata. Yang Sabar, Bos!

5 November 2020
Setelah Cuci Motor Kok Sering Hujan: Selain Saya, Siapa Lagi yang Mengalami?

Setelah Cuci Motor Kok Sering Hujan: Selain Saya, Siapa Lagi yang Mengalami?

6 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Karimun Wagon R: Mobil Kecil yang Menyelamatkan Pemiliknya dari Gosip Kampung

Karimun Wagon R, Rekomendasi Cerdas Mobil Pertama untuk Kaum Mendang-mending yang Belajar Punya Mobil

15 April 2026
Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup (Unsplash)

Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup

19 April 2026
Selama Real Madrid Tidak Percaya dengan Strikernya, Lupakan Meraih Gelar UCL ke-16

Real Madrid Tanpa Trofi (Lagi), Saatnya Buang Vini

16 April 2026
Honda Supra X 125 Motor Terbaik? Ngawur, yang Terbaik Tetap Karisma (Unsplash)

Tak Hanya Supra, Honda Karisma Juga Jadi Tulang Punggung Keluarga Kelas Menengah di Indonesia

16 April 2026
Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-Sama Terlupakan  Mojok.co

Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-sama Terlupakan 

17 April 2026
Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Bekerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak Mojok.co

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

20 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • WNA Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Kontrak di Indonesia dan Mengabdi untuk Anak Pekerja Migran di Sana
  • WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”
  • Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga
  • Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!
  • Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran
  • Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.