Menghitung Potensi Basah Kuyup ketika Bepergian Saat Musim Hujan – Terminal Mojok

Menghitung Potensi Basah Kuyup ketika Bepergian Saat Musim Hujan

Artikel

Adriel Prastyanto

Musim hujan sudah mulai datang menjadi pertanda baik bagi kalangan yang memang diuntungkan oleh hujan. Petani tidak perlu takut sawahnya kekeringan, ojek payung bisa mulai beroperasi, tapi bagaimana dengan mobilitas kita di tengah hujan yang kini kerap datang sekonyong-konyong?

Orang yang perlu bepergian pasti akan kesusahan bila harus keluar dan menerjang hujan di jalanan. Apalagi bila mereka tidak memiliki jas hujan maupun payung. Biasanya jika hanya dari rumah ke toko samping rumah, tidak akan jadi masalah. Tak diragukan pasti akan lari agar segera sampai tempat tujuan dan tidak semakin basah kuyup. Lalu muncul pertanyaan: untuk mengurangi kemungkinan tubuh basah ketika hujan telanjur turun, lebih baik kita berlari atau berjalan?

Kita pasti akan refleks menjawab: berlari. Untuk perhitungan yang lebih presisi, ada dua variabel yang harus dihitung. Pertama, jumlah air hujan yang jatuh dari atas (mengenai kepala). Kedua, jumlah air hujan yang datang dari samping (mengenai tubuh).

Jika sedang berteduh, yang perlu dihitung adalah jumlah air yang jatuh di kepala. Tentunya, usahakan menjauhi tempat yang terbuka agar tidak terkena hujan secara langsung. Usahakan mencari tempat berteduh agar tidak terkena air sama sekali. Jika tidak ada tempat berteduh, cari pohon. Setidaknya, air yang jatuh akan tertahan oleh daun dan ranting pohon.

Jika sedang bepergian atau hendak menuju suatu tempat, yang perlu dihitung ada dua, yakni volume air yang jatuh di kepala dan jumlah air yang datang dari samping. Air yang datang dari samping adalah air yang mengenai tubuh ketika berpindah dari tempat terbuka ke tempat yang teduh. Untuk air yang jatuh di kepala, jumlahnya akan semakin sedikit jika kita berhasil meneduh. Gerak yang hanya sepersekian detik akan sangat berpengaruh. Walau begitu, air yang datang dari samping tidak akan berkurang sama sekali karena logikanya tempat meneduh yang mudah dijangkau umumnya beratap tapi tidak berdinding.

Jadi, jika harus pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, idealnya adalah dengan lari. Air yang datang dari samping tidak bisa kita hindari, karena kita memang akan menuju ke sana, tapi air yang datang dari atas dapat sebisa mungkin kita kurangi agar tidak mengenai kepala dengan berpindah secara cepat ke titik lain.

Tapi itu semua akan berbeda jika membawa payung. Air yang mengenai kepala dapat dihindari dengan payung. Jika menggunakan payung, tidak dianjurkan untuk berlari. Ketika menggunakan payung, ada zona di bawah payung yang melebihi luas penampang tubuh yang tidak terkena hujan. Berlari akan menyebabkan tubuh keluar dari zona tersebut sehingga tubuh malah jadi basah.

Berbeda lagi jika sambil mengendarai motor. Beruntung jika membawa jas hujan, jika tidak hitungannya ialah “lebih cepat, lebih baik”. Tapi, Anda perlu lebih berhati-hati jika mengendarai kendaraan di bawah hujan. Meskipun jalan beraspal terlihat kokoh dan kasar jika dipegang, hujan dapat membuat kendaraan lebih mudah tergelincir.

Hujan adalah suatu hal yang tidak dapat terhindarkan. Jadi, berusahalah untuk sedia payung sebelum hujan. Bukan, ini bukan peribahasa, tapi literally sedia alat pelindung basah seperti jas hujan atau payung yang benar-benar payung.

Sepertinya mengendarai mobil adalah solusi terbaik untuk menghindari hujan ketika bepergian. Tapi sayangnya, tidak semua orang mampu naik mobil kapan saja ia ingin. Hal yang perlu diperhatikan ketika mengendarai mobil di saat hujan juga soal kecepatan. Ketika hujan cukup deras dan sampai membuat sedikit saja genangan, mobil kita bisa mengalami efek hydroplaning.

Efek hydroplaning disebabkan oleh laju kendaraan yang terlalu cepat sehingga roda kendaraan tidak berada di atas aspal, melainkan di atas air. Dan jika sudah seperti ini, percuma saja mengerem karena roda kendaraan tidak akan mengalami gesekan dengan aspal yang seharusnya membuatnya berhenti. Roda akan tetap berada di atas air sehingga rem menjadi fitur yang sia-sia. Satu-satunya cara ialah menunggu kendaraan melambat dengan sendirinya hingga roda kendaraan berada di atas aspal lagi.

Tampaknya memang tidak ada yang lebih baik dilakukan saat hari hujan selain berada di rumah sambil menikmati mi instan.

Photo by Jalal Kelink on Unsplash

BACA JUGA Ya Tuhan, Haruskah Saya Menyewa Jasa Pawang Hujan?

Baca Juga:  Hujan Itu Nggak Romantis dan Pengendara Motor Tahu Persis Alasannya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
3


Komentar

Comments are closed.