Jas Hujan Ponco Itu Terbaik buat Pemuda Kasmaran – Terminal Mojok

Jas Hujan Ponco Itu Terbaik buat Pemuda Kasmaran

Artikel

Gusti Aditya

Mendebat masalah jas hujan ponco dan mantel egois, itu sama basinya seperti membahas bubur diaduk atau nggak. Tiap hujan datang, pembahasan selalu mantel, mantel, dan mantel. Seakan nggak ada kajian lain seperti kenapa Kali Gajah Wong selalu warna cokelat meling-meling setelah hujan.

Gobloknya, saya mau turun gunung ikut membahas seputar masalah mantel ini. Okelah Mas Seto Wicaksono mempunyai pengalaman bahwa jas hujan ponco (di daerah saya bernama mantol klebet batman) berbahaya. Pun Mas Riyanto yang sukses mengadu mantel-mantel yang menurutnya oke dan mbois. Oke lah, oke.

Tapi, menurut saya yang masih mengalir darah muda dan lekat pada per-yang-yangan duniawi, “mantol klebet batman” nggak bisa diganggu-gugat penggunaannya pada yang sedang kasmaran. Apalagi, jika menggunakan mantol klebet batman atau jas hujan ponco saat hujan di Kota Jogja, blas Tugu itu nggak ada romantis-romantisnya dibandingkan momen tersebut.

Saya punya pengalaman melintasi berbagai kota di berbagai negara dengan menggunakan motor saat hujan. Pun menggunakan beberapa mantel dan bersama pacar, partner, kawan, hingga teman sparing futsal. Semua pernah saya lalui. Namun, soal pacaran, jas hujan batman adalah sebuah anugerah yang Tuhan ciptakan untuk memfasilitasi sebuah keromantisan.

Saya pernah boncengin mantan saya pakai jas hujan egois yang sama persis seperti kemeja. Saya nggak tahu namanya, pokoknya jas hujan model begini harusnya dikutuk saja karena saya yang berbodi besar, bukannya nyaman malah bagian perutnya terasa tertekan. Selama perjalanan, saya hanya bisa atur napas. Nggak ada obrolan blas.

Pun jika saya diajak ngobrol, balasannya selalu template, yakni, “HA?!!!” dengan nada nyenthe. Suasana seperti ini bisa menghadirkan permusuhan dengan cara yang amat sepele. Padahal, “HA?!!!” di sini dilemparkan karena omongan mantan saya nggak terdengar. Bukan bermaksud ngajak berantem.

Permasalahan amat mendasar dan nggak problematis-problematis amat. Pun bukan karena kuping saya congean. Hal ini karena kuping saya sudah tertutup helm standar, kemudian ditutup tudung mantel yang bahannya amat kaku. Lha iya, kalau bahannya lembut itu bukan mantel, tetapi sempak.

Sebulan setelah itu, saya menyuruh mantan saya ini nggak usah bawa mantel. Dengan sok keren dan kemlinthi begitu, saya sudah siapkan jas hujan ponco atau mantol klebet batman. Mantan saya hanya tertawa, sebuah tawa yang sudah saya lupakan keindahannya. Tawa itu ditujukan kepada mantol klebet batman, katanya, “Koyo simbah-simbah.”

Dia nggak tahu aja simbah saya kalau otw ke sawah atau ke pasar jualan sayur, seringnya pakai mobil Carry!

Mak wer hujan pun turun. Akhirnya kesempatan ini datang juga. Kami berteduh, memakai jas hujan ponco. Mantan saya kembali mbebeki, katanya, “Astagfirullah kayak anak SMP mau pergi ke sekolah.” Dia nggak tahu aja anak SMP zaman sekarang sukanya naik taksi online ketika hujan.

Sebuah perbedaan yang nyata. Dalam kondisi Jogja yang sedang menangis itu, suara dia begitu lancar. Suara mantan saya di dalam mantel, laksana bisikan “all around you” ala Dolby Digital. Suaranya berasa di mana-mana. Selain di telinga, lebih dalam lagi mengendap dalam perasaan. Halah kopet.

Masalahnya ketika saya balas obrolannya, blas nggak mashok sama sekali. Alih-alih mendengarkan dengan tenang, sebuah obrolan itu harus ada timbal balik. Pengalaman menggunakan mantol klebet batman, bisa mendengarkan, namun ketika kita membalas bersuara, suara kita nggak terdengar. Ini pacaran atau pemerintah, sih?

Selain obrolan bisa jelas, keuntungan mantel tipe ini sangat dinamis. Memang saya di bagian depan ruang geraknya agak susah, terpenting adalah kenyamanan penumpang. Maklum, mental mantan Gojek masih amat mendarah daging. Mantan saya ini sudah saya anggap seperti mitra sendiri. Bedanya pas turun nggak ada transaksi terjadi. Hanya berupa “hati-hati di jalan” disertai senyuman paling manis. 

Selain dua alasan yang bersifat teknis, juga masalah modis, kapan lagi bisa pacaran sambil cosplay jadi Sasori Akatsuki. Wah, asli, bentukan pakai jas hujan ponco ini sejatinya nggak banget. Norak abis. Tetapi, ketika membayangkan kami berdua sedang cosplay jadi Sasori, saya malah senyum-senyum sendiri. Bahagia itu sangat sederhana, bukan?

Buat kalian yang sedang gandrung dan kasmaran, ada baiknya ketika hujan dan kebetulan naik motor, pakai saja mantol klebet batman. Saya jamin, 50% urusan percintaan kalian akan tuntas. Ditambah 10% jika terjadi pelukan yang spontan. Bagai Hukum Gravitasi Newton, ada sebuah aktivitas tarik menarik yang terjadi dengan sendirinya. Dan jas hujan ponco, memfasilitasi seluruhnya.

Saran saja, jika kalian boncengin kawan kalian atau pacar orang lain, jangan pakai cara ini. Sudah, manut saja sama saya karena percintaan bisa terjadi dalam kondisi apa pun. Sialnya, cinta kadang nggak tahu diri. Ia siap hadir kapan saja, nggak lihat kondisi dan suasana. Bahkan, bisa saja terjadi di dalam lindungan jas hujan yang sama. Panjang umur mantol klebet batman.

BACA JUGA 4 Tempat Pacaran di Jogja yang Harus Dihindari dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Clubhouse Adalah Aplikasi Penunjuk Kelas Ekonomi Masyarakat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
10


Komentar

Comments are closed.