Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Panduan Dasar Bahasa Jawa yang Solo Banget

Dicky Setyawan oleh Dicky Setyawan
11 Desember 2020
A A
Hargai Orang yang Belajar Bahasa Jawa, dong. Jangan Sedikit-sedikit Dibilang Nggak Pantas terminal mojok.co

Hargai Orang yang Belajar Bahasa Jawa, dong. Jangan Sedikit-sedikit Dibilang Nggak Pantas terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Transisi malam menuju pagi, saat langit lumayan mendung di kota Solo, salah seorang teman yang kebetulan baru merantau dari luar pulau dan baru saya kenal meminta evaluasi. Ya, dia seorang pemanggung komedi tunggal, yang di kota asalnya sudah cukup dikenal, namun pertunjukan di kota yang baru baginya dirasa kurang memuaskan. Kurang mashok, Jhonnn. Singkat saja, dengan pengamatan ngawur, saya katakan, sewajarnya fase adaptasi memang begitu. Dan secara spesifik, saya katakan masalah utamanya mungkin soal kultur, terutama bahasa.

Meski ngawur, nyatanya jawaban saya serupa dengan jawaban kawan lain. Saya mencontohkan salah satu pemanggung yang juga seorang perantau luar pulau. Menurut saya, salah satu faktor yang membuatnya kelihatan lebih mashok terutama soal interaksi dengan penonton, selain lumayan cakap berbahasa Jawa yang ia kawinkan dengan logat asalnya, poin plusnya ia juga memahami diksi-diksi yang saya katakan “nyolo” banget. Tanpa keraguan, sebagai orang yang lahir dan besar di kabupaten yang secara garis besar menggunakan pakem Surakartanan, ditambah tiga tahun lebih ngekos di kota Solo. Valid, Ndeee!

“Nyolo banget”, lalu ia bertanya balik, “Solo banget tuh kayak gini? ‘ora to, iyo to’.” Hmmm. Saya katakan saja, itu baru Jawa secara general layaknya artis di tv macak njawani, belum “nyolo” banget. Nyolo banget, gaya bahasa yang khas anak-anak Solo seperti berikut ini. Gaya bahasa yang sejatinya beberapa juga memiliki kemiripan dengan daerah lain, utamanya Jogja dan Semarang. Namun, tetap memiliki ciri khasnya sendiri, layaknya “rakalap” yang tidak ditemukan di pergaulan Solo.

Imbuhan

Orang Solo sering banget menggunakan imbuhan “ik” dan “og” sebagai penekanan di akhir kalimat. “Iyo ik, ora og!”. “Ik” dan “og” sebenarnya mirip dengan “kok” di Bahasa Indonesia sebagai penekanan. Imbuhan yang umum juga dipakai di daerah lain. Untuk menambah kadar ke-Solo-an, kalian bisa menggunakan “no”. “No” di sini lebih mirip seperti “dong” jika di bahasa Indonesia. “Oke, no! Siap, no!”

Menyederhanakan kata

Istilah seperti “Sar Gede” atau “Tosuro” adalah contoh penyederhanaan dari “Pasar Gede” dan “Kartasura”. Orang Solo memang kerap menyederhanakan kata, bukan hanya nama tempat yang terkesan terkonsep, untuk bahasa sehari-hari pun begitu, entah disadari atau tidak. Seperti kata “malah” menjadi “mah”, “wegah” menjadi “gah”, atau “awak e dewe” sekilas menjadi “adewe.” Tapi, nggak semua lho, ya!

Misuh

Cara mudah berkenalan dengan bahasa adalah dengan misuhnya. Walau “asu” dan “bajingan” menempati strata tertinggi misuh di Solo, sejatinya dua kata ini jarang terdengar di kota Solo, umpatan ini dianggap suci, hanya dipakai kalau beneran muntab atau dengan kawan akrab saja. Untuk keseharian, orang Solo juga sering menggunakan kata “lonthe”, yang sebenarnya sama kadar kekasarannya dengan ”asu” dan “bajingan”. Begitu pula yang dirasakan Yusril Fahriza selaku arek Lamongan setengah Jogja saat bergaul dengan Bryan Barcelona sebagai mas-mas Solo di Podcast Bergumam, yang kata Yusril, “lonthe” itu misuh Solo banget.

Dan Solo punya misuh yang “nyolo banget”, layaknya “jancuk” di Jawa Timur, yaitu “ndlogok”. Sama seperti jancuk, ndlogok pun masih diperdebatkan asal-usulnya. Dan orang Solo punya ciri khas sendiri saat misuh, yaitu seperti memplesetkan umpatan seperti “asu” menjadi “asem”, “lonthe” jadi “lontheng” dan lain-lain. Sebenarnya seperti Mas Fadlir tulis soal orang Ngapak yang suka menyederhanakan umpatan, orang Solo pun sama. Bahkan, yang lebih nggak mashok, menyederhanakan umpatan versi plesetan, jadi seperti: sem, jinguk, jilak. Dan agar lebih nyolo, tambahkan “ik” atau “og”. “Su, og. T, ik! Jilak, ik.”

Panggilan

Sebenarnya soal  ini, Solo tidak punya branding kuat seperti “Dab” di Jogja, “Ndes” ala Semarang, “Sam” milik kera Ngalam alias anak Malang. Bahkan, orang Solo cenderung sering meniru panggilan khas daerah lain. Seperti ketika viral video “Tutorial Ngarit” beberapa tahun lalu, lantas membuat “Nda” menjadi panggilan yang familiar di Solo. Untuk hal ini, biasanya panggilan akrab didasarkan  atau tergantung pada lingkar pertemanan. Beberapa tongkrongan mengakrabkan dengan “Jhon”, bisa juga “Nde” ala acara di TATV (tv lokal Solo) atau “Je” dll. Selebihnya, ya, mengadopsi panggilan ala daerah lain.

Baca Juga:

GOR Jatidiri Semarang Memang Tempat Olahraga, tapi Nggak Cocok buat Jogging Pemula

Dosa Jogja kepada Tukang Becak Tradisional: Becaknya Dianggap Warisan Budaya, tapi Pengemudinya Dibiarkan Menua, Lalu Mati dalam Kemiskinan

Sekilas itu tadi adalah panduan bahasa Jawa agar lebih ‘nyolo”, dan jelas masih belum komplit. Setidaknya secara umum yang digunakan di pergaulan sehari-hari. Karena tidak mungkin saya menerjemahkan kata-kata semacam: oglangan, teh kampul, lengo pet, dan lain-lain. Emangnya mau bikin kamus? Semmm, og!

Foto dari situs web Perpustakaan Rekso Pustoko

BACA JUGA Tak Ada Es Teh di Batam? dan tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Desember 2020 oleh

Tags: Bahasa JawaJogjaSemarangsolo
Dicky Setyawan

Dicky Setyawan

Pemuda asal Boyolali. Suka menulis dan suka teh kampul.

ArtikelTerkait

Jalan Palagan Jogja Tak Terawat dan Membahayakan Wisatawan (Unsplash)

Penuh Lubang dan Gelap, Jalan Palagan Jogja Semakin Berbahaya bagi Pengguna Jalan dan Wisatawan

11 Agustus 2024
IVAA, Hidden Gem Perpustakaan dan Arsip Seni di Jogja

IVAA, Hidden Gem Perpustakaan dan Arsip Seni di Jogja

10 Desember 2022
7 Kecamatan yang Lebih Populer Ketimbang Kabupatennya di Karesidenan Semarang (Unsplash.com)

7 Kecamatan yang Lebih Populer Ketimbang Kabupatennya di Karesidenan Semarang

7 Oktober 2022
Panduan Singkat Menggunakan "Ta" ala Jawa Suroboyoan

Ojo ngasal, Rek. Ini Panduan Singkat Menggunakan “Ta” ala Jawa Suroboyoan yang Benar

1 Juli 2023
Surakarta, Kota yang Pandai Mematahkan Harapan Orang (Unsplash)

Buat Saya, Surakarta Nggak Seindah Kata Orang. Kotanya Panas, Pengendaranya Ngawur

7 September 2024
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

20 Mei 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

3 Alasan Kuliah di Jatinangor Adalah Training Ground sebelum Masuk Dunia Kerja

18 Mei 2026
Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri, alias Menyulitkan Diri Sendiri!

Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri

20 Mei 2026
Mengenal Kabupaten Bungo, Tempat Awal Mula Sumber "Sumatera Blackout" yang Bikin Satu Pulau Geger

Mengenal Kabupaten Bungo, Tempat Awal Mula “Sumatera Blackout” yang Bikin Satu Pulau Geger

23 Mei 2026
Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Dunia Kerja yang Bikin Pekerja Keras Tersingkir dan Menderita Mojok.co

Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Kantor yang Bikin Pekerja Lain Tersingkir dan Menderita

21 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.