Beberapa waktu lalu, saya sempat menonton food vlogger yang sedang mengulas makanan khas Madura, yaitu rujak soto. Food vlogger kemudian nyeletuk makanan yang disantapnya nggak seperti rujak dan soto, malah lebih mirip gado-gado dan soto.
Sebagai penonton, saya tentu merasa bingung. Menurut saya, penjualnya sudah benar menamakan jualannya dengan rujak soto. Sebab, makanan tersebut memang percampuran antara rujak dan soto.
Lalu, berbekal rasa penasaran, saya mencari tahu asal-muasal celetukannya. Saya menemukan fakta bahwa gado-gado yang selama ini saya kenal berbeda jauh dengan yang orang lain ketahui.
Gado-gado di Madura lebih mirip gado-gado Surabaya
Berdasarkan hasil riset kecil-kecilan saya, ternyata gado-gado yang beredar di Indonesia itu ada tiga jenis varian yang berasal dari tiga daerah berbeda.
Pertama, gado-gado khas Betawi Jakarta yang bumbu kacangnya diulek. Kedua, gado-gado khas Surabaya Jawa Timur yang bumbu kacangnya dicampur santan lebih dulu dan dimasak hingga mengental. Ketiga, gado-gado khas Padang Sumatera Barat yang mirip banget sama gado-gado Surabaya, hanya berbeda toping kerupuk warna merah yang melengkapinya.
Setelah saya telisik, ternyata gado-gado yang selama ini saya konsumsi adalah gado-gado khas Surabaya Jawa Timur. Mungkin karena Madura berdekatan dengan Surabaya kali, ya. Jadi ada semacam percampuran budaya kuliner gitu.
Topping sayuran gado-gado Betawi lebih beragam dan cara penyajiannya mirip rujak Madura
Setelah saya kulik lebih jauh lagi, ternyata selain pengolahan kuah kacangnya yang berbeda, topping sayuran gado-gado Surabaya berbeda jauh dengan gado-gado lainnya. Khususnya gado-gado dari Betawi Jakarta. Bahkan, menurut saya, topping dan cara penyajian gado-gado Betawi itu justru lebih mirip rujak di Madura.
Untuk gado-gado khas Surabaya, topping sayuran biasanya hanya cukup tauge, kentang, dan kubis rebus. Jika ada tambahan, paling selada agar penyajiannya tampak manis.
Sementara topping sayuran di gado-gado Betawi cukup beragam. Bisa ada kangkung, bayam, kacang panjang, hingga wortel. Semuanya ditumpahkan dalam cobek, lalu dicampur dengan bumbu kacang yang tadi sudah diulek halus.
Mengetahui cara penyajian dan topping sayuran gado-gado Betawi tersebut, saya jadi teringat pada rujak Madura yang topping sayur (minus wortel) serta penyajiannya hampir sama persis. Lalu, saya jadi merasa maklum pada food vlogger yang sebelumnya menyatakan bahwa rujak soto khas Madura ini justru lebih mirip percampuran soto dan gado-gado khas Jakarta, hehe.
Gado-gado khas Surabaya lebih dominan rasa manis
Sebagai orang Madura yang terbiasa makan gado-gado khas Surabaya yang dominan rasa manis, saya kaget kalau harus makan gado-gado Betawi yang lebih nano-nano. Ada rasa gurih, manis dari gula jawa, serta asam yang berasal dari air asam Jawa.
Menurut saya, rasa gado-gado khas Betawi benar-benar mirip rujak Madura. Bedanya, rujak Madura nggak pakai air asam jawa dan gula jawa aja sebagai pemanis, tetapi pakai petis hitam Madura sebagai bumbu dasarnya.
Saya sebenarnya merasa curiga, alasan mengapa gado-gado di Surabaya ini dimodifikasi dengan mencampur santan dan memasaknya hingga mengental adalah karena rujak Madura tadi.
Madura dan Surabaya yang berdekatan tentunya sudah mengalami asimilasi kuliner. Rujak Madura hampir mirip dengan rujak cingur khas Surabaya. Makanya, makanan seperti gado-gado khas Betawi tadi harus mendapatkan sedikit perubahan biar nggak tertukar dengan rujak, hehe.
Akan tetapi, saya tetap bersyukur mengenal gado-gado versi Surabaya Jawa Timur ini. Saya jadi punya referensi kuliner lebih banyak dengan rasa yang lebih beragam. Saya nggak bisa membayangkan kalau gado-gado khas Betawi justru diadopsi oleh orang Madura. Pastinya saya akan kebingungan karena rasanya yang mirip-mirip rujak.
Penulis: Siti Halwah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Bangkalan Lebih Cocok Jadi Ibu Kota Provinsi Madura daripada Pamekasan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













