Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Orang Indonesia: Ngaku Toleran Tapi Tebang Pilih, Ngaku Baik Tapi Selektif

Aliurridha oleh Aliurridha
11 Maret 2020
A A
orang indonesia

Orang Indonesia: Ngaku Toleran Tapi Tebang Pilih, Ngaku Baik Tapi Selektif

Share on FacebookShare on Twitter

Dari dulu saya ragu mempercayai bahwa orang Indonesia itu toleran dan memiliki empati kepada sesamanya. Sekarang saya jadi yakin bahwa mayoritas orang Indonesia benar memiliki rasa toleransi dan empati, hanya saja toleransinya tebang pilih. Sudah gitu, empatinya selektif pula.

Ada berbagai makna kata toleransi yang ada di benak orang Indonesia. Salah satunya toleransi dimaknai dengan tidak adanya konflik yang muncul di permukaan. Mungkin itu juga yang ada di benak Pak Kiai/Wakil Presiden/Ketua MUI ketika mengatakan bahwa India harus meniru Indonesia dalam membangun toleransi. Mungkin juga buat dia dan banyak orang Indonesia kebanyakan, toleransi itu adalah ketika mayoritas menekan minoritas dan minoritas tidak membalas sehingga tidak tercipta konflik.

Misalnya pada bulan ramadhan ketika mayoritas umat Islam berpuasa, segelintir orang yang merasa terganggu ibadahnya karena imannya yang rapuh dan mudah tergoda jika melihat warung makan buka menuntut untuk ditutupnya semau warung. Karena itu digrebeknya warung-warung makan itu untuk tidak buka meskipun ada juga beberapa orang non muslim dan muslim yang tidak berkewajiban berpuasa dipaksa harus ikut berpuasa.

Toleransi juga seringkali dimaknai secara sempit hanya pada tataran antar umat beragama. Padahal toleransi itu luas, tidak terpaku hanya pada urusan antar umat beragama. Misalnya toleransi yang dimiliki para pengusaha ke terhadap kelas pekerja yang memungkinkannya untuk lebih peduli pada nasib kelas pekerja. Bukannya malah bahu-membahu bersama elit negeri membuat RUU Cilaka yang justru tidak toleran hanya mementingkan keuntungan kaumnya, kaum pengusaha.

Pemaknaan sempit toleransi menghasilkan apa yang disebut empati selektif seperti reaksi orang Indonesia terhadap apa yang terjadi di India. Akibatnya adalah bias dalam melihat suatu fenomena dan memiliki standar ganda. Di satu sisi berempati terhadap saudaranya tertindas di jauh sana namun membiarkan penyerangan, pengusiran, persekusi, dan kekerasan yang dilakukan terhadap Ahmadiah maupun Syiah. Apa namanya ini kalau bukan empati selektif?

Tulisan saya sebelumnya yang mempertanyakan sikap Ma’ruf Amin yang menganggap Indonesia sudah sangat toleran dan meminta India belajar dari Indonesia mendapatkan reaksi yang sesuai praduga saya. Sebenarnya selain mengkritik Ma’ruf saya berniat juga menguji hipotesis saya bahwa orang Indonesia belum cukup memahami toleransi. Saya sedang memancing dan melihat komentar-komentar yang muncul saya haqqul yakin toleransi orang Indonesia mayoritas masih tebang pilih-pilih, empatinya juga selektif terhadap golongannya saja.

Saya berani mengatakan mayoritas karena dengan ilmu statistik (biar keren saja padahal masih bisa dihitung dengan matematika sederhana) jumlah yang berkomentar buruk jauh, jauh, dan jauh lebih buannnyyyaakkk dari berkomentar baik. Tentu saja secara metode riset ini masih mentah namun setidaknya ia bisa menguji asumsi saya dengan bukti nyata. Siapa tahu nanti ada yang lebih serius melakukan riset dengan metodologi dan instrumen yang lebih baik.

Melihat komentar-komentar yang lebih tepatnya lagi cercaan beserta caci maki yang muncul dalam tulisan saya itu maka saya berani mempertahankan kesimpulan saya di hadapan para pembaca yang sudah saya anggap sebagai dosen penguji thesis. Saya teguh mempertahan kesimpulan saya bahwa orang Indonesia memiliki toleransi yang tebang pilih dan empati selektif. Lihat saja komentar-komentar yang muncul dari artikel yang saya tulis. Salah satunya yang layak sekali dibahas adalah komentar si Bambang (bukan nama sebenarnya, kalau mau tahu lihat sendiri haha).

Baca Juga:

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

“Yg nulis artikel ini kurang luas wawasan agamanya dan ga faham arti toleransi yg sebenarnya. Kasus ahmadiyah tdk sama dg kasus pembantaian muslim di India. Bgt pula dg ijin mendirikan rumah ibadah, bisa dibayangkan klo semua agama bebas bikin rumah ibadah dimana sj, justru akan berakibat fatal. Hadeuh…lieur euy…”

Saya tidak akan ribut jika ada yang mengatakan wawasan agama saya luas, itu tidak salah. Saya tidak akan mendebat itu selain buang waktu saya tidak perlu justifikasi akan hal itu karena saya tidak sedang mencari umat tapi kalau soal toleransi mari kita perdebatkan. Si Bambang rupanya lagi keseleo otaknya jika peristiwa yang dialami Ahmadiyah dianggap bukanlah tindakan intoleran dan kalau semua agama bebas mendirikan rumah ibadah bisa fatal.

Warga Ahmadiyah diserang karena kepercayaannya berbeda dengan kepercayaan mayoritas dan jika itu dianggap sesat biarlah Allah yang menghukumnya kelak jika mereka dinyatakan bersalah. Bukannya Al Quran mengtakan “Hak hukum (putusan) hanya miliki Allah” (Qs. Yusuf: 40) dan “Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu bagi-Nya dalam menentukan hukum” (Qs. Al-Kafi: 26).

Jadi secara jelas Al Quran mengatakan tidak satu pun dari kita (manusia) memutuskan bahwa seseorang berbuat dosa dan menghukumnya. Tidak Ma’ruf, tidak ulama, tidak Pendeta, tidak Rabi, tidak Paus, tidak pula mereka yang menyerang jemaah Ahmadiah, dan tentu saja tidak Anda Bambang. Kalau Anda Bambang Cs menggunakan otoritas sebagai mayoritas untuk melakukan tindakan kekerasan hanya karena Anda berasumsi bahwa mereka sesat itu namanya Anda sedang bermain menjadi Tuhan atau sekutunya Tuhan. Padahal pernyataan sesat itu tidak lebih dari argumen apriori yang belum bertemu dengan pengalaman.

Lucunya ada juga yang menuduh Ahmadiah itu sama dengan ISIS hanya “belum radikal saja” tapi akidahnya sudah berbeda. Duh bahasan berat ini kalau sudah menyangkut “akidah” apalagi dengan umat-umat yang akidahnya fragile banget, gampang pecah, rusak hanya karena ada yang memiliki kepercayaan berbeda. Sifat paranoid umat ini sampai di level akut, dikit-dikit itu bisa merusak akidah umat. Iman manusia itu dinamis jika ia statis Anda justru patut curiga jangan-jangan…. Ah lanjutkan saja sendiri…

Saya tidak membela Ahmadiyah bukan karena saya meyakini apa yang diyakini oleh jemaah Ahmadiyah. Saya membela karena saya juga umat beragama dan terlebih dari itu saya manusia. Saya tidak ingin ada kelompok yang diserang ketika beribadah. Jika pun klaim mayoritas menganggap itu sesat ya biarkan saja Allah sebagai otoritas tertinggi yang memutuskan bila perlu menghukum. Memangnya situ siapanya Allah boleh memutus dan menghukum seseorang?

Saya sangat bersyukur kalau sampean punya empati kepada penderitaan umat Islam di berbagai penjuru sana. Tapi punya empati itu jangan selektif gitu hanya kepada golongannya saja. Kita memang patut mengecam apa yang dialami umat islam di Palestina, India, dan Uighur. Tapi jangan juga melihat yang jauh tapi yang dekat terlupakan. Sudah adilkah kita pada saudara kita di sini. Jangan sampai semut di seberang lautan terlihat tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat.

BACA JUGA Ma’ruf Amin Mau Ajarkan India Soal Toleransi, Itu Ahmadiyah Apa Kabarnya Pak? atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2020 oleh

Tags: konflikorang indonesiaToleransi
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

Branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia yang Berlebihan

Branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia yang Berlebihan

20 Maret 2022
Jogja di Mata Orang Solo: Saya Tak Punya Cukup Alasan Membenci Jogja

Jogja di Mata Orang Solo: Saya Tak Punya Cukup Alasan Membenci Jogja

1 Agustus 2022
agama

Pengalaman Berpuasa dengan Teman Nasrani

11 Mei 2019
Juhachi Kippu: Cara Orang Jepang Keliling Negara Menggunakan Kereta

Nembak Kereta, Kelakuan Memalukan Orang Indonesia di Jepang

25 Mei 2023
agama berbeda

Mengapa Manusia Menganut Agama Berbeda-beda?

30 Juni 2019
Apa Jadinya kalau Orang Indonesia Nggak Suka Sambal?

Apa Jadinya kalau Orang Indonesia Nggak Suka Sambal?

9 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan Mojok.co

Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan

1 Mei 2026
Vario 125, Motor Honda yang Bikin Sesal, tapi Nggak Tergantikan (Wikimedia Commons)

Saya Menyesal Nggak Pakai Vario 125 dari Dulu karena Motor Honda Ini Nggak Bikin Bangga tapi Nyatanya Nggak tergantikan

1 Mei 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
Jalan Monginsidi, Jalan Braganya Salatiga: Ikonik dan Nggak Kalah Cantik kabupaten semarang

Bohong kalau Ada yang Bilang Wisata Alam Salatiga itu Beragam, wong Destinasi Wisata Ini Aja Numpang di Kabupaten Semarang

1 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun
  • Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau
  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.