Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
28 April 2026
A A
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada sesuatu yang menarik dari Salatiga. Kota kecil di Jawa Tengah ini kembali menempati peringkat pertama Indeks Kota Toleran 2025 versi SETARA Institute, mengalahkan banyak kota lain yang lebih besar, lebih ramai, dan lebih sering muncul di berita. Dengan skor 6,492, Salatiga dinilai sebagai kota paling toleran di antara 94 kota yang dievaluasi. Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya angka itu, melainkan cara warga menyikapinya dengan tenang, tanpa euforia berlebihan, seolah-olah menjadi kota paling toleran memang hal yang wajar.

Sikap datar itu justru terasa penting. Di banyak tempat, toleransi sering diperlakukan seperti proyek yang harus diumumkan, dipajang, lalu dipublikasikan sebagai prestasi. Di Salatiga, toleransi tampaknya lebih dekat dengan kebiasaan hidup sehari-hari. Ia tidak hadir sebagai slogan, melainkan sebagai cara warga berinteraksi. Karena itulah Salatiga sering terasa Istimewa bukan karena berisik soal kerukunan, tetapi karena kerukunan itu benar-benar tampak menjadi bagian dari keseharian.

Baca juga 7 Hal yang Menegaskan Bahwa Salatiga Adalah Kota Terbaik di Jawa Tengah untuk Pensiun.

Salatiga, kota kecil dengan kehidupan yang beragam

Salatiga hanya memiliki empat kecamatan, tetapi di dalam ruang kota yang relatif kecil itu hidup masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Kehadiran berbagai kelompok etnis dan agama membuat kota ini sering digambarkan sebagai miniatur Indonesia. Salah satu faktor yang kerap disebut berpengaruh adalah keberadaan perguruan tinggi, terutama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan IAIN Salatiga, yang sama-sama menarik mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Dari sinilah keberagaman tidak hanya hadir di atas kertas, tetapi benar-benar masuk ke ruang-ruang sehari-hari, seperti kos, warung makan, kampus, jalan kota, dan lingkungan tempat tinggal.

Keberagaman itu penting bukan semata karena jumlahnya, tetapi karena ia bertahan tanpa terlalu banyak drama. Di banyak kota, perbedaan sering baru dibicarakan saat muncul masalah. Di Salatiga, perbedaan justru sudah lebih dulu menjadi sesuatu yang biasa. Orang-orang dari latar belakang agama, etnis, dan budaya yang berbeda hidup berdampingan dalam ritme kota yang tidak tergesa-gesa. Situasi seperti ini membuat toleransi tidak lagi terasa sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai pengalaman sosial yang nyata.

Toleransi sudah menjadi kebiasaan

Salah satu hal yang membuat Salatiga menonjol adalah fakta bahwa toleransi di sana tampak tidak dipaksa. Ia tidak hadir hanya saat ada seminar, deklarasi, atau peringatan hari besar. Justru yang lebih menonjol adalah bagaimana warga saling membantu dalam momen-momen penting, termasuk saat perayaan keagamaan. Dalam sejumlah pemberitaan, Salatiga digambarkan memiliki tradisi sosial yang memperlihatkan kerja sama lintas agama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi di kota ini tidak sekadar menjadi wacana, tetapi berfungsi sebagai praktik sosial.

Yang menarik, praktik seperti itu tidak selalu lahir dari program besar pemerintah. Sering kali ia tumbuh dari pengalaman hidup bersama dalam lingkungan yang majemuk. Ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa melihat tetangga berbeda agama atau berbeda asal daerah, mereka belajar bahwa perbedaan bukan ancaman. Dari situ, toleransi menjadi sesuatu yang diwariskan lewat contoh, bukan hanya lewat ceramah. Inilah yang membuat kerukunan di Salatiga terasa lebih alami dibandingkan kota-kota yang harus bekerja keras untuk membangunnya dari awal.

Kota yang tidak banyak berisik

Salatiga juga menarik karena tidak terlalu sibuk menjual dirinya sendiri. Banyak kota berlomba membangun citra sebagai kota kreatif, kota wisata, kota kuliner, atau kota toleran. Salatiga cenderung berjalan pelan, bahkan cenderung rendah hati. Padahal, secara historis dan geografis, kota ini punya banyak daya Tarik, seperti udara yang relatif sejuk karena berada di lereng Merbabu, lingkungan kota yang tidak terlalu padat, serta jejak bangunan tua dan sejarah kolonial yang masih bisa ditemukan di beberapa sudut kota.

Baca Juga:

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort

Bohong kalau Ada yang Bilang Wisata Alam Salatiga itu Beragam, wong Destinasi Wisata Ini Aja Numpang di Kabupaten Semarang

Justru karena tidak berisik itulah Salatiga terasa berbeda. Ia tidak memaksa orang untuk kagum, tetapi pelan-pelan membuat orang memperhatikannya. Di tengah zaman ketika banyak daerah berlomba-lomba tampil viral, Salatiga seperti memilih jalur yang berlawanan tetapi tetap sederhana, tetap tenang, dan tetap hidup dengan ritmenya sendiri. Sikap ini membuat kota tersebut mudah dilupakan oleh orang yang sekadar lewat, tetapi sulit dilupakan oleh orang yang pernah tinggal di sana.

Baca juga 4 Hal yang Membuat Orang Salatiga seperti Saya Kaget ketika Hidup di Solo.

Mengapa banyak orang iri

Yang membuat orang iri bukan semata gelar kota paling toleran. Yang lebih mengesankan adalah kenyataan bahwa di Salatiga, hal-hal yang seharusnya normal memang masih terasa normal. Orang bisa hidup berdampingan tanpa curiga berlebihan. Tetangga bisa berbeda agama tanpa harus dijadikan bahan konflik. Anak muda dari latar belakang yang berbeda bisa berteman, belajar, dan beraktivitas di ruang yang sama. Dalam banyak tempat, semua itu masih terasa seperti pencapaian. Di Salatiga, semua itu tampaknya lebih dekat ke kebiasaan.

Itulah sebabnya Salatiga sering dijadikan contoh. Bukan karena kota ini sempurna, melainkan karena ia menunjukkan bahwa keberagaman tidak harus selalu berujung gesekan. Toleransi bisa tumbuh jika dirawat sebagai kebiasaan sosial, bukan sekadar proyek seremonial. Kota ini memperlihatkan bahwa kerukunan tidak selalu lahir dari pidato besar. Kadang ia lahir dari hal-hal kecil dengan sapaan tetangga, bantuan saat ada perayaan, kebiasaan saling menghormati, dan hidup bersama tanpa berusaha mengubah orang lain menjadi sama.

Pelajaran dari Salatiga

Salatiga memberi pelajaran penting bagi kota-kota lain di Indonesia. Kerukunan tidak cukup dibangun lewat slogan. Ia perlu hadir dalam ruang hidup sehari-hari, di sekolah, kampus, lingkungan rumah, dan tempat ibadah. Jika warga terbiasa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar, maka toleransi tidak lagi menjadi tugas berat. Ia menjadi bagian dari budaya.

Karena itu, yang patut dipelajari dari Salatiga bukan hanya peringkatnya dalam indeks toleransi, tetapi cara kota ini menjaga suasana sosialnya. Tidak ada kota yang benar-benar bebas dari masalah, dan Salatiga tentu bukan pengecualian. Tetapi kota ini menunjukkan bahwa keberagaman bisa dikelola tanpa kegaduhan, selama ada kebiasaan saling menghormati yang dijaga terus-menerus. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, itu adalah pelajaran yang sangat berharga.

Salatiga pada akhirnya bukan hanya kota kecil di antara Solo dan Semarang. Ia adalah contoh bahwa toleransi bisa hidup tanpa banyak pertunjukan. Ia tidak selalu perlu dipromosikan dengan keras, karena justru dalam kesederhanaannya, kota ini menunjukkan sesuatu yang besar bahwa keberagaman bisa menjadi sumber ketenangan, bukan sumber kecurigaan. Dan mungkin itulah alasan mengapa banyak orang diam-diam ingin Salatiga menjadi gambaran kecil tentang Indonesia yang ideal.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA  6 Hal yang Bikin Salatiga Jadi Kota yang Sebenarnya Red Flag untuk Slow Living.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 April 2026 oleh

Tags: kota paling tolerankota toleranSalatigasalatiga toleranToleransi
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

3 Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Wisata ke Salatiga terminal mojok

3 Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Wisata ke Salatiga

30 November 2021
Disrupsi Angkringan dan Kafe Matinya Tempat Nongkrong di Area Salatiga (Unsplash)

Disrupsi Angkringan dan Kafe: Matinya Tempat Nongkrong di Area Salatiga

13 Januari 2023
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
Bukit FTI, Kelebihan UKSW Salatiga yang Tak Tercatat di Brosur Kampus

Bukit FTI, Kelebihan UKSW Salatiga yang Tak Tercatat di Brosur Kampus

17 Juni 2025
orang indonesia

Orang Indonesia: Ngaku Toleran Tapi Tebang Pilih, Ngaku Baik Tapi Selektif

11 Maret 2020
UIN Salatiga Menyimpan Salah Paham yang Menyesatkan (Unsplash)

UIN Salatiga Membingungkan dan Menyimpan Salah Paham yang Menyesatkan Banyak Orang

22 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama Mojok.co

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama

14 Mei 2026
Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

12 Mei 2026
Checklist Mahasiswa Semester Akhir: Siapkan Semua Berkas Ini Kalau Mau Lulus

5 Sifat Mahasiswa Semester Akhir yang Menjengkelkan, Segera Intropeksi Diri Jika Tidak Ingin Dijauhi Teman

12 Mei 2026
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.