Ada sesuatu yang menarik dari Salatiga. Kota kecil di Jawa Tengah ini kembali menempati peringkat pertama Indeks Kota Toleran 2025 versi SETARA Institute, mengalahkan banyak kota lain yang lebih besar, lebih ramai, dan lebih sering muncul di berita. Dengan skor 6,492, Salatiga dinilai sebagai kota paling toleran di antara 94 kota yang dievaluasi. Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya angka itu, melainkan cara warga menyikapinya dengan tenang, tanpa euforia berlebihan, seolah-olah menjadi kota paling toleran memang hal yang wajar.
Sikap datar itu justru terasa penting. Di banyak tempat, toleransi sering diperlakukan seperti proyek yang harus diumumkan, dipajang, lalu dipublikasikan sebagai prestasi. Di Salatiga, toleransi tampaknya lebih dekat dengan kebiasaan hidup sehari-hari. Ia tidak hadir sebagai slogan, melainkan sebagai cara warga berinteraksi. Karena itulah Salatiga sering terasa Istimewa bukan karena berisik soal kerukunan, tetapi karena kerukunan itu benar-benar tampak menjadi bagian dari keseharian.
Baca juga 7 Hal yang Menegaskan Bahwa Salatiga Adalah Kota Terbaik di Jawa Tengah untuk Pensiun.
Salatiga, kota kecil dengan kehidupan yang beragam
Salatiga hanya memiliki empat kecamatan, tetapi di dalam ruang kota yang relatif kecil itu hidup masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Kehadiran berbagai kelompok etnis dan agama membuat kota ini sering digambarkan sebagai miniatur Indonesia. Salah satu faktor yang kerap disebut berpengaruh adalah keberadaan perguruan tinggi, terutama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan IAIN Salatiga, yang sama-sama menarik mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Dari sinilah keberagaman tidak hanya hadir di atas kertas, tetapi benar-benar masuk ke ruang-ruang sehari-hari, seperti kos, warung makan, kampus, jalan kota, dan lingkungan tempat tinggal.
Keberagaman itu penting bukan semata karena jumlahnya, tetapi karena ia bertahan tanpa terlalu banyak drama. Di banyak kota, perbedaan sering baru dibicarakan saat muncul masalah. Di Salatiga, perbedaan justru sudah lebih dulu menjadi sesuatu yang biasa. Orang-orang dari latar belakang agama, etnis, dan budaya yang berbeda hidup berdampingan dalam ritme kota yang tidak tergesa-gesa. Situasi seperti ini membuat toleransi tidak lagi terasa sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai pengalaman sosial yang nyata.
Toleransi sudah menjadi kebiasaan
Salah satu hal yang membuat Salatiga menonjol adalah fakta bahwa toleransi di sana tampak tidak dipaksa. Ia tidak hadir hanya saat ada seminar, deklarasi, atau peringatan hari besar. Justru yang lebih menonjol adalah bagaimana warga saling membantu dalam momen-momen penting, termasuk saat perayaan keagamaan. Dalam sejumlah pemberitaan, Salatiga digambarkan memiliki tradisi sosial yang memperlihatkan kerja sama lintas agama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi di kota ini tidak sekadar menjadi wacana, tetapi berfungsi sebagai praktik sosial.
Yang menarik, praktik seperti itu tidak selalu lahir dari program besar pemerintah. Sering kali ia tumbuh dari pengalaman hidup bersama dalam lingkungan yang majemuk. Ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa melihat tetangga berbeda agama atau berbeda asal daerah, mereka belajar bahwa perbedaan bukan ancaman. Dari situ, toleransi menjadi sesuatu yang diwariskan lewat contoh, bukan hanya lewat ceramah. Inilah yang membuat kerukunan di Salatiga terasa lebih alami dibandingkan kota-kota yang harus bekerja keras untuk membangunnya dari awal.
Kota yang tidak banyak berisik
Salatiga juga menarik karena tidak terlalu sibuk menjual dirinya sendiri. Banyak kota berlomba membangun citra sebagai kota kreatif, kota wisata, kota kuliner, atau kota toleran. Salatiga cenderung berjalan pelan, bahkan cenderung rendah hati. Padahal, secara historis dan geografis, kota ini punya banyak daya Tarik, seperti udara yang relatif sejuk karena berada di lereng Merbabu, lingkungan kota yang tidak terlalu padat, serta jejak bangunan tua dan sejarah kolonial yang masih bisa ditemukan di beberapa sudut kota.
Justru karena tidak berisik itulah Salatiga terasa berbeda. Ia tidak memaksa orang untuk kagum, tetapi pelan-pelan membuat orang memperhatikannya. Di tengah zaman ketika banyak daerah berlomba-lomba tampil viral, Salatiga seperti memilih jalur yang berlawanan tetapi tetap sederhana, tetap tenang, dan tetap hidup dengan ritmenya sendiri. Sikap ini membuat kota tersebut mudah dilupakan oleh orang yang sekadar lewat, tetapi sulit dilupakan oleh orang yang pernah tinggal di sana.
Baca juga 4 Hal yang Membuat Orang Salatiga seperti Saya Kaget ketika Hidup di Solo.
Mengapa banyak orang iri
Yang membuat orang iri bukan semata gelar kota paling toleran. Yang lebih mengesankan adalah kenyataan bahwa di Salatiga, hal-hal yang seharusnya normal memang masih terasa normal. Orang bisa hidup berdampingan tanpa curiga berlebihan. Tetangga bisa berbeda agama tanpa harus dijadikan bahan konflik. Anak muda dari latar belakang yang berbeda bisa berteman, belajar, dan beraktivitas di ruang yang sama. Dalam banyak tempat, semua itu masih terasa seperti pencapaian. Di Salatiga, semua itu tampaknya lebih dekat ke kebiasaan.
Itulah sebabnya Salatiga sering dijadikan contoh. Bukan karena kota ini sempurna, melainkan karena ia menunjukkan bahwa keberagaman tidak harus selalu berujung gesekan. Toleransi bisa tumbuh jika dirawat sebagai kebiasaan sosial, bukan sekadar proyek seremonial. Kota ini memperlihatkan bahwa kerukunan tidak selalu lahir dari pidato besar. Kadang ia lahir dari hal-hal kecil dengan sapaan tetangga, bantuan saat ada perayaan, kebiasaan saling menghormati, dan hidup bersama tanpa berusaha mengubah orang lain menjadi sama.
Pelajaran dari Salatiga
Salatiga memberi pelajaran penting bagi kota-kota lain di Indonesia. Kerukunan tidak cukup dibangun lewat slogan. Ia perlu hadir dalam ruang hidup sehari-hari, di sekolah, kampus, lingkungan rumah, dan tempat ibadah. Jika warga terbiasa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar, maka toleransi tidak lagi menjadi tugas berat. Ia menjadi bagian dari budaya.
Karena itu, yang patut dipelajari dari Salatiga bukan hanya peringkatnya dalam indeks toleransi, tetapi cara kota ini menjaga suasana sosialnya. Tidak ada kota yang benar-benar bebas dari masalah, dan Salatiga tentu bukan pengecualian. Tetapi kota ini menunjukkan bahwa keberagaman bisa dikelola tanpa kegaduhan, selama ada kebiasaan saling menghormati yang dijaga terus-menerus. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, itu adalah pelajaran yang sangat berharga.
Salatiga pada akhirnya bukan hanya kota kecil di antara Solo dan Semarang. Ia adalah contoh bahwa toleransi bisa hidup tanpa banyak pertunjukan. Ia tidak selalu perlu dipromosikan dengan keras, karena justru dalam kesederhanaannya, kota ini menunjukkan sesuatu yang besar bahwa keberagaman bisa menjadi sumber ketenangan, bukan sumber kecurigaan. Dan mungkin itulah alasan mengapa banyak orang diam-diam ingin Salatiga menjadi gambaran kecil tentang Indonesia yang ideal.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 6 Hal yang Bikin Salatiga Jadi Kota yang Sebenarnya Red Flag untuk Slow Living.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















