Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

6 Hal yang Bikin Salatiga Jadi Kota yang Sebenarnya Red Flag untuk Slow Living

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
13 April 2026
A A
5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Salatiga punya salah satu daya tarik yang sulit terbantahkan, yaitu lokasinya yang sangat strategis. Kota ini setidaknya berada pada posisi di antara beberapa kota besar sekaligus. Ke Semarang relatif dekat, ke Solo juga tidak butuh waktu lama, pun dengan ke Jogja juga jaraknya masih terasa masuk akal.

Bagi orang luar Jawa Tengah, gambaran itu kelihatannya ideal. Ditambah dengan statusnya yang diromantisasi sebagai kota yang tenang, sejuk, dan tanpa kemacetan. Orang yang kesehariannya diterpa tekanan dengan riuhnya kota besar akan menjadikan Salatiga sebagai jawaban untuk menikmati hidup yang damai.

Persoalannya, romantisme yang digambarkan pada Salatiga ternyata punya sisi red flag yang perlu dipikirkan matang-matang untuk siapapun yang ingin menjadikannya sebagai tempat slow living.

Salatiga nggak ada stasiun kereta api antarkota

Pertama yang paling terasa adalah ketiadaan stasiun kereta api antarkota. Salatiga memang dekat dengan beberapa kota, tapi itu tidak otomatis menjadi kemudahan. Sebab saat seseorang tinggal di Kota yang nggak ada stasiun kereta antar kota, maka setiap perjalanan yang mengharuskan menggunakan kereta harus melalui kota terdekat terlebih dahulu. Paling dekat harus ke Semarang dulu.

Kondisi ini bagi orang yang jarang bepergian mungkin bukan persoalan yang besar. Tapi jadi masalah untuk orang yang sesekali harus pulang menjenguk orang tua, kerja ke luar kota, atau sekadar ingin merasakan opsi transportasi yang praktis. Ketika memilih hidup di Salatiga maka harus berdamai dengan realita bahwa kota ini memang nggak punya stasiun.

Kedua adalah biaya hidup yang sebenarnya nggak seramah yang dibicarakan banyak orang. Brandingnya sebagai kota murah sehingga jadi pilihan untuk hidup sederhana nyatanya mulai pudar. Sebab dari sisi makanan, tempat nongkrong, dan kebutuhan sehari-hari lainnya ternyata menelan biaya yang nggak beda jauh dengan kota besar seperti Semarang.

Teman saya bilang, di sudut-sudut kota Salatiga, banyak orang mulai merasa sedang tinggal di kota kecil yang pengeluarannya diam-diam menyusul kota besar.

BACA JUGA: Salatiga di Antara Semarang dan Solo: Kota Persinggahan yang Paling Indah di Jawa Tengah

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

Coffee shop-nya mulai mahal

Ketiga adalah menjamurnya coffee shop dengan harga yang sama di kota-kota besar. Memang kalau dibaca dari sisi peradaban, ini jadi tanda Salatiga tidak ketinggalan. Dia mengikuti tren. Ada ruang untuk nongkrong untuk menghabiskan sore, ada ruang untuk pekerja remote yang tak kenal waktu. Tapi kondisi ini membuat Salatiga mulai berubah jadi kota yang bergaya hedon.

Keberadaan tempat-tempat modern itu membuat konsumsi warga jadi meningkat. Implikasinya bagus untuk mendorong perputaran ekonomi, tapi masalahnya itu juga membuat biaya hidup yang jadi makin tinggi. Sebab UMK Salatiga hanya Rp2.6 juta sekian, tapi biaya hidup di kota itu jadi yang tertinggi di Jawa Tengah.

Keempat adalah tukang parkirnya yang ada di mana-mana. Ya karena brandingnya sudah jadi kota. Banyak tumbuh coffee shop dan tempat nongkrong, banyak pekerja dan mahasiswa berkeliaran, membuat biaya parkir di Salatiga juga harus dipikirkan. Nominalnya memang nggak besar. Tapi kehadiran biaya parkir yang harus dikeluarkan setiap berhenti itu menyebalkan dan merusak ilusi untuk hidup sederhana.

Uang parkir Rp2 ribu atau 3 ribu sebenarnya nggak berat kalau munculnya sesekali, tapi kalau muncul setiap kali berhenti, ya dia nanti jadi pengeluaran wajib yang harus dianggarkan sendiri. Slow living yang maunya hemat malah harus ribet dengan pengeluaran receh yang harus dihitung tiap bulan.

Ujung-ujungnya Semarang dan Solo

Terakhir adalah realitas soal banyak kebutuhan yang ujung-ujungnya harus tetap ke Semarang atau Solo. Misalnya ganti sparepart motor, harus nunggu dari Semarang dulu. Nah hal-hal begitu bikin Salatiga jadi paradoks tersendiri. Letaknya memang strategis tapi strategisnya harus dibayar dengan bahwa kota konsekuensi sangat bergantung dengan kota lain.

Ketika butuh sesuatu dengan cepat, lengkap, variatif, dan spesifik, seseorang jadi lebih pilih ke dua kota di sisinya (Solo-Semarang). Atau misalnya soal kesehatan pun, ujung-ujungnya ke rumah sakit di kota sekitarnya. Situasi ini bikin Salatiga jadi kota yang belum sepenuhnya mampu untuk memenuhi semua urusan.

Itulah beberapa red flag dari Salatiga. Tapi terlepas dari itu, Salatiga tetap jadi kota yang menyenangkan untuk dijadikan pilihan untuk menetap dengan tenang. Yang perlu diatur adalah ekspektasinya. Jangan terlalu meromantisasi Salatiga. Sebab di sana juga banyak hal-hal yang bisa jadi membuat seseorang kerepotan, bahkan persoalan paling receh seperti parkir pun bisa jadi menyebalkan.  

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 April 2026 oleh

Tags: SalatigaSemarangsoloumk salatiga
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Benteng Vastenburg, Bangunan Bersejarah yang Sempat Terabaikan dan Terlupakan

Benteng Vastenburg, Bangunan Bersejarah yang Sempat Terabaikan dan Terlupakan

12 Februari 2022
Tidak seperti Dahulu, Jalanan di Solo Kini Menyebalkan karena Semakin Banyak Pengendara Nggak Peka Mojok.co

Tidak seperti Dahulu, Jalanan di Solo Kini Menyebalkan karena Semakin Banyak Pengendara Nggak Peka

1 Desember 2025
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

UNNES Semarang Rajin Menambah Mahasiswa, tapi Lupa Menyediakan Parkiran yang Cukup

24 Februari 2026
Bisakah Bertahan Hidup di Semarang Selama Satu Minggu dengan Uang Rp100 Ribu? Bisa, Bisa Gila Maksudnya

Bisakah Bertahan Hidup di Semarang Selama Satu Minggu dengan Uang Rp100 Ribu? Bisa, Bisa Gila Maksudnya

13 Agustus 2024
GOR Jatidiri Semarang Memang Tempat Olahraga, tapi Nggak Cocok buat Jogging Pemula (Pixabay)

GOR Jatidiri Semarang Memang Tempat Olahraga, tapi Nggak Cocok buat Jogging Pemula

21 Mei 2026
Tawangmangu Karanganyar Tempat Favorit Mahasiswa Solo, Saking Solo Nggak Ada Apa-apanya Mojok.co

Tawangmangu Karanganyar Tempat Favorit Mahasiswa Solo, Saking Solo Nggak Ada Apa-apanya

9 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman Mojok.co

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman

24 Juli 2026
Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah Mojok

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

21 Juli 2026
Penderitaan orang Serang yang kerja di luar kota: pakai KRL susah, kereta lokal pun nggak membantu

Penderitaan orang Serang yang kerja di luar kota: pakai KRL susah, kereta lokal pun nggak membantu

22 Juli 2026
Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

21 Juli 2026
Stasiun Cawang adalah kunci warga untuk tetap waras sehari-hari naik KRL Depok Jakarta Mojok.co

Stasiun Cawang adalah kunci untuk tetap waras bagi warga yang sehari-hari naik KRL Depok-Jakarta

23 Juli 2026
Mustahil Hidup Tentram di Lingkungan Pecinta Sound Horeg Banyuwangi (Pexels) malang

Saya sudah hidup di Malang selama 2 tahun, dan tetap tidak bisa menerima sound horeg

25 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.