Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nestapa Laki-laki yang Bekerja sebagai Perawat

Dhimas Raditya Lustiono oleh Dhimas Raditya Lustiono
30 Juni 2020
A A
laki-laki perawat hal yang enak dan nggak enak mojok.co

laki-laki perawat hal yang enak dan nggak enak mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bayangkan sejenak jika kita berada di depan siswa SD, lalu kita bertanya, “Apa cita-cita kalian?” Pasti ruang kelas akan riuh dengan berbagai sebutan profesi, anak laki-laki dengan lantang akan menyebutkan profesi seperti polisi, tentara, hingga pemain sepak bola, siswa perempuan akan menyebut profesi seperti guru, dokter, atau suster.

Di antara para siswa SD yang sedang riuh tersebut, kira-kira adakah di antara mereka siswa laki-laki yang menyebutkan profesi perawat sebagai cita-citanya? Saya rasa tidak. Sangat kecil kemungkinannya.

Hal tersebut tentu saja menunjukkan bahwa profesi perawat mendapatkan stigma sebagai profesi yang cenderung dianggap feminin atau keibuan. Stigma tersebut diperkuat oleh banyaknya tayangan sinetron atau FTV yang kerap menjadikan sosok perawat perempuan (baca: suster) sebagai pemain figuran.

Sedangkan perawat laki-laki jarang mendapatkan porsi untuk menjadi pemain figuran baik di sinetron atau FTV. Sekalipun ada, biasanya sosok perawat laki-laki akan diperankan sebagai perawat di RSJ.

Selain problem masalah stigma, masalah lain juga timbul yakni masalah penyebutan, tidak sedikit masyarakat yang merasa bingung tentang bagaimana menyebut perawat laki-laki ketika berada di rumah sakit. Misalnya ketika ada keluarga pasien yang meminta tolong karena infus macet.

Ketika saya sedang berdinas di ruang UGD, kebetulan saat itu saya sedang jaga sendirian tanpa ada rekan sejawat yang lain. Lalu salah seorang keluarga pasien memanggil saya dengan sebutan yang kurang lebih seperti ini “Pak Suster, infus anak saya tidak jalan”.

Pak suster? Sebuah sebutan yang freak bagi saya. Mendapatkan sebutan tersebut saya merasa seperti memerankan tokoh Joker dalam adegan meledakkan rumah sakit di film Dark Night.

Saat Lebaran tiba, aksi kepo dari saudara jauh kerap membuat saya bingung dengan pertanyaan agresifnya, misalnya pertanyaan, “Sudah diangkat belum atau masih honor?” Padahal saya bekerja di klinik swasta.

Baca Juga:

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Selain minimnya literasi masyarakat terhadap profesi tenaga kesehatan, lulusan sekolah perawat bisa dikatakan sulit mendapatkan pekerjaan untuk bisa bekerja di rumah sakit, klinik, ataupun puskesmas.

Salah satu penyebabnya adalah karena menjamurnya kampus keperawatan di seantero Indonesia. Boleh dikata, hampir setiap kota/kabupaten memiliki akademi keperawatan atau universitas dengan program studi keperawatan yang melahirkan sarjana/diploma keperawatan dengan jumlah sangat banyak.

Jangan harap semua kampus keperawatan mampu menyalurkan seluruh lulusannya untuk bekerja di rumah sakit atau klinik. Sebagian besar dari lulusan D-3/S-1 keperawatan haruslah mengikuti seleksi untuk bisa bekerja di rumah sakit baik negeri atau swasta.

Jangan heran jika ada sebuah puskesmas yang membutuhkan dua tenaga perawat berstatus pegawai tidak tetap, namun pelamar yang datang dengan membawa map coklat jumlahnya bisa ratusan.

Di Kabupaten Banyumas, tercatat ada lima kampus yang memiliki program studi keperawatan. Kalau saja tiap kampus tersebut melahirkan 200 lulusan keperawatan, akan ada 1.000 pengangguran pencari kerja tiap tahunnya yang akan saling merebutkan lowongan kerja.

Padahal kebutuhan perawat di rumah sakit rata-rata tidak lebih dari 20 lowongan setiap tahunnya. Alhasil, merantau dan alih profesi menjadi pilihan daripada menjadi pengangguran berijazah.

Setelah mendapatkan pekerjaan, tidak sedikit pula perawat yang mendapatkan gaji di bawah UMR sehingga jangan harap kita bisa melihat aksi perawat yang sedang berdemo kedapatan membawa motor Ninja.

Bagi mereka yang berstatus honorer di puskesmas, tentu saja harus rela hati mendapatkan upah jauh di bawah upah tukang batu. Bagi seorang lelaki, gaji tersebut tentu saja tidak cukup untuk mengajak doi plesiran atau nonton di bioskop twentiwan.

Tak jarang para lelaki yang menjadi perawat terpaksa melakoni profesi di luar jam dinasnya, seperti ojek online atau membantu orang tua di sawah, agar dompetnya tidak melulu berisi uang Tuanku Imam Bonjol.

Selain susah mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang relatif kecil, tidak sedikit perawat laki-laki yang susah mendapatkan jodoh. Sebagian di antaranya justru menjadi penjaga jodoh orang lain.

Susahnya mendapatkan pekerjaan tak ayal membuat perawat laki-laki terpaksa menunda keinginannya untuk menikah, hingga akhirnya ia terpaksa menangis dalam alunan lagu kandas ketika mengetahui pujaan hatinya diem-diem nikah dengan lelaki yang lebih mapan.

Kegagalan cinta juga bisa terjadi saat menempuh studi, mahasiswa keperawatan jangan harap bisa menjalin asmara dengan sesama mahasiswa perawat atau bidan jika mereka sudah dilirik oleh lelaki yang berseragam cokelat atau loreng-loreng.

Bagaimanapun juga, mereka yang sudah berseragam tersebut, sudah tentu mendapatkan sertifikasi kemapanan dari calon mertua, berbeda dengan mahasiswa perawat laki-laki, yang selama menjalani perkuliahan tidak akan pernah tahu ke mana mereka akan mencari nafkah setelah wisuda nanti.

Itulah yang saya alami sendiri. Selama kuliah, perjalanan asmara saya selalu kandas dengan 3 faktor, yakni seragam, kendaraan, dan kemampuan finansial.

Meski biaya kuliah di jurusan keperawatan relatif mahal, bukan berarti kami terlahir dari keluarga crazy rich. Sebagian dari kami justru rela membeli makan 1 bungkus nasi porsi kuli untuk dimakan 2 kali sehari. Impian untuk mengajak doi dinner di tempat yang cozy tentu memerlukan analisis finansial agar tidak kelimpungan di akhir bulan.

Teruntuk teman-teman yang ingin melanjutkan studi di jurusan keperawatan atau orang tua yang berambisi anak laki-lakinya menjadi seorang perawat, ingatlah bahwa untuk mewujudkan cita-cita tersebut, ada harga yang harus dibayar baik dari sisi keuangan, pikiran, maupun perasaan.

BACA JUGA Selain Jahat, Orang yang Ngasih Stigma ke Perawat sebagai Pembawa Virus Juga Goblok dan tulisan Dhimas Raditya Lustiono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Juni 2020 oleh

Tags: Laki-lakiPerawatprofesi
Dhimas Raditya Lustiono

Dhimas Raditya Lustiono

Membawa keahlian komunikasi dari dunia penyiaran ke dalam ruang perawatan. Sebagai mantan penyiar radio yang kini menjadi perawat,

ArtikelTerkait

Kata Siapa Bapak-Bapak Itu Tak Suka Curhat?

Kata Siapa Bapak-Bapak Itu Tak Suka Curhat?

7 Januari 2020
15 Ragam Profesi Perempuan di Drama Korea, Bukti Pekerjaan Buat Perempuan Nggak Itu-itu Aja Terminal Mojok

15 Ragam Profesi Perempuan di Drama Korea, Bukti Pekerjaan Buat Perempuan Nggak Itu-itu Aja

3 Maret 2022
7 Istilah yang Perlu Diketahui Mahasiswa Keperawatan Sebelum Praktik Klinik di Rumah Sakit

7 Istilah yang Perlu Diketahui Mahasiswa Keperawatan Sebelum Praktik Klinik di Rumah Sakit

7 April 2023
Dear Alumni SMA, Tolong Pertimbangkan Jadi Penjaga Tahanan Sebelum Menyesal, Tidak Semua Orang Akan Cocok dengan Pekerjaan Ini

Dear Alumni SMA, Tolong Pertimbangkan Jadi Penjaga Tahanan Sebelum Menyesal, Tidak Semua Orang Akan Cocok dengan Pekerjaan Ini

25 Februari 2025
selebgram

Bagaimana Penulisan Profesi Sebagai Selebgram di KTP?

18 September 2019
Daripada Main Hajar Begitu Aja, Mending Komplain dengan Cara Santuy Berikut Ini

Daripada Main Hakim Sendiri, Mending Komplain dengan Cara Santuy Berikut Ini

17 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

Mewakili Warga Tegal, Saya Ingin Menyampaikan Permintaan Maaf kepada Pemudik

28 Maret 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya
  • Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja
  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”
  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.