Tantangan bahasa dan budaya
Bukan hanya soal mengatur uang dan akademik, tantangan terbesar sebagai mahasiswa Indonesia di luar negeri soal adaptasi bahasa dan budaya. Di Taiwan, tidak semua orang fasih berbahasa Inggris, sehingga saya perlu mempelajari dasar-dasar bahasa Mandarin untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini cukup sulit karena harus dibarengi dengan tuntutan riset yang padat.
Perbedaan gaya komunikasi juga terasa di lingkungan laboratorium. Beberapa mahasiswa dari negara lain lebih berani menyampaikan pendapat atau bahkan berdebat dengan pembimbing. Sementara itu, sebagai orang Indonesia, saya terbiasa menunjukkan sikap hormat dan cenderung lebih berhati-hati dalam berbicara. Hal ini kadang menjadi tantangan karena sistem akademik internasional justru menghargai keterbukaan dan argumentasi.
Berjumpa orang dari berbagai negara
Lingkungan kampus di NTUST sangat internasional. Saya bertemu mahasiswa dari berbagai negara seperti India, Pakistan, Ethiopia, Paraguay, Filipina, dan Thailand. Interaksi ini menjadi pengalaman berharga, tetapi juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam hal komunikasi, budaya, dan cara berpikir.
Kalau boleh berbagi salah satu pengalaman menarik, saya senang berinteraksi dengan mahasiswa Thailand. Secara budaya, mereka relatif lebih dekat dengan Indonesia dibandingkan negara lain. Namun, tetap ada perbedaan dalam cara belajar dan berkomunikasi.
Mahasiswa Thailand cenderung lebih santai dalam diskusi akademik, sementara sistem di kampus mendorong mahasiswa untuk aktif dan kritis. Sebagai WNI, saya berada di tengah-tengah, harus menyesuaikan diri dengan budaya akademik internasional tanpa kehilangan karakter sendiri.
Baca juga Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua.
Musim di Taiwan yang bikin syok
Selain budaya, faktor lingkungan juga menjadi tantangan besar. Taiwan memiliki empat musim, berbeda dengan Indonesia. Musim panas terasa sangat panas dan lembap, bahkan lebih ekstrim dibandingkan di Indonesia. Sebaliknya, musim dingin menghadirkan suhu yang cukup rendah dengan angin yang menusuk. Kondisi ini memengaruhi produktivitas dan kesehatan, sehingga perlu adaptasi fisik maupun mental.
Tidak hanya itu, Taiwan juga sering mengalami badai taifun. Bagi saya yang berasal dari Indonesia, kondisi ini cukup mengejutkan dan menuntut kewaspadaan ekstra. Pengalaman menghadapi bencana alam di negara lain memberikan perspektif baru tentang pentingnya kesiapan dan adaptasi.
Hidup di luar negeri memberikan banyak pengalaman yang bikin syok. Anehnya, walau awalnya sulit, pengalaman ini membuat saya merasa “naik kelas” dalam hidup. Dan, pada akhirnya, saya pun sadar tidak ada tempat tinggal yang benar-benar sempurna. Bahkan, negara maju sekelas Taiwan pun punya kekurangan.
Penulis: Yudhistira Adityawardhana
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Baca juga 5 Hal yang Harus Disiapkan sebelum Kuliah di Turki.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















