Nasib Penjual Mp3 yang Setia dan Bertahan Selama 11 Tahun – Terminal Mojok

Nasib Penjual Mp3 yang Setia dan Bertahan Selama 11 Tahun

Artikel

Avatar

Pada medio 2008, saya punya kesempatan ke pulau Buton sekaligus pertama kalinya ke sana. Maka saya tidak sia-siakan kesempatan itu. Sederet agenda sudah saya siapkan. Tidak terkecuali memburu DVD lagu band hits pada zaman itu. Sebagai anak yang musik banget, tidak afdal rasanya melupakan satu hal luar biasa tersebut. Kunjungan itu sekaligus jadi pertama kalinya saya berkenalan dengan salah satu lapak penjual mp3 di Pasar Malam Pantai Kamali. 

Walau saya tidak pernah melarisi penjual mp3 tersebut, saya menjadi saksi ketangguhan si pelapak yang tidak mau tergulung zaman. Dan setelah sebelas tahun berlalu, tahun lalu saat saya pulang kampung, saya masih melihat si penjual mp3, entah ganti penjual atau masih pelapak yang sama pada 2008 dulu. Yang jelas, lapak mp3 itu masih eksis keberadaannya.

Suatu waktu, ketika nongkrong bersama anak-anak Terminator cabang Jogja di kafe yang pak RT-nya legendaris itu, saya bercerita perihal si penjual mp3. Sontak semua ketawa. Di zaman yang sudah segini majunya, masih ada orang yang mencari uang dari menjual mp3? Sebegitu “terbelakangkah” daerahmu sana, Fik? Dan berbagai komentar lain yang sebagian besar adalah ekspresi ketidakpercayaan akan hal itu. Seperti saat saya bercerita mengenai piagam perjanjian antara Angkatan Laut dengan Nyi Roro Kidul.

Walau belakangan, salah seorang teman ternyata mengakui bahwa di Jawa sekalipun, tepatnya di daerah Solo, masih ada orang yang mencoba peruntungan dengan hal yang sama. Saya juga masih heran. Begitu besarkah atensi dan harapan yang coba dibangun dari seorang penjual mp3? Produknya bajakan pula. Dan, bisa bertahan sampai sebelas tahun. Itu yang saya saksikan. Bahkan bisa jadi, sebelum 2008 blio ini sudah berjualan mp3.

Sebenarnya, ada beberapa pertanyaan besar yang sampai saat ini masih mengawang di kepala saya setiap melihat lagi bapak ini masih setia menjajakan mp3-nya.

Pertanyaan pertama, tentu saja urusan nyali. Begitu besarkah nyali si bapak sampai berani-beraninya menjual lagu hasil karya membajak? Tidakkah ia takut akan sanksi yang didapat kelak jika ada satu atau dua orang saja yang merasa dirugikan dengan barang hasil bajakan itu?

Saya menduga, iklim jualan di daerah pelosoklah yang mendasari hal ini, sampai-sampai blio ini begitu setia dengan dagangannya. Di pelosok-pelosok, orang belum mengenal apa itu hak kekayaan intelektual. Yang bisa menghasilkan ya dijual. Entah karya orang lain, kalau ini hasil dari karya teknologi, copyright menjadi hak orang yang mempopulerkannya terlebih dahulu. Bukan pencipta lagunya, justru orang yang membawa karya itu ke daerah tersebut. Jika di kemudian hari, hal tersebut jadi masalah, bisa kita bicarakan lagi. Lagian, si penyanyi aslinya kan sudah dapat fee yang tumpeh-tumpeh? Wong dia sudah kaya raya makanya jadi penyanyi terkenal. Soal kecil macam ini sudahlah, nggak usah diurus.

Pertanyaan kedua, multivitamin apa yang dipakai si bapak penjual mp3 ini hingga bisa mencapai performa yang sepertinya tidak ada habisnya? Sekelas saya yang menggeluti bidang kepenulisan saja selalu khawatir dengan worst performance yang sewaktu-waktu bisa menyerang. Rehat sehari dua hari, sebulan dua bulan, bahkan mungkin hitungan tahun.

Lha ini? Setiap kali saya pulang kampung dan singgah di pulau Buton barang sehari atau dua hari untuk bersantai di Pantai Kamali, bapak penjual mp3 ini selalu ada untuk menunggu orang-orang datang “mencolek” dagangannya.

Berdasarkan info valid A1 yang saya terima dari keponakan yang sudah jadi akamsi, bapak penjual mp3 ini selalu berjualan setiap malamnya. Satu halangan yang dapat menghentikannya hanyalah sakit. 

Pertanyaan ketiga, dan ini mungkin akan jadi pamungkas. Mengapa bapak dengan profesinya yang rentan ini, tidak tergulung oleh zaman? Maksud saya, okelah jika bisa lolos dari masalah pertama dan kedua yang saya sebutkan. Tapi, soal gemburan zaman, urusannya benar-benar lebih sulit.

Sejak zaman saya merantau ke Pulau Jawa sebelas tahun yang lalu, perkembangan teknologi begitu pesatnya. Dulu saat saya pertama kali ketemu bapak penjual mp3 ini, saya bisa memaklumi ketika orang bejibun minta mengisikan lagu ke hapenya. Lha wong sinyal buat download lagu dari internet aja lemotnya kayak kungkang di Zootopia. 

Kalau sekarang? Walau belum maju banget seperti di Pulau Jawa, paling nggak di Pulau Buton, orang-orang sudah bisa video call. Jelas karena jaringannya sudah mulai bagus. Urusan download dan streaming lagu, saya rasa sudah lebih canggih dari si penjual mp3. Tapi, kok masih ada juga yang ke sana? Bisa jadi sebagian orang memang belum tahu perihal aplikasi Joox dan Spotify. Atau justru mereka menutup mata dengan adanya perubahan zaman ini. Lebih nyaman pakai cara lama.

Bagaimanapun, saya salut banget sama si Bapak penjual mp3. Rasanya pengin kasih selamat karena sudah bertahan selama sebelas tahun. Tangguh walau kemajuan teknologi pasti telah menamparnya berkali-kali. Saya juga salut dengan yang beli. Tetap setia dengan cara lama walau banyak cara baru yang lebih praktis. Fenomena ini terjadi karena adanya faktor kenyamanan, dan tentu saja, keengganan mengikuti perkembangan zaman.

BACA JUGA Semua Tidak Harus Lofi pada Akhirnya, tapi Wajib Dicoba jika Anda Musicaholic dan tulisan Taufik lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Baca Juga:  Revolusi Industri 5.0: Apakah Kemanusiaan Kita Akan Kalah dengan Robot?
---
12


Komentar

Comments are closed.