Membandingkan Desktop Rakitan vs Laptop Mainstream Rp10 Juta, Siapa yang Menang?

Artikel

Avatar

Sepanjang sepak terjang saya di Mojok dan Terminal Mojok, soal komputer saya hampir selalu membahas mengenai laptop. Rekomendasi laptop Rp5 jutaan, Rp8 jutaan, laptop konvertibel, laptop bisnis, sampai laptop premium. Sekalinya membahas desktop rakitan, itu pun untuk diperbandingkan dengan laptop ASUS ROG Zephryus G14.

Meskipun pangsa pasar desktop rakitan saat ini masih cukup besar dan tidak dapat diremehkan, peralihan ke laptop terus terjadi. Ketika Jagat Review TV mengulas bahwa sebenarnya sebuah desktop juga bisa sehemat daya laptop jika diberikan pekerjaan harian yang tidak berat (misalkan browsing, office, atau memutar musik), laju peralihan tetap tidak berubah.

Kemudahan upgrade dan reparasi di desktop rakitan juga tidak cukup kuat melawan ukuran laptop yang ringkas untuk digunakan di mana saja, bahkan sambil tiduran sekalipun. Di kasus tertentu, laptop pun sudah bisa menyaingi performa desktop dengan harga yang setara, misalkan saja si ROG Zephyrus G14 itu.

Nah, itu terjadi di kelas harga Rp20 jutaan. Bagaimana dengan di harga tepat Rp10 juta? Dari keluarga Intel, kemungkinan terbaik yang kita dapatkan masing-masing adalah prosesor Core i5 generasi kesepuluh versi hemat daya, RAM 8GB, SSD 512GB, layar non-touch screen, GPU nVIDIA MX250, kemampuan onboard untuk webcam, speaker, mikrofon, card reader, WiFi, dan Bluetooth, serta lisensi Windows 10 Home dan Office Home & Student 2019 secara gratis. Dari keluarga AMD, perbedaannya terletak di prosesor Ryzen 7 4700U yang terkenal buas dan GPU bawaan Vega 7 dengan kapasitas memori maksimal 2GB (berbagi dari RAM). Bagaimana kita berusaha membangun desktop yang minimal berperforma sama?

Prosesor

Berpatokan pada skor User Benchmark dan Passmark, AMD Ryzen 7 4700U dengan delapan inti dan delapan thread jauh meninggalkan Intel di mana kabarnya perlawanan akan terjadi melalui produk generasi kesebelasnya. Di keluarga desktop rakitan, prosesor termurah yang saya temukan bisa mengunggulinya adalah AMD Ryzen 5 3500. Tidak ada GPU onboard bukan masalah, karena nantinya akan saya padankan dengan GPU eksternal juga. Cooler yang digunakan mengandalkan kipas bawaan dari pembelian prosesor untuk menekan biaya.

Motherboard

Saya membutuhkan motherboard bersoket AM4 yang cukup murah. Jalan yang paling memungkinkan adalah menggunakan chipset A320. Diasumsikan bahwa pengguna tidak membutuhkan kemampuan overclocking dan tidak berencana upgrade dalam waktu dekat, jadi tidak ada masalah. Dalam pembahasan ini, saya memilih penggunaan ASRock A320M-HDV dengan harga sekitar Rp750 ribu.

Memori dan penyimpanan

Untuk memaksimalkan performa desktop rakitan, pastinya saya akan memilih penggunaan RAM dual channel dan SSD. Tidak lucu jika prosesornya sudah canggih, eh booting, software update, dan multitasking masih payah. Satu hal yang saya temukan adalah kapasitas RAM 8GB tergolong kecil jika digunakan untuk screen sharing dan multi-tabbed browsing, jadi di desktop ini saya tingkatkan ke 16GB saja. SSD tetap 512GB, menyamakan dengan si laptop.

Baca Juga:  Wajah Dekil Kalian Adalah Semulus-Mulusnya Wajah Saya

Lagi-lagi demi harga, RAM yang digunakan tidak memaksimalkan kemampuan prosesor dan motherboard. Team Elite Plus Black DDR4 PC19200 2400Mhz Dual Channel 16GB (2X8GB) dengan timing 16-16-16-39 menjadi pilihan untuk RAM, ketika SSD mengunakan ADATA SU800.

Kartu grafis

Ingat bahwa prosesor yang saya pilih tidak memiliki GPU onboard. Fakta hari ini juga menunjukkan bahwa perbedaan tingkat optimasi software mengakibatkan performa NVIDIA yang masih dominan baik dalam gaming maupun content creating, misalkan Adobe Premiere.

Menurut skor UserBenchmark, kartu grafis desktop yang bisa bersaing dengan NVIDIA MX250 adalah NVIDIA GT 1030. Akan tetapi, perbedaan harga yang “tidak signifikan” dengan produk GTX 1050 termurah membuat saya memutuskan sedikit naik kelas! Inno 3D GeForce GTX 1050 3GB DDR5 menjadi pilihan saya.

PSU dan Casing

Soal casing, saya tidak membutuhkan ukuran yang ramping atau desain yang modern, apalagi sampai ada lampu RGB. PSU juga tidak perlu besar-besar, asalkan memiliki tingkat proteksi lebih terkait kestabilan arus sehingga tidak merusak komponen desktop.

Oleh karena itu, saya tidak mau menggunakan PSU bawaan casing. Cube Gaming Weiss V2.0 saya padankan dengan GAMEMAX PSU 550W GP-550 – 80+ Bronze Certified menjadi pilihan. Menurut situs OuterVision, sebenarnya desktop rakitan ini hanya membutuhkan daya sekitar 371 W sekalipun dalam kondisi full load, jadi PSU yang saya pilih sudah lebih dari cukup.

Konektivitas dan optical drive

Laptop zaman sekarang memang sudah tidak menggunakan optical drive, tetapi kita tidak merasakan masalah karena sistem operasi dan Office sudah tersedia di dalamnya. Ketika merakit desktop sendiri, segalanya masih kosong. Untuk memudahkan proses instalasi, saya memutuskan tetap membeli DVD RW dengan kecepatan 24X. Merek LG dipilih dan harganya tidak sampai Rp200 ribu, jadi masih cukup worth bagi kita alih-alih sibuk memikirkan cara membuat flash disk bootable untuk instal Windows.

Mengadakan WiFi dan Bluetooth sangatlah penting di zaman sekarang. Kita cenderung mengandalkan router WiFi bagi yang berlangganan internet kabel (misalnya IndiHome, First Media, atau MyRepublic) atau tethering dari ponsel, juga lebih memilih memindahkan data dari ponsel dengan Bluetooth alih-alih menggunakan kabel USB (seringkali malah via email). Bisa saja sih pakai USB dongle dan itu solusi yang cukup mudah serta murah, tetapi mengurangi sisa slot USB yang bisa saya pakai untuk kepentingan lainnya dong. Kartu WiFi 6 besutan Intel, yaitu AX200 menjadi andalan saya. Akan tetapi, sulit memastikan harganya mengingat rentangnya cukup lebar di toko online.

Terakhir, apa kabar dengan card reader? Mungkin tidak banyak lagi yang menggunakannya, tetapi tetap saya sertakan dalam skenario ini untuk mencapai kesetaraan dengan si laptop. Transcend Card Reader RDF-5 menjadi pilihan dengan potensi penghematan sekitar Rp135 ribu jika Anda tidak membutuhkannya.

Baca Juga:  Alasan Mengapa Orang Bisa Tidak Memiliki Empati Sampai Meminta Orang Miskin Jangan Punya Anak

I/O Device

Seperti biasa, kita perlu membeli keyboard, mouse, monitor, dan speaker untuk komputer kita. Saya beli yang standar-standar saja, monitornya pun asal setara dengan laptop biasa sudah cukup. Keyboard dan mouse kita andalkan perangkat berbasis USB yang termurah dari Logitech. Speaker? Sama, saya juga mencari perangkat berbasis USB termurah yang ada di pasaran. Monitor? Philips 163V5L dengan ukuran 15.6 inch jadi pilihan dan sudah mengusung teknologi LED.

Sekarang, bagaimana dengan webcam? Perannya kini banyak dibutuhkan bagi mereka yang mengikuti kelas online, webinar, atau verifikasi identitas untuk kursus online (misalnya di edX). Jagat Review TV pernah menjelaskan bahwa sesungguhnya kamera ponsel kita bisa dijadikan webcam, tentu dengan risiko bahwa kita tidak bisa menggunakannya untuk berkomunikasi selama kamera masih digunakan. Bagi Anda yang ingin membeli webcam lagi, tersedia Logitech C270 beresolusi HD dengan harga Rp510 ribuan.

Setelah ditotal-total, harga komponen yang dibeli sudah menembus Rp9,5 juta. Kita belum memikirkan lisensi Windows dan Office yang jika dibeli secara resmi dari distributor rekanan Microsoft atau langsung dari Microsoft Store, biaya yang dikeluarkan lebih dari Rp2 juta. Ada sih para penjual gadget di Instagram yang kini juga menyediakan lisensi keduanya dengan harga di bawah Rp500 ribu dan dijamin legalitasnya seumur hidup, tetapi saya sulit memercayai klaim mereka seratus persen.

Satu lagi yang terlupakan, ingat bahwa laptop tidak mati begitu saja ketika listrik di rumah mati selama kita mengisi dayanya dengan baik. Desktop rakitan tidak memiliki kemampuan ini jika kita tidak membeli perangkat tambahan bernama UPS. Dalam skenario yang kita simulasikan, situs Outer Vision menjelaskan bahwa paling tidak kita memiliki UPS berkapasitas 650 sampai 700 VA yang paling hanya bertahan dalam satu sampai dua jam untuk penggunaan full load. Harga untuk perangkat ini mencapai jutaan Rupiah dan itu pun bobotnya sudah di atas delapan kilogram. Ini sangat memalukan dibandingkan laptop masa kini yang bobotnya di bawah tiga kilogram dan baterainya paling tidak bisa bertahan sekitar empat jam.

Dari simulasi kita, hal ini menunjukkan bahwa desktop rakitan kalah dari laptop di harga Rp10 juta. Jika bisa mendapatkan sesuatu yang sudah lengkap dengan performa bersaing di laptop, mengapa harus ribet-ribet menggunakan desktop? Bayar, bawa pulang, pakai, beres.

Sumber gambar: Unsplash.com.

BACA JUGA Oppo A53 dengan Snapdragon 460 Pertama di Dunia? Hm, Realme 6 Aja deh! dan tulisan Christian Evan Chandra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.