Naik Gunung untuk Mengobati Patah Hati Itu Niat yang Konyol – Terminal Mojok

Naik Gunung untuk Mengobati Patah Hati Itu Niat yang Konyol

Artikel

Salah satu manuver hidup saya di sepanjang 2020 ini adalah, mendadak keranjingan naik gunung. Terhitung sejak Juli lalu, per bulan saya mesti punya agenda buat mendaki. Bahkan, sekarang ini saya dan teman saya sedang menyusun agenda buat ekspedisi seven summit. Pelan-pelan dari seven summit Jawa, dilanjutkan seven summit Indonesia. Bismillah. 

Adapun penyebab di balik keranjingan saya terhadap gunung tidak lain tidak bukan adalah lantaran patah hati yang nggak berkesudahan.

Sebelumnya, saya sebenarnya nggak pernah kebayang bakal menjadi diri saya yang sekarang. Saya kadang heran sama diri sendiri, kok bisa ya orang ringkih nan mageran ini tiba-tiba jadi addict banget naik turun gunung? Sebelum ini, dibanding naik gunung saya jelas lebih memilih kafe atau pantai sebagai destinasi liburan.

Saya bahkan sempat berada di posisi sinis banget sama para pendaki. Saya sering banget mencibir mereka, kok ada ya jenis orang yang rela ngeluarin duit banyak, tenaga banyak, dan menantang risiko bahaya cuma buat naik gunung? Apa nikmatnya coba? Eh setelah saya coba sendiri, mendaki gunung ternyata menyimpan kepuasan dan ketenangan tersendiri.

Wah, dengan begitu, saya merasa perlu ngucapin terimakasih kepada pacar, eh, maksudnya mantan pacar yang sudah mutusin saya dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Empat tahun dan harus berhenti di jalan, hadeeeh. Sebab, kalau bukan karena diputusin, saya nggak mungkin menemukan diri saya yang lain. Ya walaupun sebagian diri saya yang lain itu adalah kamuuu, jiah.

Saya memutuskan mendaki juga karena mengikuti saran dari temen-temen dekat saya. Sebab, saya sendiri waktu itu benar-benar kehabisan cara buat move on. Pekerjaan saya juga agak amburadul karena nggak fokus dan kehilangan mood.

Saya jadi mikir, cupu banget, masa gara-gara satu cewek, seluruh hidup saya jadi luluh lantak begini? Wah, nggak bisa dibiarin nih. Akhirnya, mendaki menjadi salah satu pilihan dan upaya saya buat melupakan mbak mantan.

Iya, pertama kali mendaki, niat saya memang buat self healing. Lebih tepatnya buat sembuh dari sakit hati sekaligus ngelupain mantan. Nggak tahu sih, niat ini benar atau salah. Tapi, yang penting kan nggak berniat buat menaklukkan alam, melainkan buat menaklukkan diri sendiri.

Pendakian pertama saya adalah Gunung Lawu. Pendakian pertama yang sungguh bikin perasaan dan pikiran saya jadi plong dan los dol. Selama berada di atas, bayangan dan kenangan tentang mantan saya buang jauh-jauh.

Dan saya bertekad, turun dari gunung, nggak ada lagi kenangan-kenangan manis taek itu. Fokus sama diri sendiri dan yang nggak kalah penting adalah fokus sama kerjaan. Sebab, mengutip pepatah bijak dari almarhum Pakde Didi Kempot, “Sing wis yo wis, lara ati ya oleh, ning tetep kerjo lho yo. Sebab urip ora iso diragati nganggo tangismu (Yang sudah ya sudah, sakit hati boleh, tapi tetep kerja lho ya. Sebab hidup nggak bisa dibiayai dengan tangismu).”

Tapi, apakah setelah turun gunung kondisi hati saya bener-bener membaik? Apakah yang patah langsung tumbuh, yang hilang terus berganti, dan yang hancur lebur bisa terobati? Oh ternyata nggak segampang itu. Justru ingatan tentang mantan malah kian menjadi-jadi. Duh, wis angel tenan tuturane.

Oleh karena itu, sempat tebersit dalam kepala saya, “Bagi orang yang patah hati, naik gunung tetap menjadi hal yang sia-sia.”Atas ketidaksembuhan hati saya ini, jadinya malah gunung yang saya salah-salahin.

Hingga akhirnya saya sadar kalau cara berpikir semacam itu adalah segoblok-gobloknya cara berpikir. Lah ya enak aja mengambinghitamkan gunung. Sementara, pada prinsipnya yang bertanggung jawab atas kesembuhan hati ini seharusnya ya saya sendiri.

Kalau urusan dalam diri saya atau kita belum selesai, mau naik Gunung Everest terus guling-guling sampai bawah juga nggak bakal ngaruh. Tetap saja nyesek kalau kebiasaan kita cuma mengingat-ingat kenangan bersama mantan.

Ini nih yang bikin naik gunung jadi sia-sia. Gunung sudah memberi sedikit ketenangan dan penawar sakit, eh kitanya saja yang kembali menyakiti diri sendiri. Ingatlah wahai saudaraku senasib-seperambyaran, sesungguhnya mengenang mantan adalah perbuatan menyakiti diri sendiri dan itu termasuk ke dalam perbuatan yang teramat zalim. Catat itu!

Sebab gini, Rek, persis seperti yang dibilang sama komika pakar patah hati, Wira Nagara, bahwa naik gunung hanyalah salah satu dari sekian alternatif untuk mengobati luka. Bukan yang bertindak sebagai penyembuh itu sendiri. Sebab, sembuh atau nggak, pada akhirnya balik ke diri masing-masing.

Ini pesan penting juga buat temen-temen. Kalau ada teman kalian yang tetep nggak move on walaupun sudah bolak-balik naik gunung, ingat, jangan salahin aktivitas mendakinya. Sudah jelas dirinya sendiri yang bermasalah.

Saya sendiri sering mengalami. Kalau beberapa kali kedapatan lagi galau, pasti ada saja yang ngecengin, “Loh, mana oleh-olehnya dari naik gunung? Self healing terosss, tapi sakit hatinya nggak kelar-kelar.”

Ya saya sih nggak mau banyak komentar. Sebab saya sendiri merasakan, betapa ngilangin sakit itu nggak kayak ngilangin masuk angin, yang tinggal minum Antangin JRG langsung bablas angine.

Oleh karena itu, sekarang ini saya nyoba ganti niat saja. Naik gunung nggak lagi saya niati sebagai upaya buat self healing, melainkan self reward. Itung-itung buat menghadiahi diri sendiri yang sudah mau survive sama sakit hati yang nggak kunjung sembuh ini.

BACA JUGA Forum Diskusi Anak Jurusan Tasawuf Nggak Kalah Absurd dari Anak Filsafat dan tulisan Aly Reza lainnya.

Baca Juga:  Di Kampung Saya, Tidak Boleh Ada Film yang Sad Ending
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.