Mitos, meski Tidak Rasional, Tetap Merupakan Kunci Selamat dalam Mendaki Gunung – Terminal Mojok

Mitos, meski Tidak Rasional, Tetap Merupakan Kunci Selamat dalam Mendaki Gunung

Artikel

Saya ini nggak bisa dibilang anak gunung tulen, wong baru awal bulan ini saya kesampaian melakukan pendakian pertama saya—tepatnya di Gunung Lawu via Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur. Kendati demikian, saya meyakini betul bahwa di luar faktor kecelakaan teknis dan keteledoran pendaki, ada faktor mistis yang turut andil dalam setiap kejadian yang mengiringi para pendaki. Entah itu hilang arah dan tersesat, mendadak drop, bahkan sampai kasus meninggalnya para pendaki dalam kondisi tak lazim pun, bagi saya, selalu bisa disangkut pautkan dengan pengaruh ‘dunia lain’ yang dirangkum dalam mitos.

Oke, pertama, hal-hal teknis seputar perlengkapan mendaki jelas itu nomor satu. Gimana pun, jangan pernah nganggep sepele hal-hal kecil seperti, jaket, jas hujan, sepatu atau sandal gunung, sarung tangan, kaos kaki, matras, sleeping bag, kompas, bahkan minyak kayu putih sekalipun. Itu masih belum terhitung dengan alat-alat vital lain yang menunjang keamanan selama pendakian, khususnya di gunung-gunung dengan medan cukup berat.

Kedua, biar pendakian lebih aman, usahakan didampingi oleh satu atau dua orang yang sudah lebih berpengalaman dibanding kita yang masih awam. Mereka-mereka ini lah yang nantinya bakal membimbing kita buat mengenali medan, membaca arah, sehingga meminimalisir potensi tersesat. Dan yang paling penting, mereka yang sudah berbekal pengalaman ini tentu punya segudang langkah antisipatif atau paling nggak paham lah gimana caranya ngadepin gejala-gejala hipotermia, cidera fisik, atau kecelakaan-kecelakaan teknis lainnya. Jangan coba-coba melakukan pendakian dengan sesama newbie, karena itu sama saja dengan percobaan bunuh diri.

Tapi gengs, saya rasa dua aspek tersebut nggak bakal memberi pengaruh signifikan kalau mental dan niat nggak kita benerin terlebih dulu. Gini, biar misi pendakian sukses, kita harus punya mental yang kuat bahwa kita bisa. Ini berguna biar kita nggak gampang down kalau udah tahu medan yang kita lalui bener-bener nggak ada ampun. Kalau sepengalaman saya pas di Gunung Lawu, sih, saya sempet hampir nyerah ketika dalam perjalanan dari pos 3 ke pos 4. Tapi saya mensugesti diri saya sendiri kalau perjalanan masih tinggal sebentar, kok. Kalau yang lain bisa, saya harus bisa. Jangan sampai drop dan jadi beban buat yang lain. Alhasil saya jadi termotivasi sendiri dan nggak gampang tumbang.

Baca Juga:  Membedah Larangan Menikah di Bulan Suro dalam Adat Jawa

Yang paling prinsip, semua itu harus dikontrol dengan niat yang ‘bener’. Nggak sedikit para pendaki—apalagi para pemula—yang sejak dari niat saja udah salah dan arogan. Kebanyakan udah berniat pengin naklukin gunung. Yah, emang udah jadi tabiat manusia, sih, cenderung antroposentris; menganggap bahwa hanya manusia lah subjek utama, sementara alam hanyalah objek mati yang bebas buat diapa-apain. Padahal gunung didaki itu bukan buat ditaklukin. Kita mendaki agar kita belajar banyak tentang pentingnya menghargai alam sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Mereka ini biasanya grusa-grusu dan egois. Penginnya segara nyampe puncak. Padahal puncak itu bonus. Tujuan utama tetep pulang bersama dengan selamat. Maka nggak heran jika kasus-kasus hilangnya pendaki biasanya dimulai dari salah seorang pendaki yang berpencar dari rombongan. Alhasil kesasar, hilang, dan tahu-tahu pas ditemukan udah dalam keadaan meregang nyawa.

Kalau menurut penuturan masyarakat setempat—yang tinggal di lereng-lereng gunung—kecelakaan-kecelakaan yang menimpa para pendaki juga sangat mungkin disebabkan karena arogansi si pendaki yang menolak mentah-mentah wanti-wanti dari masyarakat setempat yang umumnya bersifat mitos.

Kayak contohnya, nih, sebelum naik ke Lawu, saya sempet ngobrol sama salah satu pemilik warung kopi di deket area basecamp. Katanya, ada beberapa pantangan dan tata aturan tak tertulis yang harus diperhatikan para pendaki kalau nggak mau bikin marah danyang atau para penghuni gunung. Iya, bagi kepercayaan masyarakat lokal, setiap gunung itu ada danyangnya. Ada titik-titik tertentu yang kita diharuskan mengucapkan salam atau permisi guna menghormati keberadaan mbah danyang—meskipun kita nggak tahu wujud aslinya. Begitu juga ketika kita mau buang air, diharapkan agar kita sudi minta izin terlebih dulu. Misalnya dengan bilang, “Mbah, nyuwun sewu, amit, izin mau buang air. Ngapunten, matur nawun.”

Baca Juga:  Takut Makan Buah Gara-gara Mitos Biji Buah yang Tertelan Waktu Masih Kecil

Bertandang ke gunung ibaratnya adalah kita sedang bertamu. Sebab di gunung sudah ada kehidupan lain yang sudah lebih dulu ada dari kita. Baik yang kelihatan (tumbuhan dan binatang) maupun yang nggak kasat mata (lelembut dan para danyang). Mereka lah para tuan rumah, Sebagai tamu, maka sudah selayaknya kita bersopan santun dengan nggak ngerusak tanaman, membunuh binatang, atau mencemari lingkungan. Kita juga diharuskan menjaga diri dari ucapan atau perbuatan nggak senonoh. Dan yang sangat subtil; jangan sampai kita ngeremehin mitos-mitos tersebut. Itu kalau kita nggak pengin ‘si tuan rumah’ geram dan ngasih hukuman ke kita, loh, ya.

Kalau menurut pengakuan dari masyarakat setempat, banyaknya kasus hilang dan meninggalnya orang di gunung itu rata-rata karena mengabaikan mitos-mitos yang diyakini masyarakat setempat. Contohnya—biasanya ini terjadi di kalangan pelajar—nggak percaya kalau di gunung ada danyang. Alhasil, entah secara terucap atau cuma membatin, si pendaki nantang, “Kalau memang bener ada, mana buktinya? Tunjukkan eksistensi kalian!”. Atau kadang juga berupa perbuatan seperti buang air tanpa izin, ngomong kotor, dan hal-hal nggak pantes yang udah jadi pantangan. Ditantang kayak gitu nggak salah, tho, kalau akhirnya mbah danyang langsung ambil sikap; nyasarin si pendaki arogan tersebut terus dituntun terjun ke jurang.

Saya sih gini, nggak harus kok percaya sama yang namanya mitos. Tapi kalau udah naik gunung dan bersinggungan dengan kepercayaan masyarakat lokal, pliiis lepaskan dulu jubah akademis atau rasionalitas kita. Kita tanggalkan dulu itu semua. Sebab ada yang lebih penting dari itu yaitu, menjaga etika. Kalau nggak mau mempercayai mitos, niati saja menghormati kepercayaan masyarakat setempat. Sesimpel itu. Nggak salah juga kok kalau misalnya punya target nyampe puncak. Tapi ingat, puncak bukan tujuan utama, dan alam adalah kawan yang bukan untuk ditaklukkan. Sampai sini ngerti kan, mylov?

Baca Juga:  Pop Mie Pake Nasi Bisa Menjawab Kebutuhan Dasar Orang Indonesia

BACA JUGA Selain Ken Arok, Milenial Emang ‘Doyan’ Kena Tipu Penguasa dan tulisan Aly Reza lainnya.

Baca Juga:  Menggali Kisah Wabah Misterius yang Ternyata Dulu Pernah Melanda Desa Saya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.