Menurut Saya Mencintai Itu Harus dengan Klenik – Terminal Mojok

Menurut Saya Mencintai Itu Harus dengan Klenik

Featured

Moh Rivaldi Abdul

Kegiatan perdukunan (pengobatan dan sebagainya) dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang. Demikian yang akan diberitahukan oleh KBBI Edisi V, jika menanyakan kata “klenik” padanya.

Memang umumnya jika mendengar kata “klenik”, maka yang banyak terpikirkan oleh orang-orang pasti tentang praktik perdukunan. Hanya sedikit yang mau memikirkan klenik itu dalam versi yang lain. Padahal walau KBBI edisi V memberitahukan bahwa “klenik” itu praktek perdukunan,tapi kita tak harus melulu memahaminya sebagai praktik perdukunan, loh. Luaskan jangkauan imajinasi dengan berpegang pada pijakan kleniknya, yaitu “tidak masuk akal”.

Pada dasarnya praktik perdukunan disebut klenik karena praktek perdukunan tidak mampu dijangkau oleh akal manusia, kemudian disebutlah sebagai suatu hal yang tidak masuk akal. Yang tidak masuk akal itulah yang disebut klenik. Dengan kata lain, klenik adalah saat kita melakukan sesuatu hal yang tak masuk akal atau suatu hal yang halu banget.

Dan tahukah apa yang sering membuat manusia menjadi tak masuk akal? Adalah cinta. Nikmat Tuhan yang tak terkira, yang membuat manusia sering kehilangan pertimbangan akalnya dan memilih menerjunkan diri pada lautan asmara di hatinya. Hal inilah yang dirasakan oleh Majnun dan Laila dalam kisah cinta sufisme legendaris yang ditulis oleh Syekh Nizami.

Si Majnun lewat di kotanya Laila, dia mencium dinding dan jembatan di sana. Katanya bukan karena dia cinta dengan kota itu, tapi karena cintanya pada Laila penghuni kota itu. Haduh klenik amat luh, Majnun. Kok sampai nyium dinding dan jembatan segala, itu tak masuk akal tapi masuk hati.

Baca Juga:  Mengenal Dilema Landak, Ketika Kedekatan yang Bikin Nyaman Bisa Berubah Saling Menyakiti

Dan jujur saja, saya sering merasakan hal serupa. Saat singgah di tempat yang dulu pernah disinggahi oleh orang yang saya cintai. Saya sering membayangkan di mana tempat duduknya, jalur mana yang dia lewati saat berjalan, dan hal lain terkait apa yang dia lakukan.

Namun ya nggak sampai kayak Majnun. Saya nggak nyium dinding-dinding, kursi, dan jalan, entar dikatain gila lagi sama orang-orang. Eh, Majnun itu artinyakan “gila”, nama asli Majnun adalah Qais, tapi dipanggil Majnun karena terlampau menceburkan diri dalam lautan cinta yang amat dalam dan ironisnya dia tak diizinkan bersatu dengan orang yang dia cintai. Klenik amat, kan? Sampai dikatain Majnun.

Lebih klenik lagi saat momen si Majnun sering bicara dengan angin, meminta agar angin meyampaikan kata-katanya pada Laila. Dan di saat yang sama Laila sering konek dengan pesan-pesan cinta dari Majnun yang konon di bawah angin. Klenik banget, kan? Saya pun sering demikian.

Memang demikianlah mencintai itu harus klenik, itu hal yang wajar dalam sekolah cinta. Bahkan dalam sekolah cinta, seseorang yang masih merasa berkorban saat melakukan apa yang diminta oleh orang yang dicintainya, maka sesungguhnya cinta itu belum pada taraf cinta.

Namun, eitsss, jangan salah dalam memahami makna pengorbanan, ya. Ini penting saya utarakan (wes sok-sokan kayak Gus Baha), agar tulisan dalam esai ini tidak disalah pahami dan tidak disalah gunakan oleh agen-agen PHP yang tidak bertanggung jawab.

Baca Juga:  Sebagai Sipir Saya Pikir Sudah Betul Menkumham Ngeluarin Napi Lewat Asimilasi

Memangnya ada apa dengan para agen PHP? Ya, ada-ada saja. Menggunakan cinta sebagai media pemuasan nafsu belaka. Banyak perempuan yang jadi korban, saat lelaki menodai diri mereka dengan bujuk rayu kata “cinta”. Ah, “menodai”, mungkin kata ini akan diprotes oleh orang-orang yang katanya aktivis feminis. Ya, terserahlah. Namun, yang jelas pengorbanan cinta bukanlah pengorbanan yang menodai orang yang dicintai.

Cinta memang harus klenik. Saat kita berkorban untuk orang yang dicintai tanpa sedikit pun merasa berkorban, maka itulah cinta. Namun, satu hal yang perlu dipahami bahwa cinta memiliki aturannya. Aturan cinta adalah, cinta itu akan selalu menjaga diri orang yang dicintai. Maka meminta pasangan berkorban dalam noda itu bukan lagi klenik cinta, tapi klenik nafsu.

Keduanya sama klenik. Namun, jelas cinta dan nafsu sangat berbeda. Yang perlu diingat adalah orang yang mencintai dengan sepenuh hati akan selalu menjaga orang yang dia cintai. Itu aturan yang membatasi klenik dalam cinta. Jadi, for you, women, jika ada yang dengan alasan cinta ingin menodai dirimu, mengajak kawin sebelum nikah. Jangan ragu untuk mengatakan, “We end (Kita berakhir)”. Sebab itu bukan lagi klenik cinta, tapi sudah klenik nafsu. Ingatlah bahwa orang yang mencintaimu akan menjagamu dengan sepenuh hatinya.

Selain itu ada klenik cinta yang amat tinggi, yaitu cinta manusia pada Tuhan. Dalam hal ini saya sependapat dengan pandangan Soren Kiekergaard, yang memandang bahwa tak butuh pertimbangan akal, sebab manusia langsung menceburkan dirinya dalam lautan iman saat dia memasuki tahap hidup yang religius. Pernyataan yang amat klenik, kan?

Baca Juga:  Cieee yang Pengin Buka Sawah Padahal Dulu Sukanya Gusur Sawah

Dan memang demikianlah cinta pada Tuhan. Jika manusia masih bertanya-tanya apa manfaatnya ibadah agar dia mau melaksanakannya, maka dia belum bisa mengakui mencintai Tuhan sepenuh hati. Sebab cinta itu harus klenik, tak perlu alasan, cukuplah cinta itu sendiri sebagai akal dan alasannya.

BACA JUGA Menjadi Bucin Tidak Sebudak Amat pada Cinta yang Anda Kira atau tulisan Moh Rivaldi Abdul lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
8


Komentar

Comments are closed.