Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Meniadakan THB di KRL, Sebuah Aturan yang Tidak Adil

Allan Maullana oleh Allan Maullana
11 Juli 2019
A A
thb

thb

Share on FacebookShare on Twitter

Saat sedang menikmati es teh manis sambil berselancar di media sosial, sebuah tweet melintas di timeline saya. Sebuah tweet dari @CommuterLine: #RekanCommuters dg semakin banyaknya pengguna KMT & sbg dukungan utk mewujudkan program “cashless society” dari pemerintah, maka mulai 1 Agustus 2019 lima stasiun (Sudirman, Palmerah, Cikini, Taman Kota, & Univ. Indonesia) hanya menerima transaksi dg KMT & kartu keluaran bank.

Membaca itu saya jadi teringat, di tahun 2018, saat pertama kali naik TransJakarta (TJ) dari Juanda menuju Senayan. Saya memang sudah tahu kalau moda transportasi ini menggunakan tiket elektronik, tapi saat itu saya tidak punya. Mungkin nanti akan ada semacam Tiket Harian Berjamin (THB) di KRL, pikir saya saat itu.

Ternyata pikiran saya salah. Di TJ tidak ada tiket sekali jalan seperti THB di KRL. Saya harus menggunakan uang elektronik berbentuk kartu yang dikeluarkan oleh bank. Dalam antrian loket yang cukup mengular, niat hati ingin membeli kartu Flazz dari Bank BCA atau e-Money dari Bank Mandiri. Paling tidak, dua kartu itu bisa saya gunakan untuk naik KRL sebagai cadangan Kartu Multi Trip (KMT) yang biasa saya gunakan.

Namun sayangnya, saya tidak bisa mendapatkan apa yang saya ingin beli. Petugasnya bilang Flazz stoknya kosong, e-Money juga, dan Brizzi sering erorr di gate. Saya kemudian ditawari kartu JakCard dari Bank DKI. Tidak ada pilihan lain untuk saya sebagai pembeli, mau tidak mau saya terima tawaran petugas loket dan akhirnya saya tebus juga kartu yang bernama JakCard itu. Entah memang stoknya benar-benar habis, atau petugasnya sengaja menggiring saya. Saya tidak tahu pasti.

Dengan terpaksa saya membeli JakCard itu untuk satu perjalanan saja. Pengalaman ini adalah perjalanan pertama saya naik TJ dan sampai sekarang saya belum naik TJ lagi. Kenapa? Ya, karena keseharian saya tidak dilewati jalur TJ. Lalu apa yang terjadi dengan kartu Jakcard dari Bank DKI itu? Cuma saya simpan saja di dompet. Sisa saldonya berapa, saya juga nggak tahu.

Mengingat hal itu, kok ya, saya jadi merasa dipaksa untuk membeli kartu yang sebetulnya tidak saya butuhkan amat sesudahnya. Yang alhasil kartu itu nggak ada guna. Pernah mau saya gunting untuk dijadikan pick gitar, tapi ya percuma. Lah gimana, saya nggak bisa main gitar. Pernah terbesit mau saya geletakin saja di rumah, tapi rasanya kok sayang. Dibuang juga sayang, tentu saja masih ada harganya.

Saya haqqul yaqin, penumpang KRL yang hanya membutuhkan perjalanan sekali saja, akan mengalami hal yang sama dengan saya. Buat apa beli KMT untuk sekali perjalanan dan kemudian hari nggak akan terpakai lagi?

Rasanya calon penumpang KRL seolah cuma diberi 2 pilihan—pertama, kalau mau naik KRL silakan beli KMT dan kedua, kalau nggak mau beli KMT. Yaudah, nggak usah ngegas. Naik moda transportasi lain aja!!1!1!11!!

Baca Juga:

Resign karena Nggak Kuat Menghadapi Stasiun Manggarai Adalah Alasan yang Masuk Akal, Bukan Lemah 

Madiun, Kota Kecil yang Sudah Banyak Berbenah kecuali Transportasi Publiknya

Dalam pandangan saya yang buruk ini, pengguna KRL seolah sedang didorong untuk maju. Ya betul maju, untuk menjadi kalangan cashless society. Meskipun memang dalam kenyataannya masyarakat urban yang naik di 5 stasiun ini sudah terbiasa dengan uang elektronik. Perlahan tapi pasti, penerapan aturan ini akan berkembang dari 5 stasiun awal. Anggap saja ini percobaan. Tapi bukan berarti harus mengesampingkan penumpang KRL yang bukan pengguna KRL sehari-hari. Itu namanya egois. Memikirkan kalangan sendiri.

Kebijakan ini menjadi sebuah stormbreaker milik Thor—menghancurkan segala macam harapan dalam per-KRL-an. Bagi saya—mungkin pengguna KRL lainnya juga­—mengharapkan perjalanan yang aman, lancar, cepat, dan tepat waktu. Dengan segudang PR yang PT Kereta Commuter Indonesi (PT. KCI) sedang kerjakan, saya malah jadi hopeless. Kok, bisa-bisanya PT. KCI yang sedang sibuk berdandan demi eloknya wajah per-KRL-an, menyodorkan rules yang nggak fair untuk pengguna KRL.

Misalkan saat KMT atau kartu bank tertinggal di rumah, dan hal itu tersadar saat sudah sampai di stasiun, jadi apakah harus beli KMT lagi? Memang sih, itu resikonya kalau sampai tertinggal. Tapi ya namanya juga manusia pasti ada lupanya. Kaya sendirinya nggak pernah ketinggalan barang aja. Kaya sendirinya bukan manusia aja.

THB dan KMT juga sudah masuk kategori cashlees society, kok. Jangan diutak-atik lagi, sistemnya sudah bagus, ditambah lagi adanya vending machine. Memang tidak ada sesuatu yang sempurna. Meskipun kesempurnaan itu sedang dibangun. Saran saya sebagai pengguna KRL, selain meniadakan kebijakan di atas, sebaiknya PT. KCI fokus saja dalam pembangunan yang sekarang sedang berproses.

Kalau rehab stasiun sudah rapih semua, semua stasiun udah nyaman, double-double track (DDT) sudah beres, dan perjalanan KRL tidak ada gangguan operasional tetek bengek. Yakin deh, volume penumpang akan lebih meningkat.

Nah di saat volume penumpang meningkat, barulah kebijakan sistem dengan tedheng cashlees society diberlakukan. Tapi ingat, penjualan kartu ataupun tiketnya juga harus fair. Kalau pembeli ingin beli kartu bank, ya adakan stoknya. Begitu juga fasilitas untuk isi saldo secara merata di semua stasiun. Maunya kita sih, nggak macem-macem, cukup butuh perjalanan KRL yang cepat, tepat waktu, dan lancar. Udah itu aja. Justru yang banyak macem-macemnya itu ya kamu. Iya, kamu, Dik~

Rasanya cukup sampai di sini unek-unek, kritik , dan saran dari saya yang apalah ini—cuma penumpang KRL biasa. Dibaca, ya, syukur. Nggak dibaca, ya, bodo amat. Nggak perlu repot-repot juga buat menanggapi atau menjawab unek-unek ini. Saya udah tahu, kok, jawaban dan tanggapannya: Terkait kritik dan saran yang diberikan kami lakukan evaluasi kembali guna perbaikan layanan kedepannya. Tks.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: Anak KeretaibukotaKRLthbtiket harian berjamintransportasi publik
Allan Maullana

Allan Maullana

Alumni SMK Karya Guna Bhakti 1 Bekasi, jurusan Teknik Mekanik Otomotif. Pemerhati otomotif khususnya Sepeda Motor. Suka baca buku dan menulis catatan di waktu luang.

ArtikelTerkait

tunanetra

Merawat Guiding Block, Menjaga Hak dan Fasilitas Para Penyandang Tunanetra

17 Juli 2019
Bepergian Solo-Jogja Lebih Nyaman Naik Motor daripada KRL yang Penuh Sesak Mojok.co

Bepergian Solo-Jogja Lebih Nyaman Naik Motor daripada KRL yang Penuh Sesak

10 Oktober 2025
Trans Jogja di Mata Pendatang, Transportasi yang Berguna walau Awalnya Saya Kira Bus Wisata Mojok.co

Trans Jogja di Mata Pendatang, Transportasi yang Berguna walau Awalnya Saya Kira Bus Wisata

22 Maret 2024
Bagi “Anker” Lawas, Stasiun KRL Manggarai Bukanlah Stasiun Neraka Mojok.co

Bagi “Anker” Lawas, Stasiun KRL Manggarai Bukanlah Stasiun Neraka 

11 Januari 2025
Transportasi Publik yang Nggak Mungkin Dimiliki Kota Jogja terminal mojok.co

Transportasi Publik yang Nggak Mungkin Dimiliki Kota Jogja

25 November 2020
Siasat Naik KRL Bekasi-Jakarta yang Perlu Dipahami Pemula agar Tidak Tersiksa Selama Perjalanan Mojok.co penumpang KRL

3 Jenis Penumpang KRL yang Paling Menyebalkan dan Wajib Sadar Diri!

30 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung Mojok.co

Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung

10 Maret 2026
Sebuah Rezim Tidak Selalu Jatuh karena Aksi Jalanan

Sebuah Rezim Tidak Selalu Jatuh karena Aksi Jalanan

10 Maret 2026
Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

8 Maret 2026
Honda Stylo Motornya Orang Kaya Waras yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT dan Scoopy Mojok.co

Honda Stylo Motornya Orang Kaya yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT atau Scoopy

13 Maret 2026
Mengenal Ampo, Camilan Khas Tuban yang Terbuat dari Tanah Liat Mojok.co

Ampo, Makanan Khas Tuban Nggak Akan Pernah Saya Coba

10 Maret 2026
Embek-Embek Makanan Khas Tegal Paling Mencurigakan, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba Mojok.co

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

12 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha
  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.