Menghargai Ibu dan Apa pun Makanan yang Dimasaknya

Artikel

Sejak kuliah, saya menjadi biasa makan di luar. Makan bersama teman-teman, di kafe atau pun warteg, sesuai dengan keadaan dompet. Semenjak itu, ketika lidah sudah banyak mengecap berbagai macam rasa makanan, kriteria saya terhadap makanan menjadi lebih tinggi.

Ketika bocah atau maksimal SMA, saya biasa makan apa pun yang dimasak ibu tanpa banyak bertanya dan protes. Pokoknya apa pun yang terhidang di meja makan, saya akan makan itu. Kalaupun rasanya kurang sedap, seperti keasinan, kurang asin, terlalu pedas, atau rasa lain yang mengganggu cita rasa makanan, saya lebih memilih diam tidak komplain dan lanjut makan sampai habis.

Namun, ketika lidah sudah mendewasa dan lebih sensitif mengecap, saya jadi berani sok-sokan menjadi kritikus makanan masakan ibu. “Bu, ini kok kurang asin,” “Bu, kurang nendang ini bumbunya.” Dan semenjak itu, ibu saya jadi agak khawatir ketika saya makan masakannya, khawatir diberi kritik pedas. Sudah seperti penjurian di Master Chef dan saya berlaku sebagai Chef Juna.

“Aa’ mah sekarang jadi komplain terus,” keluh ibu saya suatu waktu. Saya jawab, “Biar masakan ibu lebih enak atuh, bu,” sambil terkekeh. Ibu saya hanya diam dan air wajahnya menggambarkan keseriusan bahwa suatu hari akan memasak masakan yang akan membuat saya memujinya. “Saya tunggu, bu,” batin saya.

Perubahan pada anaknya yang saat ini sering mengomentari karya masakannya mungkin membuat ibu saya berpikir. Beliau jadi sering bertanya pada kakak-kakaknya soal resep makanan. Dan bulan puasa dijadikan arena bertarung ibu saya. Pernah katanya dalam suatu waktu, “Nanti ibu mau nyobain resep-resep makanan baru, untuk buka puasa sama sahur.”

Tibalah bulan puasa.

Dua sampai tiga hari puasa berjalan, saya tidak menemukan menu makanan baru terhidang, hanya saja saya melihat kebiasaan baru pada ibu. Ibu saya jadi rajin lihat tutorial masak di Youtube. Setiap habis sahur saya sering mendapatinya sedang menonton video tutorial masak. Yang ditonton macam-macam: manisan kolang-kaling, ikan gurami saus asam manis, bolu pisang, pokoknya lengkap dari appetizer, main course, hingga dessert.

Kebiasaan menonton tutorial masak membuat ibu saya lebih semangat memasak. Mungkin inspirasi sudah banyak didapat, juga diiringi dengan motivasi yang tinggi memasakkan makanan terbaik untuk keluarga hehehe. Pagi-pagi beliau ke pasar membeli bahan masakan, sore hari berjibaku di dapur.

Baca Juga:  Pengalaman Mengajari Ibu Main Onet Klasik

Terhitung tiga hari beliau masak makanan yang sebelumnya belum pernah dimasak. Saya sebagai kritikus selain tentu mengapresiasinya, juga sedikit memberi masukan (dasar anak tidak tahu diuntung). Syukur, itu membuat ibu saya semakin semangat masak.

Namun, entah kenapa, saya mendapati tiga hari selanjutnya menu makanan buka puasa dan sahur itu lagi itu lagi. Entah karena uang dapur yang diberi bapak pas-pasan, karena sedang korona dan ada kebijakan PSBB, entah ibu saya yang kehilangan motivasi memasak.

Dalam suatu waktu sahur yang sunyi, hanya ada saya dan ibu di ruang makan. Ibu menemani saya yang bangunnya agak telat, sementara yang lain sudah menunaikan kebutuhan sahurnya. Di ruang makan itu, sunyi. Senyap. Saya makan sambil terkantuk-kantuk dan kurang semangat. Dalam keheningan itu, sambil terus melahap santapan, saya melihat wajah ibu. Sejuk. Saya seperti mendapat ilham untuk merasakan apa yang ibu rasakan.

Saya membuka obrolan, “Bu, masak tiap hari pasti bingung ya harus masak apa,” ibu melihat saya cukup dalam dan berkata, “Iya atuh, A’, harus mikir masak apa. Biar gak pada bosen. Apalagi Aa’ mah suka komplain kalau ibu masak,” dengan nada bercanda namun terkesan serius dari kalimatnya. Saya seketika mengutuk diri sendiri. Di situ saya sadar bahwa bingung sekali ketika setiap hari harus masak dengan masakan yang berbeda-beda, apalagi kalau ada anggota keluarga yang tukang kritik.

Ketika kuliah saja, makan di luar bersama teman-teman saya sering kali bingung mau makan apa, padahal pedagang makanan di lingkungan kampus begitu melimpah ruah. Selalu ada saja momen di mana kami segerombolan anak muda yang kebingungan akan makan apa. Saling tunjuk untuk menentukan tempat makan. Dan biasa, seringnya setiap orang berkata: “terserah.” Habislah sudah.

Baca Juga:  Maha Benar Dosen dengan Segala Ketelatannya

Membeli makan saja bingung, apalagi memasaknya. Terlebih memasak untuk orang-orang tersayang, sampai-sampai mungkin berpikiran kalau nanti ada yang berkomentar tidak enak; memilih tidak menghabiskan makanan; atau benar-benar sama sekali memilih tidak menyentuhnya. Itulah yang saya yakini dipikirkan oleh ibu, secara umum oleh seluruh ibu-ibu di tanah air.

Sudah mah bingung masak apa, dituntut oleh perasaan sendiri masakannya harus enak, ditambah pekerjaan yang lain juga harus diselesaikan. Wah, sungguh rumit menjadi ibu. Mengemban amanah yang sangat tidak mudah. Setiap hari berpikir sekaligus merasa.

Ibu mungkin cocok dilabeli seorang filsuf, yang kegemarannya berpikir apa pun yang terbaik untuk anggota keluarga, terkhusus anak-anaknya. Perihal logis: mana yang benar dan mana salah, ibu pasti nomor wahid menjadi hakim untuk anaknya. Urusan etis: pertimbangan baik dan buruk, ibu selalu terdepan menentukan. Perkara estetis: mana yang lebih indah, kurang, atau tidak sama sekali, ibu lagi-lagi turut memilihkan.

Cukup satu momen untuk merasakan kebingungan menjadi seorang ibu yang harus masak tiap hari. Ke depannya saya akan mengatur lidah agar menjadi lidah ketika bocah dan remaja saja, yang tidak terlalu kaya akan cita rasa, sehingga bibir tidak mudah memberikan komentar terhadap masakan ibu. Dan tidak lupa, mulai sekarang saya selalu berterima kasih kepada ibu kalau beliau sudah masak, apa pun masakannya, bagaimanapun rasanya.

BACA JUGA Kesal pas Diomelin Ibu di Rumah, Tapi pas Jauh, Apa yang Beliau Bilang Kok Betul Semua atau tulisan Akbar Malik Adi Nugraha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
15


Komentar

Comments are closed.