Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengenal Dolalak, Kesenian Khas Purworejo yang Lagi Hype di TikTok

Mohammad Ibnu Haq oleh Mohammad Ibnu Haq
29 Mei 2023
A A
Mengenal Dolalak, Kesenian Khas Purworejo yang Lagi Hype di Tiktok terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Saya terkejut ketika salah seorang teman kantor memperlihatkan sebuah video pertunjukan tari dolalak yang belakangan viral di TikTok. Sebagai putra asli Purworejo yang merantau ke kota tetangga, terakhir kali saya menonton langsung pertunjukan dolalak kurang lebih saat masih duduk di kelas 5 SD. Itu pun saya sudah benar-benar tidak ingat lagi di mana, bagaimana, dan apa saja yang terjadi di sana—maklum segala jenis ingatan saya tentang tarian berkelindan dengan Korean dance-nya Smash yang bikin kepala saya cenat-cenut itu.

Teman saya ternyata telah mengikuti perkembangan dolalak di media sosial sejak lama. Ia pun mulai bertanya banyak hal tentang dolalak. Yah, meskipun saya sudah lama tidak tinggal di sana, bukan berarti saya tidak tahu sama sekali tentang kesenian ini. Setidaknya saya bisa menghadiahi teman saya tiga hal paling penting dan mendasar yang harus ia ketahui sebagai fans garis keras.

#1 Dolalak terinspirasi dari kebiasaan mabuk-mabukkan tentara Belanda

Kalau biasanya tari tradisional tercipta dari kisah-kisah mitos dan legenda atau momen-momen sakral yang penuh khidmat, tarian dolalak khas Purworejo ini justru terinspirasi dari perilaku nakal masyarakat.

Begini ceritanya, tentara Belanda memiliki kebiasan untuk berdansa ketika mereka tengah mabuk-mabukkan. Beberapa pemuda akamsi—yang tentunya tidak diajak—hanya bisa menonton dari kejauhan. Atas dasar rasa keingintahuan yang tinggi dan kebutuhan bergoyang yang sudah meletup-letup, mereka pun mengamati baik-baik gerakan dansa itu dan mempelajarinya secara mandiri seperti halnya mereka belajar ilmu bela diri. Dari sinilah lahir sebuah gerakan tari yang merupakan kombinasi antara silat Jawa dan dansa Eropa. Jadi, jangan heran jika dalam dolalak banyak didominasi gerakan silat keprajuritan yang dinamis seperti sepak, geblag, dan tangkisan. Pakaian yang dikenakan juga merupakan pakaian khas prajurit Belanda saat itu. Baju lengan panjang, celana pendek, dan topi pet.

Jadi, boleh dibilang mbah-mbah saya dulu selain kreatif, rupanya mereka juga pandai mencari hiburan dan bertoleransi tinggi. Buktinya orang mabuk-mabukkan bukannya dibubarin malah dijadikan tontonan.

#2 Cukup dengan dua nada saja, maka dolalak sudah bisa dimainkan

Pada awalnya, dolalak hanya diiringi oleh dua nada saja, yaitu nada “do” dan “la”. Dan dari situ pula nama kesenian ini berasal. Alat musik yang dipakai pun mulanya hanya kenong. Jika tidak ada kenong, maka musik pengiringnya langsung dibunyikan dari mulut. Acapella gitu, deh. Biasanya liriknya berupa syair dan pantun Jawa. Baru belakangan ini saja ada variasi dari lagu-lagu pop dan campur sari.

Seiring perkembangan zaman, alat musik modern macam keyboard pun mulai digunakan. Bahkan ada pula yang sudah menambahkan gebukan drum, meski belum terlihat ada yang memakai seperangkat alat band lengkap yang menurut saya juga tidak perlu-perlu amat. Namun, improvisasi drum sebagai penguat alat musik pukul lain, jelas membuat saya berharap suatu saat Mike Portnoy atau Bang Jerinx mau berkolaborasi dengan para gadis-gadis penari dolalak di atas panggung.

#3 Klimaks yang dinanti-nanti justru sulit diprediksi

Sebagian besar penikmat dolalak pasti sepakat bahwa bagian yang paling dirindukan dari pertunjukan ini justru adalah kejadian-kejadian yang tidak terduga, baik oleh penonton maupun oleh penarinya sendiri. Hambok yakin! Bagian yang saya maksud ini lebih tepatnya adalah momen di mana ada penari yang telah masuk ke dalam kondisi trance atau dalam bahasa setempat dinamakan ndadi. Ketika sudah ndadi, penari itu bisa menirukan apa dan siapa saja. Berbuat sekena-kenanya. Tak jarang, penari lain atau siapa saja yang ada di atas panggung ikut kena getah keusilannya. Gerak tariannya pun jadi semakin lincah dan bertenaga. Oleh karena itu, di setiap pertunjukan dolalak, sering dijumpai “orang pintar” yang nantinya akan mengembalikan kesadaran penari yang ndadi tadi. Jangan tanya “orang pintar” ini lulusan kampus mana, yaaa.

Baca Juga:

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

Jawaban untuk Pertanyaan Kenapa Kutoarjo Punya Alun-alun Sendiri padahal Masuk Purworejo

Seperti kata orang bijak, semakin tinggi pohon maka semakin kencang anginnya. Dengan viralnya dolalak di beragam kanal, nyatanya juga membuat tak sedikit orang meremehkan bahkan hingga mencibirnya. Namun, bagaimanapun saya tetap bangga. Paling tidak dolalak telah menyelamatkan saya dari pertanyaan nggapleki yang jenuh saya dengar, “Purworejo itu di mana, ya?”

Kini saya bisa menjawabnya dengan penuh kebanggaan, “Tahu dolalak nggak, Hyung?”

Sumber Gambar: pesonaindonesia.kompas.com

BACA JUGA Daripada Mengidolakan Naruto, Saya Lebih Meneladani Jalan Ninja Orochimaru dan tulisan Mohammad Ibnu Haq lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2023 oleh

Tags: Dolalakkesenian daerahPurworejo
Mohammad Ibnu Haq

Mohammad Ibnu Haq

Sukanya mojok

ArtikelTerkait

Bukit Seribu Besek, Tempat Healing Terbaik yang Dimiliki Purworejo

Bukit Seribu Besek, Tempat Healing Terbaik yang Dimiliki Purworejo

29 April 2025
Usaha Kebumen Lepas dari Status Kabupaten Termiskin (Unsplash) purworejo

Mencoba Menyelesaikan Perdebatan Mana yang Lebih Maju, Kebumen atau Purworejo

24 Februari 2025
Purworejo: Kabupaten dengan Hari Jadi yang Labil dan Stasiun Kereta Mati Suri

Purworejo: Kabupaten dengan Hari Jadi yang Labil dan Stasiun Kereta Mati Suri

2 April 2024
Purworejo, Tempat Tinggal Terbaik untuk Kaum Introvert

Purworejo, Tempat Tinggal Terbaik untuk Kaum Introvert

7 September 2023
Cerita dari Fans Garis Keras Pertunjukan Jathilan

Cerita dari Fans Garis Keras Pertunjukan Jathilan

12 November 2019
Stasiun Purworejo Sudah Betul Jadi Cagar Budaya Saja, Tidak Perlu Diaktifkan Kembali Mojok.co

Stasiun Purworejo Sudah Betul Jadi Cagar Budaya Saja, Tidak Perlu Diaktifkan Kembali

5 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.