Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Cerita dari Fans Garis Keras Pertunjukan Jathilan

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
12 November 2019
A A
Cerita dari Fans Garis Keras Pertunjukan Jathilan
Share on FacebookShare on Twitter

Bagi masyarakat yang tinggal di Jogja dan sekitarnya, tentu sudah tak asing lagi dengan kesenian jathilan. Pada zaman dulu, saat televisi baru dimiliki oleh para orang kaya saja dan saat gawai beserta pasukan internetnya belum menyerang dunia ini, bisa dibilang jathilan ini merupakan tontonan paling hits di masyarakat. Dari mulai anak-anak, remaja, hingga para manula sekalipun, akan berbondong-bondong menyaksiakan kesenian tradisional yang satu ini.

Jathilan merupakan sebuah sebuah perpaduan kesenian tari dan sentuhan magis. Awalnya penari yang sudah mamakai kostum dan sudah didandani ini akan menari menggunakan jaran kepang (kuda-kudaan mainan yang terbuat dari anyaman bambu). Saat menari ini mereka akan diiring musik gamelan beserta sinden yang akan mengiringi dengan nyanyiannya. Setelah menari-menari begitu, sebagian penari akan karasukan makhuk halus. Inilah hal yang paling ditunggu-tunggu masyarakat, apalagi kalau yang kesurupan itu yang menggunakan kostum buto-nya. Wuih, bikin penonton berteriak histeris ketakutan tapi juga semakin semangat menontonnya. Di akhir pertunjukan, nantinya penari jathilan ini akan disembuhkan oleh sang pawang yang biasanya berbaju hitam dan menggunakan pecut.

ADVERTISEMENT

Meski ada unsur magisnya, tapi lagu-lagu yang dibawakan ini kebanyakan lagu daerah dan lagu-lagu religius. Biasanya setiap lagu yang dibawakan oleh sang sinden ini syarat akan nilai moral sebagai pengingat kita. Lagu favorit saya saat pertunjukan jathilan ini tentu saja lagu Perahu Layar. Kalau lagu ini yang dibawakan, sudah pasti saya akan ikutan nyanyi paling kenceng di barisan paling depan sambil manjat pembatas bambu dan ikutan angguk-angguk.

Dulunya orang desa yang relatif kaya sangat suka menanggap pertunjukan ini kalau ada acara. Entah itu nikahan atau khitanan anaknya. Di kecamatan pun tiap Hari Kemerdekaan juga suka menyelenggaran pertunjukan jathilan di lapangan sehabis upacara. Saya paling senang sekali kalau ada tetangga yang sunat dan mau menanggap jathilan. Pagi-pagi jam enam saya biasanya sudah mandi dan siap-siap menuju TKP. Padahal pertunjukannya itu dimulai jam 11 siang. Hadeh dasar aku!

Saya sendiri, sejak kecil bisa dibilang merupakan fans garis keras jathilan. Di mana pun terdengar suara gamelan ala jathilan, tak peduli panas atau hujan, saya langsung otewe. Kadang acaranya itu cuma di desa sebelah, tapi tak jarang juga saya harus berjalan kaki sejauh lima sampai lima belas kilo meter hanya buat menonton kesenian yang satu ini. Saya biasanya berjalan kaki bersama teman satu kampung. Tak ada keluhan capek dan sebangsanya, karena selama perjalanan itu pikiran kami sudah dipenuhi kebahagian tak terkira akan pertunjukan jathilan.

Kadang ya, saya juga nggak tahu di mana letak pertunjukan jathilannya. Hanya berjalan saja mengikuti irama lagunya. Itu pun sambil manggut-manggut dan nari-nari ala penari jathilan. Sesekali kami akan bergunam, ‘Hak e hokya… hak e hokya!’. Jathilan sudah kayak candu pada zaman itu bagi saya. Padahal yah cuma gitu-gitu doang, tapi kalau nggak nonton seperti ada yang kurang. Lagipula jathilan pada zaman itu merupakan bahan ghibah paling yahud di kalangan anak-anak usia saya.

Selama nonton, murni kalau saya cuma nonton doang. Sebab, jarang sekali saya punya uang saku buat nonton jathilan. Yah, gimana lagi, mau saya nangis kejer–kejer pun, orang tua saya nggak punya uang. Alhasil saya cuma bisa membawa bekal air putih yang saya masukan pada botol bekas air mineral untuk persedian kalau saya haus selama perjalanan. Nyedihi, ya. Wkwkwk.

Padahal sedih juga sih kalau ingat masa itu, di mana anak-anak sebaya saya pada sibuk membawa jajanan di tanganya. Tahu sendirikan kalau ada pertunjukan jathilan kayak gini tuh, ada banyak pedagang dadakan yang berkerumun. Dari penjual es dung-dung, penjual gulali, penjual ondol-ondol (cilok), penjual grontol, penjual dawet, dan penjual mainan anak-anak. Tapi tak mengapa, fans jathilan sejati tak akan surut hanya karena hal remeh kayak gitu. Hehehe.

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Pernah suatu hari ada pertunjukan jathilan di desa sebelah. Suaranya menggema jelas dari rumah saya. Waktu itu pertunjukannya malam hari, orang-orang desa berbondong-bondong berjalan kaki ke sana melewati depan rumah saya. Sayang waktu itu tengah THB di sekolah, jadi bapak tak mengizin saya buat menonton jathilan. Meski Mas Anang bilang “yes” dan semua juri juga bilang “yes”, tapi kalau bapak saya sudah bilang “no”, maka sudah tak bisa diganggu gugat.

Akhirnya saya cuma bisa menatap buku matematika saya sambil menggeleng-gelengkan kepala mengikuti irama gamelan. Paginya saya harus berlapang dada menahan kesakitan, gara-gara teman sekelas pada cerita tentang pertunjukan jathilan malam itu. Hmm…sebal!

Dulu sempat juga saya berpikir, kalau besar nanti ingin jadi penari jathilan. Entah kenapa, saya suka sekali melihat mbak-mbak penari jathilan ini yang menari begitu luwes dan didandani cantik-cantik sekali. Pokoknya itu keren banget. Tapi keinginan saya itu pupus, karena saya sadar diri, jangankan buat nari, buat jalan aja saya nggak demes banget kok. Yang ada malah kayak robot narinya nanti.

Setelah menonton jathilan, kebahagian itu tak berhenti sampai di situ. Biasanya saya dan kawan-kawan akan berkumpul di tegalan desa. Sebagian anak akan menggamel dengan menggunakan toples dan perabot bekas. Sebagian lagi akan menari dan pura-pura kesurupan. Sebagian lagi akan jadi penonton, dan satu orang akan pura-pura jadi pawangnya. Meski hanya jathilan pura-pura, tapi kebahagian kami nggak pura-pura. Bahkan sampai di usia yang sudah dewasa ini, gambaran tentang pertunjukan jathilan pura-pura itu masih terus membekas di hati dan pikiran saya. Saat bertemu teman-teman masa kecil pun, kami akan menertawakan bersama kekonyolan masa kecil kami itu.

Sayang, kini jathilan tak sepopuler zaman dulu. Kesenian ini biasanya akan diselenggarakan hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Saya pun mendengar bahwa sekarang ini sudah semakin banyak sanggar kesenian jathilan yang gulung tikar karena sepi job. Sungguh disayangkan sekali, harusnya kesenian tradisional ini harus kita lestarikan. Semoga nanti jathilan akan kembali naik daun lagi. Kalau bukan generasi muda yang menjaga kebudayaan ini, lantas siapa lagi. Bangsa asing?

Salam hak e hokya!

BACA JUGA Ondel-Ondel dan Riwayatnya Kini atau tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 November 2019 oleh

Tags: fansjathilanJogjakesenian daerah
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

kimetsu no yaiba demon slayer corps fans fandom forum diskusi manga anime terbaik mojok.co

Kalau Fans ‘Kimetsu no Yaiba’ Banyak Dibenci, Itu Memang Beralasan

10 September 2020
Rasisme Jawa Itu Nyata Dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan (Pexels)

Mencermati Rasisme Sesama Orang Jawa dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan

27 Januari 2025
Jogja Sering Dicaci, tapi Teknologi AI Berkembang di Sini (Unsplash)

Hebat! Startup dari Jogja Ciptakan Teknologi Notulensi Hasil Rapat Berbasis Kecerdasan Buatan

22 Januari 2024
Jogja Selalu Dianggap Manis, Padahal Ujungnya Selalu Pahit (Unsplash)

Jogja Selalu Dianggap Manis, Padahal Ujungnya Selalu Pahit

4 Juni 2024
5 Aturan Tidak Tertulis yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Ngopi di Toko Kopi Tuku Jogja

5 Aturan Tidak Tertulis yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Ngopi di Toko Kopi Tuku Jogja

1 Mei 2025
friends biaya hidup mahasiswa jogja Tempat Nongkrong Hits dan Legendaris di Jogja yang Pernah Jaya Pada Masanya

Berapa sih Biaya Hidup Mahasiswa di Jogja?

1 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?

19 Juli 2026
Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer Mojok.co

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

20 Juli 2026
Advan 360 Stylus: Laptop Lokal yang Bisa Jadi Tablet tapi Kurang Laris di Pasaran

Saya menyesal membeli laptop Advan, sebetulnya niat nggak sih bikin produk lokal yang bagus?

16 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026
Fans Ronaldo nangis melihat Messi real GOAT di final Piala Dunia (Unsplash)

Final Piala Dunia yang bikin fans Ronaldo hilang arah: Cemas dukung Messi atau membiarkan fans Barcelona makin besar kepala?

18 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.