Kamu Jahat tapi Enak: Pilih Bakso Rumahan Versi Ibuk atau Jalanan Versi Abang-Abang?

Featured

Zahroh Ayu

Di suatu siang di masa liburan kala itu, saya mendadak ngidam jajanan pentol abang-abang jajanan yang biasa mangkal di depan sekolah. Mungkin sebagian di Jogja menyebutnya dengan bakso tusuk. Tapi, di daerah saya di Jawa Timur, makanan ini ngetren dengan nama pentol.

Di masa liburan sering kali para penjaja ini pindah lokasi mangkal—tak lagi di depan sekolah. Lha mau jualan sama siapa, wong costumer utama mereka sedang tidak berada di tempat. Biasanya nih, blio-blio bakal pindah ke alun-alun ataupun ke stadion yang sering kali digunakan untuk acara-acara dengan banyak pengunjung.

Sesungguhnya ada banyak jenis jajanan yang ada di zaman itu. Pentol, basreng (bakso goreng), gulali, es cincau, mie lidi, kerupuk arumanis—belakangan kerupuk tipis ini saya ketahui di beberapa daerah disebut sebagai sempe, sempeleo. Tapi entah mengapa yang nyantol di hati saya adalah pentol. Bulatan tepung dan daging sapi(?) yang dipadu dengan sambal, kecap, saus tomat—yang belakangan saya sesali karena mengetahui fakta mengenai saus abal-abal—serta tak lupa bisa ditambahkan kuah gurih penuh lemak dengan nikmat tak terkira. Asap mengepul itu, masih sangat jelas di ingatan saya. Gimana nggak ngiler coba??!!

Ibuk yang saat itu melihat saya ingin jajan di luar, berinisiatif untuk memasak pentol versi rumahan—tentu yang lebih ramah untuk tubuh. Funfact, Ibuk dulu pernah menjadi juragan bakso yang terkenal di desanya—pada masanya. Jadi untuk masalah rasa, tentu sudah tidak perlu diragukan lagi.

Mau tak mau—karena tak mau dicap durhaka tentu saja—saya memilih untuk mengikuti rencana beliau saja. Belakangan setelah saya beranjak dewasa, saya mulai paham bahwa membuat jajan rumahan merupakan salah satu cara untuk menghemat uang belanja.

Baca Juga:  Tukang Ojek Bercadar: Progresif atau Salah Kaprah?

Selama beberapa waktu Ibuk sibuk di dapur membuat pentol yang saya idamkan. Sesungguhnya saya cukup terkagum-kagum dengan kemampuan memasak Ibuk. “Bisa nggak ya nanti saya masak sejago Ibuk?” Masakan Ibuk selalu spesial memang. Tulusnya Ibuk tak pernah alpa beliau sertakan, supaya anak-anaknyan tidak kelaparan dan mendapatkan asupan makanan yang baik.

Walla, tak berselang lama pentol versi Ibuk pun jadi. Masih dengan kuah mengepul yang kali ini saya lihat bersih dan bening—beda dengan kuah abang-abang yang cukup keruh. Coba saya seruput sedikit, light dan terasa gurih yang alami dari daging. Hmm, tapi ada yang ganjil.

Selanjutnya saya comot pentol yang juga sudah jadi. Saya masukkan ke mulut saya perlahan. Saya rasakan dengan seksama. Bahkan untuk meyakinkan diri saya coba memejamkan mata, biarlah lidah saya mencecap dengan sungguh. Padu padan yang proporsional antara daging dan tepung yang membuat dagingnya masih sangat terasa. Tak lupa bumbu yang sangat pas. Hmm, tapi malah semakin ganjil.

Lalu tak lupa Ibuk juga membuatkan saus tomat versi rumahan yang langsung dibuat dari tomat segar. Enak banget sumpah nggak bohong! Hmm, tapi gimana yhaaa~

Mungkin kesan pertama saya pada jajanan di abang-abang penjaja semasa sekolah sudah terlanjur melekat di otak. Jadilah jajanan bakso versi Ibuk tetap menjadi hal yang baru di lidah saya. Versi Ibuk jauh lebih enak sebenarnya—dan tentu lebih sehat serta bersih. Tapi hal yang saya inginkan adalah versi abang-abang jajanan—yang tepungnya lebih banyak, yang kuahnya keruh, dan yang sausnya lebih “misterius”. Tak lupa tentu saja lengkap dengan serbuk-serbuk asap knalpot pinggiran jalan dan bercampur dengan segala macam hal yang ada di jalan.

Baca Juga:  Ketahanan Nasional, Jurusan yang Sering Dikira Ngikutin Jejaknya Prabowo

Hati ini, otak ini pokoknya maunya ya itu. Jadilah craving yang sedari tadi menghinggapi belumlah puas terpenuhi. Semacam kita suka sama si doi, eh justru kita ditaksir orang lain. Menyenangkan sih, tapi tidak memuaskan dahaga batiniah yang ada.

Hal-hal yang menyehatkan dan baik—walau tidak semuanya—biasanya memang memiliki cita rasa yang cukup biasa saja, di beberapa kasus malah nggak enak sama sekali. Sebaliknya, sering kali yang merusak kesehatan dan buruk biasanya mudah dan menyenangkan. Sama kayak pentol—kamu jahat tapi enak!

BACA JUGA Meniru Cara Kerja Bakso Dalam Menjalani Kehidupan Ini atau tulisan Zahroh Ayu Khumayr lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
4


Komentar

Comments are closed.