Menebak Keinginan Orang Tua Lebih Rumit daripada Menolaknya

Artikel

Avatar

Setiap orang tua pasti memiliki harapan untuk anak-anak mereka. Mereka, sedikit banyak, pasti memiliki kriteria bagaimana harusnya masa depan anak-anak mereka. Namun, tak semua orang tua mampu mengutarakannya. Sebagian dari mereka hanya menunjukkannya secara implisit, atau bahkan tidak menunjukkannya sama sekali.

Belakangan, karena saya adalah pengangguran baru lulus kuliah, banyak di antara teman-teman saya yang mengeluh karena pekerjaan impian mereka berbanding terbalik dengan pekerjaan yang diimpikan orang tua mereka. Beberapa bahkan terang-terangan menuliskannya di media sosial. Nah, yang demikian ini adalah tipe orang tua yang secara eksplisit mengutarakan keinginannya terhadap masa depan anak-anaknya.

Menurut saya, mengetahui keinginan orang tua adalah sebuah privilese. Kita seharusnya bersyukur saat orang tua menyatakan keinginannya. Artinya, kita hanya perlu menolak atau menurut. Meskipun menolak tak semudah menurutinya. Paling tidak kita sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Semisal, memberi pengertian baik buruknya pilihan kita serta alasan memilih hal yang berseberangan dengan orang tua.

Perlu ditekankan, berbeda pendapat dengan orang tua bukanlah tindakan yang akan menuntun kita mendapat predikat sebagai anak durhaka. Selama kita menyampaikan pendapat kita secara baik-baik, saya pikir orang tua akan memahami apa yang kita inginkan. Dengan begitu, kita dapat menjalankan apa yang kita inginkan sekaligus mengedukasi orang tua.

Namun, tentu akan berbeda jika orang tua kita adalah tipe orang tua yang mengutarakan keinginannya secara implisit. Alih-alih menerima atau menolaknya, kita malah dibuat dilema karena tidak mengetahui apakah orang tua setuju atau tidak atas pilihan kita.

Tipe orang tua seperti ini biasanya berdalih bahwa apa pun yang kita pilih adalah sepenuhnya hak kita karena yang menjalani kehidupan tidak lain adalah kita sendiri. Padahal, secara tidak langsung, sedikit banyaknya orang tua ikut andil dalam pertumbuhan anak-anak mereka. Meskipun banyak faktor yang memengaruhi, faktor orang tua adalah faktor yang pertama kali memengaruhi pertumbuhan seorang anak.

Yang membuat ini rumit adalah kita tak bisa berhadapan dengan hanya dua pilihan, yaitu menolak atau menuruti. Bagaimana mau menolak kalau apa yang harus kita tolak saja belum pasti atau bahkan tidak ada? Kita hanya bisa menebak apakah pilihan kita ini sesuatu yang membanggakan atau malah sebaliknya bagi orang tua. Hal tebak-tebakan inilah yang membuat semuanya semakin susah dimengerti. Alih-alih membanggakan, kita bisa-bisa malah melukai hati orang tua.

Sebagai anak yang berbakti, saya tentu tidak mau hal ini terjadi. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kita mengetahui apa yang harus dilakukan saat orang tua kita tak pernah mengutarakan keinginannya atas kita sebagai anak.

Jika orang tua tidak mau mengungkapkan keinginannya, kita yang harus mengungkap keinginan kita. Setelah itu, barulah kita meminta pendapat mereka tentang keinginan kita. Jika pendapatnya positif, artinya mereka setuju kita. Juga sebaliknya Apabila orang tua tidak setuju, kita bisa mengedukasi mereka agar paham tentang apa yang kita inginkan karena bisa jadi respon negatif itu muncul karena orang tua kurang paham.

Mungkin untuk sebagian orang, menanyakan langsung terhadap orang tua atas pilihan yang diambil adalah hal yang mudah. Namun, bagi sebagian lainnya, yang bahkan tak pernah membahas hal-hal serius dengan orang tua, hal ini adalah sesuatu yang asing. Untuk itu, hal berikut bisa dilakukan sebagai alternatif.

Jika berdiskusi sebelum menjalani keinginan kita dengan orang tua terasa sulit, jalan satu-satunya adalah dengan menjalaninya terlebih dahulu. Apabila nanti di tengah jalan ada pendapat atau respons-respons yang kurang baik dari orang tua, barulah kita memberi pemahaman kepada mereka bahwa kita bahagia dengan pilihan kita dan segala konsekuensinya.

Untuk mengakhiri, ada satu cuplikan film yang sampai saat ini saya ingat dengan baik. Kutipan ini dari film 3 Idiots, saat Farhan meminta restu orang tuanya untuk menjadi seorang fotografer dibanding insinyur seperti keinginan ayahnya. Dalam adegan tersebut Farhan berkata kepada ayahnya, “Hidup sebagai insinyur hanya akan membuatku stres dan aku akan menyalahkanmu, aku lebih baik menyalahkan diriku sendiri atas pilihanku.”

BACA JUGA Membuat Orang Tua Bersedih Tidaklah Seburuk Itu dan tulisan Muhlas Maulana Rusli lainnya.

Baca Juga:  Mencintai dan Membenci Kebijakan Plastik Berbayar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.