Menanggapi Tulisan ‘Real Madrid itu Butuh Ronaldo, Bukan Zinedine Zidane’: Real Madrid Bukan Hanya Sekadar Kehilangan Cristiano

Karena sebenarnya, Real Madrid tidak hanya kehilangan Zidane dan Ronaldo, tapi lebih dari itu, mereka telah kehilangan identitas mereka sebagai sebuah tim.

Artikel

Avatar

Sebelumnya, di tulisan ini saya hanya ingin menanggapi tulisan Real Madrid itu Butuh Ronaldo, Bukan Zinedine Zidane dan sekaligus memberikan pandangan dari seorang Madridista yang mengikuti hampir semua pertandingan Real Madrid musim lalu. Dan menurut saya, kegagalan Real Madrid musim kemarin bukan hanya akibat kehilangan seorang Cristiano—bukan Christiano—Ronaldo. Saya memang bukan seorang pandit profesional maupun expert dalam bidang sepak bola, tapi izinkan saya berbicara sebagai seorang fans Real Madrid.

Tidak bisa dipungkiri kalau musim 2018/2019 menjadi musim yang tidak akan dilupakan oleh Madridista seluruh dunia, musim tersebut bisa dibilang adalah musim terburuk dari Real Madrid. Mereka harus rela menghadapi kenyataan bahwa tim ini tersingkir secara menyakitkan dari babak 16 besar Liga Champions setelah dibantai Ajax Amsterdam di kandang sendiri—Santiago Bernabeu—dengan skor 1-4, padahal di leg pertama tim asuhan Santiago Solari mampu menang 1-2 di kandang Ajax. Bukan hanya di Liga Champions, mereka juga gagal mendapatkan gelar di kompetisi domestik—baik di La Liga maupun Copa Del Rey.

Banyak pihak termasuk anda sebagai penulis artikel tersebut beranggapan bahwa kegagalan Real Madrid musim itu akibat kepergian seorang Cristiano Ronaldo. Namun lebih dari itu, banyak faktor yang menjadi penyebab kegagalan Los Blancos. Analisa ini pernah saya utarakan dalam Football Tribe Indonesia dengan judul Tentang Kegagalan Real Madrid Musim Ini

  1. Terlalu percaya dengan pemain muda

Dalam beberapa tahun terakhir, Real Madrid mulai merubah kebijakan transfer mereka. Pada awal era kepresidenan Florentino Perez, Madrid dikenal dengan klub yang jor-jor an dalam hal membeli pemain bintang sehingga mereka mendapatkan julukan sebagai Los Galacticos. Akan tetapi, kebijakan transfer tersebut berubah dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, Real Madrid kali ini lebih memilih mendatangkan pemain muda potensial ataupun dengan mengandalkan pemain muda lulusan La Fabrica.

Pada musim kemarin dari 25 pemain utama Real Madrid, terdapat 10 pemain yang berusia dibawah 24 tahun. Rata rata usia pemain utama Madrid pun juga terbilang sangat muda yakni 25,64 tahun. Bahkan pemain muda seperti Reguilon, dan Vinicius Jr menjadi pilihan utama dibandingkan pemain senior seperti Marcelo, dan Isco.

Mempercayakan tempat utama ke pemain muda tentu sangat beresiko apalagi di laga-laga penting. Pemain muda mungkin memiliki keunggulan dari segi kecepatan dan determinasi, akan tetapi mereka kalah dalam hal ketenangan dan pengalaman dibanding pemain senior. Memberi kepercayaan kepada pemain muda itu perlu, akan tetapi jangan memberikan mereka beban besar karena mereka masih butuh pengalaman dan juga jam terbang untuk menjadi pemain hebat di masa depan.

  1. Performa pemain kunci yang inkonsisten
Baca Juga:  Pertanyaan Berapa Harga Outfit Lu dan Alangkah Duniawinya Kita

Hampir semua pemain Real Madrid musim kemarin bermain tidak konsisten. Terkadang mereka mampu bermain sangat baik tapi tidak jarang juga mereka bermain jauh dibawah performa terbaiknya. Pemain yang paling disorot musim ini adalah Luka Modric, peforma pemain terbaik dunia 2018 ini jauh menurun dibandingkan musim lalu. Selain Modric, penjaga gawang Real Madrid, Thibaut Courtois, juga disebut-sebut berpengaruh besar terhadap kegagalan Real Madrid musim kemarin. Ia menggeser posisi Keylor Navas yang telah memberikan 3 trofi UCL berturut-turut, namun sayangnya ia gagal memenuhi harapan publik Santiago Bernabeu.

  1. Terlalu banyak masalah di ruang ganti

Musim kemarin ruang ganti Real Madrid bisa dibilang dalam keadaan yang tidak harmonis. Hal inilah yang menjadi masalah sebenarnya di Real Madrid dan penyebab utama kenapa mereka jatuh di musim ini. Sejak awal musim masalah antar pemain dengan sesama pemain maupun dengan pelatih cukup sering terdengar.

Pada saat masih dilatih oleh Julen Lopetegui, beberapa pemain mengkritik soal strategi serta pemilihan pemain dari Lopetegui. Lopetegui lebih sering memainkan gelandang muda, Dani Ceballos daripada Modric, selain itu ia juga menarik Toni Kroos untuk bermain lebih ke belakang sebagai gelandang bertahan. Hal tersebut sempat di kritik oleh sang pemain karena ia merasa kesulitan bermain di posisi tersebut. “Saya suka bermain lebih ke belakang, tapi saya bukan Casemiro” kata Kroos.

Dipecatnya Lopetegui tidak membuat suasana ruang ganti Real Madrid membaik, sempat merebaknya isu jika Antonio Conte akan melatih Real Madrid ditanggapi keras oleh kapten Real Madrid, Sergio Ramos. Menurut Ramos, Madrid ketika itu lebih butuh pelatih yang mampu mengatur suasana ruang ganti ketimbang jenius dari segi taktik. Hingga pada akhirnya Santiago Solari ditunjuk sebagai pelatih menggantikan Julen Lopetegui.

Baca Juga:  Menyikapi Imbauan MUI Jatim Soal Larangan Salam Lintas Agama

Solari yang diharapkan mampu memperbaiki suasana ruang ganti malah menciptakan masalah baru di Real Madrid. Ia terlibat masalah dengan beberapa pemain senior Real Madrid, hingga puncaknya ia mencadangkan dua pemain kunci yakni Isco dan Marcelo dan lebih memilih memainkan pemain muda Reguilon serta Vinicius Jr. Bahkan di beberapa pertandingan saat permainan Madrid sedang buntu, ia lebih memilih memasukkan pemain lain daripada dua pemain kunci tersebut. Padahal di era Zidane, Isco dan Marcelo adalah kunci permainan seorang Zidane.

Selain masalah antara pelatih dan pemain, masalah juga sempat timbul di internal pemain Real Madrid. Kejadian tersebut terjadi saat latihan dimana dalam video yang beredar Ramos tampak sengaja menendang bola ke arah Reguilon setelah sang pemain melakukan gerakan diving saat sesi latihan perebutan bola. Namun, dalam akun twitter nya Kapten Real Madrid tersebut meminta maaf dan memposting foto kebersamaan bersama tim termasuk Reguilon.

Kini, Zidane kembali mengambil tongkat kepelatihan Real Madrid, dalam wawancara nya ia mengaku ingin turun gunung karena tidak tega sebagai Madridista melihat tim kebanggaannya harus terpuruk. Namun tidak adil rasanya jika hanya melihat kinerja zizou dari 11 pertandingan musim lalu ditambah 1 pertandingan Pramusim. Perlu diingat bahwa musim kemarin Zidane datang disaat Real Madrid mengalami krisis kepercayaan diri. Tentu, bukan perkara mudah untuk mengembalikan kepercayaan diri para pemain setelah mengalami rentetan hasil buruk.

Sebenarnya, Real Madrid mengalami kemajuan sejak kembalinya Zidane. Para pemain terlihat lebih bersemangat dan yang paling krusial, situasi ruang ganti El Real kembali kondusif. Di awal musim ini Zidane juga diberikan kebebasan untuk mengelola tim. Ia mendatangkan banyak pemain yang ia perlukan serta menjual pemain yang dianggapnya tidak sesuai dengan skema permainannya.

Kekalahan di pramusim tidak bisa dijadikan acuan, mengingat banyak tim yang tampil bagus di pramusim namun ketika kompetisi resmi mereka seperti kehabisan bensin. Oleh karena itu, menarik kita tunggu bagaimana kiprah Real Madrid di kompetisi resmi musim ini.

Karena sebenarnya, Real Madrid tidak hanya kehilangan Zidane dan Ronaldo, tapi lebih dari itu, mereka telah kehilangan identitas mereka sebagai sebuah tim.

---
3


Komentar

Comments are closed.