Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Menanggapi Tulisan ‘Real Madrid itu Butuh Ronaldo, Bukan Zinedine Zidane’: Real Madrid Bukan Hanya Sekadar Kehilangan Cristiano

Nurul Arrijal Fahmi oleh Nurul Arrijal Fahmi
25 Juli 2019
A A
zidane

zidane

Share on FacebookShare on Twitter

Sebelumnya, di tulisan ini saya hanya ingin menanggapi tulisan Real Madrid itu Butuh Ronaldo, Bukan Zinedine Zidane dan sekaligus memberikan pandangan dari seorang Madridista yang mengikuti hampir semua pertandingan Real Madrid musim lalu. Dan menurut saya, kegagalan Real Madrid musim kemarin bukan hanya akibat kehilangan seorang Cristiano—bukan Christiano—Ronaldo. Saya memang bukan seorang pandit profesional maupun expert dalam bidang sepak bola, tapi izinkan saya berbicara sebagai seorang fans Real Madrid.

Tidak bisa dipungkiri kalau musim 2018/2019 menjadi musim yang tidak akan dilupakan oleh Madridista seluruh dunia, musim tersebut bisa dibilang adalah musim terburuk dari Real Madrid. Mereka harus rela menghadapi kenyataan bahwa tim ini tersingkir secara menyakitkan dari babak 16 besar Liga Champions setelah dibantai Ajax Amsterdam di kandang sendiri—Santiago Bernabeu—dengan skor 1-4, padahal di leg pertama tim asuhan Santiago Solari mampu menang 1-2 di kandang Ajax. Bukan hanya di Liga Champions, mereka juga gagal mendapatkan gelar di kompetisi domestik—baik di La Liga maupun Copa Del Rey.

Banyak pihak termasuk anda sebagai penulis artikel tersebut beranggapan bahwa kegagalan Real Madrid musim itu akibat kepergian seorang Cristiano Ronaldo. Namun lebih dari itu, banyak faktor yang menjadi penyebab kegagalan Los Blancos. Analisa ini pernah saya utarakan dalam Football Tribe Indonesia dengan judul Tentang Kegagalan Real Madrid Musim Ini

  1. Terlalu percaya dengan pemain muda

Dalam beberapa tahun terakhir, Real Madrid mulai merubah kebijakan transfer mereka. Pada awal era kepresidenan Florentino Perez, Madrid dikenal dengan klub yang jor-jor an dalam hal membeli pemain bintang sehingga mereka mendapatkan julukan sebagai Los Galacticos. Akan tetapi, kebijakan transfer tersebut berubah dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, Real Madrid kali ini lebih memilih mendatangkan pemain muda potensial ataupun dengan mengandalkan pemain muda lulusan La Fabrica.

Pada musim kemarin dari 25 pemain utama Real Madrid, terdapat 10 pemain yang berusia dibawah 24 tahun. Rata rata usia pemain utama Madrid pun juga terbilang sangat muda yakni 25,64 tahun. Bahkan pemain muda seperti Reguilon, dan Vinicius Jr menjadi pilihan utama dibandingkan pemain senior seperti Marcelo, dan Isco.

Mempercayakan tempat utama ke pemain muda tentu sangat beresiko apalagi di laga-laga penting. Pemain muda mungkin memiliki keunggulan dari segi kecepatan dan determinasi, akan tetapi mereka kalah dalam hal ketenangan dan pengalaman dibanding pemain senior. Memberi kepercayaan kepada pemain muda itu perlu, akan tetapi jangan memberikan mereka beban besar karena mereka masih butuh pengalaman dan juga jam terbang untuk menjadi pemain hebat di masa depan.

  1. Performa pemain kunci yang inkonsisten

Hampir semua pemain Real Madrid musim kemarin bermain tidak konsisten. Terkadang mereka mampu bermain sangat baik tapi tidak jarang juga mereka bermain jauh dibawah performa terbaiknya. Pemain yang paling disorot musim ini adalah Luka Modric, peforma pemain terbaik dunia 2018 ini jauh menurun dibandingkan musim lalu. Selain Modric, penjaga gawang Real Madrid, Thibaut Courtois, juga disebut-sebut berpengaruh besar terhadap kegagalan Real Madrid musim kemarin. Ia menggeser posisi Keylor Navas yang telah memberikan 3 trofi UCL berturut-turut, namun sayangnya ia gagal memenuhi harapan publik Santiago Bernabeu.

  1. Terlalu banyak masalah di ruang ganti

Musim kemarin ruang ganti Real Madrid bisa dibilang dalam keadaan yang tidak harmonis. Hal inilah yang menjadi masalah sebenarnya di Real Madrid dan penyebab utama kenapa mereka jatuh di musim ini. Sejak awal musim masalah antar pemain dengan sesama pemain maupun dengan pelatih cukup sering terdengar.

Baca Juga:

Ketika 30 Juta Orang Ingin Kylian Mbappe Angkat Kaki dari Real Madrid

Real Madrid Tanpa Trofi (Lagi), Saatnya Buang Vini

Pada saat masih dilatih oleh Julen Lopetegui, beberapa pemain mengkritik soal strategi serta pemilihan pemain dari Lopetegui. Lopetegui lebih sering memainkan gelandang muda, Dani Ceballos daripada Modric, selain itu ia juga menarik Toni Kroos untuk bermain lebih ke belakang sebagai gelandang bertahan. Hal tersebut sempat di kritik oleh sang pemain karena ia merasa kesulitan bermain di posisi tersebut. “Saya suka bermain lebih ke belakang, tapi saya bukan Casemiro” kata Kroos.

Dipecatnya Lopetegui tidak membuat suasana ruang ganti Real Madrid membaik, sempat merebaknya isu jika Antonio Conte akan melatih Real Madrid ditanggapi keras oleh kapten Real Madrid, Sergio Ramos. Menurut Ramos, Madrid ketika itu lebih butuh pelatih yang mampu mengatur suasana ruang ganti ketimbang jenius dari segi taktik. Hingga pada akhirnya Santiago Solari ditunjuk sebagai pelatih menggantikan Julen Lopetegui.

Solari yang diharapkan mampu memperbaiki suasana ruang ganti malah menciptakan masalah baru di Real Madrid. Ia terlibat masalah dengan beberapa pemain senior Real Madrid, hingga puncaknya ia mencadangkan dua pemain kunci yakni Isco dan Marcelo dan lebih memilih memainkan pemain muda Reguilon serta Vinicius Jr. Bahkan di beberapa pertandingan saat permainan Madrid sedang buntu, ia lebih memilih memasukkan pemain lain daripada dua pemain kunci tersebut. Padahal di era Zidane, Isco dan Marcelo adalah kunci permainan seorang Zidane.

Selain masalah antara pelatih dan pemain, masalah juga sempat timbul di internal pemain Real Madrid. Kejadian tersebut terjadi saat latihan dimana dalam video yang beredar Ramos tampak sengaja menendang bola ke arah Reguilon setelah sang pemain melakukan gerakan diving saat sesi latihan perebutan bola. Namun, dalam akun twitter nya Kapten Real Madrid tersebut meminta maaf dan memposting foto kebersamaan bersama tim termasuk Reguilon.

Kini, Zidane kembali mengambil tongkat kepelatihan Real Madrid, dalam wawancara nya ia mengaku ingin turun gunung karena tidak tega sebagai Madridista melihat tim kebanggaannya harus terpuruk. Namun tidak adil rasanya jika hanya melihat kinerja zizou dari 11 pertandingan musim lalu ditambah 1 pertandingan Pramusim. Perlu diingat bahwa musim kemarin Zidane datang disaat Real Madrid mengalami krisis kepercayaan diri. Tentu, bukan perkara mudah untuk mengembalikan kepercayaan diri para pemain setelah mengalami rentetan hasil buruk.

Sebenarnya, Real Madrid mengalami kemajuan sejak kembalinya Zidane. Para pemain terlihat lebih bersemangat dan yang paling krusial, situasi ruang ganti El Real kembali kondusif. Di awal musim ini Zidane juga diberikan kebebasan untuk mengelola tim. Ia mendatangkan banyak pemain yang ia perlukan serta menjual pemain yang dianggapnya tidak sesuai dengan skema permainannya.

Kekalahan di pramusim tidak bisa dijadikan acuan, mengingat banyak tim yang tampil bagus di pramusim namun ketika kompetisi resmi mereka seperti kehabisan bensin. Oleh karena itu, menarik kita tunggu bagaimana kiprah Real Madrid di kompetisi resmi musim ini.

Karena sebenarnya, Real Madrid tidak hanya kehilangan Zidane dan Ronaldo, tapi lebih dari itu, mereka telah kehilangan identitas mereka sebagai sebuah tim.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: cristiano ronaldoreal madridronaldoSepak BolaZinedine Zidane
Nurul Arrijal Fahmi

Nurul Arrijal Fahmi

ArtikelTerkait

Leonardo PSG FIFA PES gim sepak bola Lionel Messi Mojok

Belum Bikin Gol dan Assist, Ada Apa dengan Lionel Messi?

17 September 2021
Fly Valverde, Fly!

Fly Valverde, Fly!

22 September 2022
thailand sepakbola politik mojok

Kerumitan di Balik Dominasi Tim-tim Sepak Bola Thailand

7 Agustus 2020
aturan gol tandang dicabut mojok

Dihapusnya Aturan Gol Tandang Merupakan Kemajuan, Kenapa Pada protes?

25 Juni 2021
Koch justin netizen indonesia @txtdaricoachy ted lasso coach justin pendapat opini assist mojok

‘Ted Lasso’, Series Sepak Bola yang Harus Ditonton Coach Justin

19 Oktober 2020
Sergio Ramos Real madrid mojok

Real Madrid Tidak Membeli Pemain dan Bencinya Fans Real Madrid Indonesia terhadap Karim Benzema: Wawancara dengan @realmadridindo1

13 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026
Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

19 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.