Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Mempertanyakan Kembali Nilai-Nilai Kita

Hanif Amin oleh Hanif Amin
10 Juni 2019
A A
nilai-nilai

nilai-nilai

Share on FacebookShare on Twitter

Kita semua hidup dengan nilai, entah disadari atau tidak. Nilai-nilai ini bisa datang dari hukum, etika, agama, dan standar sosial yang ada di dalam masyarakat. Kalau tidak ada nilai, ya, orang mau royal rumble sampai mati ala-ala smackdown di tengah jalan pun tak akan pernah jadi soal.

Nilai-nilai seperti jangan membunuh orang (nanti dipenjara), hormati yang tua (supaya tidak kena azab), jangan nipu orang (nanti masuk neraka), dan lain sebagainya adalah sesuatu yang menjadi semacam kompas kita dalam berhubungan dengan orang lain.

ADVERTISEMENT

Nilai bisa berasal mulai dari individu, keluarga, agama, sampai ke level negara. Perbedaan dalam penganutan nilai pun tidak bisa dihindari karena nilai-nilai berasal dari manusia yang persepsinya tak lepas dari pengaruh luar seperti wilayah, iklim, tantangan hidup, dan sifat bawaan lahir dari gen masing-masing.

Di suku-suku pedalaman pada daerah tropis, misalnya, menyaksikan perempuan bertelanjang dada adalah hal yang biasa. Karena pakaian-pakaian minim itulah yang membuat mereka nyaman menembus hutan-hutan lebat. Bayangkan hal yang sama dilakukan di tengah-tengah perkotaan di Indonesia, pasti akan dikira orang gila.

Tapi namanya manusia, kadang-kadang nilai yang dibuat tidak selalu harus sejalan dengan kebutuhan fisik mereka. Pada gilirannya, nilai bisa dimanipulasi : entah untuk senang-senang belaka atau untuk perkara yang lebih serius seperti melanggengkan kekuasaan. Akhirnya muncul nilai yang kalau dipikir-dipikir lagi sebenarnya begitu absurd.

Ambil contoh paling gampang : pelarangan makan dengan tangan kiri. Nilai yang sudah dikecap oleh sebagian besar dari kita sejak kecil. Pokoknya tangan kiri itu buat cebok dan yang kanan buat makan. Tapi kalau dipikir lagi, kenapa ya? Setahu saya, waktu lahir tangan kiri kita tidak kena lempar tahi atau barang-barang aneh lainnya, jadi sebenarnya tidak kalah bersih dari tangan yang kanan.

Kalau ditanya, paling-paling jawaban yang muncul cuma “lah memang gitu!” atau “sudah dari sananya” atau “jangan banyak tanya, deh!”

Nilai-nilai yang “sudah muncul dari sananya” ini pun mengambil tempat juga di kehidupan kita. Dalam skala remeh ia terwujud dalam pelarangan orang tua pada anaknya untuk makan pakai tangan kiri. Kalau mau di tarik-tarik lagi, efek buruk dari pelarangan ini paling cuma pergunjingan siswa-siswa SD soal minoritas anak-anak kidal yang kalau makan lebih suka pakai tangan kiri.

Baca Juga:

Kritik Harus Sopan Itu Aturan dari Mana?

Iklan Indomilk Gemas 2022: Iklan Cerdas yang Tampar Masyarakat Indonesia

Tapi pada skala yang lebih besar, efek buruk “dari sananya” ini bisa jadi begitu mengerikan. Coba pikirkan, ada berapa sih nilai-nilai dalam hidup kita yang kita anut begitu lama yang “sudah dari sananya” dan tidak pernah dipertanyakan? Banyak, bung!

Agama, misalnya, harus diakui bahwa sebagian besar dari kita menerima agama dari orang tua kita, bukan dari hasil pemikiran sendiri. Patriotisme dan Pancasila juga, kita menerima ini dari negara melalui sekolah, bukan hasil pemikiran sendiri.

Tentu saja awal-nya wajar bagi kita untuk disuapi soal nilai-nilai. Tapi yang jadi masalah adalah ketika disaat yang sama kita juga tidak diberikan kapasitas untuk menggugat dan menanyakan nilai-nilai tadi.

Bahkan sebelum punya kapasitas pun, pikiran kita sudah lebih dahulu dibatasi dengan segala macam hal-hal tabu yang disebut pun tak boleh. Mau nanya soal seks dan kondom? Tidak boleh! Soal agama dan Tuhan? Apalagi itu! Mmm… Soal Pancasila gimana? Bisa dicap tidak nasionalis, dong.

Kita jadi terlalu takut untuk bertanya. Dan nilai-nilai menjelma menjadi simbol suci yang tidak boleh dibahas sedikitpun kecuali soal segala kelebihan-kelebihannya.

Tapi jangan salah, saya tak pernah punya masalah dengan segala simbol atau kepercayaan yang dianggap suci. Bukankah kita semua selalu punya satu kepercayaan dalam hidup? Entah itu agama, ideologi atau satu sosok idola. Yang jadi pertanyaan besarnya adalah : sampai pada titik mana kepercayaan ini mengambil tempat pada kehidupan bermasyarakat?

Ada orang menyembah Maradona, misalnya. Dalam pandangan saya mereka itu ya goblok. Tapi tak jadi masalah karena si penyembah Maradona ini tidak pernah memaksa saya untuk mengikuti ajaran mereka. Kecuali kalau si penyembah Maradona ini ingin memukuli saya dan orang lain yang tidak suka dengan Maradona, pada titik inilah nilai-nilai “yang dari sananya” itu menjadi masalah.

Sementara itu, – kalau mau mengintip sedikit pada realita sehari-hari – terjadi pemaksaan, persekusi, penindasan dan penghukuman atas dasar nilai-nilai yang bahkan tidak pernah dipertanyakan. Nilai-nilai yang diterima saja secara bulat-bulat.

Orang-orang berani berteriak “NKRI Harga Mati!” atau “Pancasila Harga Mati!” untuk jadi pembenaran dalam menghukum mereka yang mempertanyakan Pancasila dan ingin keluar dari republik. Tapi apakah pernah muncul pertanyaan : kenapa mereka ingin keluar? Penderitaan apa yang mereka alami?

Ada juga sebagian dari mereka-mereka yang dianggap berkeyakinan “aneh” diusir dari tempatnya. Banyak orang tidak keberatan dengan segala penindasan itu karena Tuhan mereka dianggap berbeda. Maka sesat. Tapi sekelebat rasa kasihan atas dasar kesamaan sebagai manusia tak pernah muncul.

Menyedihkan melihat hati akal sehat dikubur dalam-dalam hanya demi suatu nilai yang bahkan tidak pernah dipikirkan matang-matang. Akhirnya, yang ada cuma fanatisme belaka.

Di tahun politik seperti sekarang ini, tentu saja kadar fanatisme dan ketololannya makin berlipat-lipat. Nilai-nilai yang dari awal memang tak lebih dari sekedar dogma direduksi lagi untuk dilekatkan pada 2 sosok pilihan, kemudian dieksploitasi secara besar-besaran hingga melahirkan 2 kutub pendukung yang menjadi begitu ekstrim satu sama lain.

Kita perlu menyingkirkan ketakutan untuk bertanya kembali soal nilai-nilai yang selama ini kita pegang begitu teguh tanpa kecurigaan. Mengapa begini dan mengapa begitu. Sehingga berbagai ketegangan yang tak perlu bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Kritik SosialNilai KehidupanNormaPolitik IndonesiaTatakrama
Hanif Amin

Hanif Amin

Manusia biasa, menulis juga di mesintinta.wordpress.com.

ArtikelTerkait

4 Tipe Pembeli di Warung Sembako yang Nano-nano terminal mojok.co

Indomaret dan Alfamart Sama Saja: Apalagi Dalam “Melibas” Warung di Sekitarnya

6 Juli 2019
receh

Pertanyaan-Pertanyaan Receh Namun Sangat Berkesan Buat Orang Lain

31 Mei 2019
gender rokok

Sejak Kapan Rokok Punya Gender?

30 September 2019
palang kereta

Palang Kereta dan Hal-Hal Menyebalkan Darinya

22 Juni 2019
pacaran

Pas Kecil Lihat Orang Dewasa Pacaran, Pas Dewasa Lihat Anak Kecil Pacaran

8 Agustus 2019
sidang MK

Di Sidang MK Para Ahli Hukum Berkumpul dan Berdebat, Saat Itulah Saya Kebingungan Memahami Bahasa Level Tingginya

26 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026
Jangan Samakan Bubur Ayam Jakarta dan Cirebon, Mereka Beda! Mojok.co

Jangan Samakan Bubur Ayam Jakarta dan Cirebon, Mereka Beda!

22 Juni 2026
4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau Mojok.co

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

25 Juni 2026
4 Alasan Ayam Goreng Dkriuk Jadi yang Terbaik di Kelasnya, Brand Lain Minggir Dulu! Mojok.co

4 Alasan Ayam Goreng Dkriuk Jadi yang Terbaik di Kelasnya, Brand Lain Minggir Dulu!

24 Juni 2026
Palembang Bikin Pangling, Banyak Berubah padahal Baru Ditinggal Merantau Setahun Mojok.co sumatera selatan

Kalau Orang Sumatera Selatan Terus-terusan Ngaku dari Kota Palembang, Daerah Lain Kapan Dikenalnya?

21 Juni 2026
Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

24 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.