Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Memanusiakan Manusia

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
28 Mei 2019
A A
memanusiakan

memanusiakan

Share on FacebookShare on Twitter

Pernah dalam suatu obrolan, ada satu orang teman saya yang sedang curhat tentang masalah yang sedang dihadapi. Lalu dengan niat ingin membantu—paling tidak meringankan beban—saya menawarkan untuk menjadi tempat berbagi cerita. Sampai akhirnya temannya yang lain berkata, “Ih, mau tau aja deh—kepo. Dasar!”

Pernyataan tersebut masih saya ingat dengan jelas. Bukan karena baper, tapi niat ingin membantu harus lebur hanya karena ucapan seperti itu. Saya cukup yakin, bukan hanya saya yang mengalami hal ini. Jangan hanya karena kata kepo (knowing every particular object)—niat tulus dari orang lain untuk membantu menjadi batal.
Hal itu menjadi gambaran di masa sekarang, memanusiakan manusia itu perlu. Sebagaimana hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial, kita semua perlu berinteraksi dengan baik. Manusia perlu saling tolong menolong—karena suatu saat di posisi yang tidak diduga kita semua akan butuh pertolongan dari orang lain—yang seringkali tidak terduga dari mana dan siapa yang menolong.

Perlakukan manusia sebagaimana mestinya, berarti juga harus menghargai perasaan yang dimiliki oleh setiap orang. Beberapa kali saya melihat secara langsung, bagaimana pelayan di suatu kafe atau mereka yang bekerja di bagian pelayanan pelanggan, mendapat makian dari customer dan dilakukan di muka umum—banyak orang yang melihat.

Jika memang kecewa atau tidak merasa puas dengan pelayanan yang diberi, sebaiknya bicara secara personal atau tidak perlu sampai marah-marah—bahkan memaki di kerumunan. Hal tersebut tentu tidak dibenarkan karena lebih kepada mengintimidasi dan merendahkan harga diri orang lain. Bahkan tidak jarang yang memaki pun akan merasa malu pada akhirnya—setelah tersadar. Tidak perlu merengek sampai seakan tantrum seperti anak-anak pada masanya.

Awal bekerja, sebagai freshgraduate yang masih canggung berada di lingkungan perkantoran, saya pun pernah mengalami hal demikian. Dimarahi di depan customer, seakan saya tidak becus dalam meng-handle apa yang menjadi tanggung jawab saya oleh senior di lingkungan kerja.

Saya menyadari hal tersebut tidak dibenarkan. Setelahnya saya langsung memberi saran, jika memang salah saya lebih baik diberi tahu secara personal dibanding harus dimarahi di depan orang banyak. Paling tidak, itu lebih memanusiakan saya karena lebih dihargai secara individu.

Begitu pula dalam hal pertemanan. Memanusiakan manusia bisa dilakukan dengan meminimalisir penggunaan ponsel saat berkumpul. Baru-baru ini ada yang beda saat saya mengikuti acara buka puasa bersama dengan teman-teman—bukan karena yang datang selalu orang yang sama atau sedikit. Tapi saat di meja makan—dibanding mengobrol atau bernostalgia—teman-teman yang lain justru lebih memilih fokus ke ponsel masing-masing.

Pikir saya, untuk apa buka bersama jika nilai kebersamaan justru berkurang dengan cara dipaksa menunduk melihat ponsel masiing-masing. Apa bedanya buka puasa di rumah—sambil santap menu berbuka kita semua mengobrol di grup yang memang sudah dibuat sebelumnya?

Baca Juga:

Katanya Sekolah Itu Mencerdaskan Manusia, tapi kok Cuma Mau Menerima Murid yang Pintar?

Surat Terbuka kepada Makhluk Gaib: Persetan Hidup Berdampingan, Hidup Manusia Sudah Susah!

Hal lain yang biasa ditemui adalah saat seseorang membuang sampah di tempat umum, sedangkan petugas kebersihan tetap melaksanakan tugasnya memungut sekaligus menyapu sampah yang ada. Juga petugas kebersihan di bioskop yang seringkali kewalahan dalam membersihkan sampah yang tidak diangkut kembali oleh para pengunjung.

Secara profesional, memanusiakan para petugas kebersihan pun bisa dilakukan dengan cara membawa kembali sampah yang dibawa ke dalam bioskop dan juga membuang di tempat sampah yang sudah disediakan. Hal itu akan lebih memudahkan sekaligus sangat mungkin dilakukan dalam rangka menjaga kebersihan lingkungan.

Memanusiakan pasangan pun bisa dilakukan, dengan cara memberi kabar dan tidak menghilang begitu saja saat dibutuhkan juga dirindukan—siapapun itu, baik pria maupun wanita. Bagi saya, tidak ada kesibukan secara mutlak sampai dengan tidak bisa memberi kabar sama sekali, yang ada hanya mau atau tidak untuk menyempatkan diri memberi kabar kepada pasangan. Toh, memberi kabar via telepon atau chat tidak membutuhkan waktu yang lama.

Semua hal itu, sangat mungkin dilakukan dalam rangka memanusiakan manusia—tujuannya adalah menghargai keberadaan satu sama lain agar dapat lebih memahami. Toh, nantinya yang kita petik adalah hasil dari apa yang ditanam. Paling tidak lakukan hal tersebut atas dasar untuk diri sendiri, sebab kita tidak tahu kapan kita perlu diperlakukan seperti manusia sebagaimana mestinya.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Hubungan SosialKritik SosialManusiaMemanusiakan manusia
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

revolusi

Revolusi Asmara dan Stagnansi Perkembangan Manusia Dalam Beberapa Era Terakhir

9 Mei 2019
Menimbang Keputusan Resign buat Jadi Pengangguran Sementara terminal mojok.co

Rendahnya Selera Pekerjaan Sarjana Masa Kini, Iyakah?

16 Agustus 2019
kimcilisme

Di Tempat Saya, IPNU-IPPNU Bukan untuk Menangkal Radikalisme, Melainkan Kimcilisme

3 Juni 2019
wacana

Waspada! Kalimat-Kalimat Ini Menandakan Rencana Bakal Jadi Wacana

6 September 2019
menegur

Antara Merekam dan Menegur: Kamu Tim yang Mana?

10 September 2019
ngamen gratis

Tulisan “Ngamen Gratis” di Beberapa Tempat Makan yang Berpotensi Menyakiti Hati Seorang Pengamen

12 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

Kebumen: Banyak Pantainya, tapi Belum Jadi Primadona Wisata Layaknya Yogyakarta

21 April 2026
Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.