Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Membully Zara Adhisti Tidak Sama dengan Membela Kekeyi: Keadilan Sosial bagi Seluruh Warga Good Looking

Aliurridha oleh Aliurridha
21 Agustus 2020
A A
Membully Zara Adhisti Tidak Sama dengan Membela Kekeyi_ Keadilan Sosial bagi Seluruh Warga Good Looking MOJOK.CO

Membully Zara Adhisti Tidak Sama dengan Membela Kekeyi_ Keadilan Sosial bagi Seluruh Warga Good Looking MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Bersamaan dengan viral potongan video pendek Zara Adhisti bersama pacarnya Zaki Pohan yang habis-habisan dihujat netizen, muncul juga sebuah wacana yang ngeri-ngeri sedap “keadilan sosial bagi seluruh warga good looking”. Wacana ini membawa pula satu nama yang tidak kalah fenomenal, Kekeyi. Netizen menghakimi Zara mengatakan bahwa hanya orang cantik saja yang dibela, kalau jelek dihujat habis-habisan seperti Kekeyi.

Ada dua hal yang ngawur dalam wacana yang dibangun netizen ini; pertama mereka tidak sadar sedang membuat paradoks lewat komentar-komentar mereka; kedua mereka tidak sadar wacana yang mereka bangun justru menjurus pada salah satu seri logical fallacy, yakni false dilemma fallacy. Oke, mari kita bedah satu-satu.

Pertama, netizen ramai-ramai membuat wacana bahwa keadilan itu hanya untuk mereka yang good looking. Jika tidak masuk kategori good looking mereka layak dibully, dihina, dihujat, dan direndahkan. Padahal di saat bersamaan para netizen ini justru sedang membully, menghina, menghujat, dan merendahkan Zara yang mereka sebut kategorikan sebagai good looking. Bukannya ini paradoks?

Sebelumnya, buat yang belum paham apa itu paradoks, akan saya jelaskan sedikit. Paradoks adalah pernyataan atau klaim yang justru bertentangan dengan dirinya sendiri. Saat netizen mengatakan Zara dibela karena dia good looking, netizen ini sendiri justru sedang gencar-gencarnya meluncurkan hinaan.

Netizen tidak sadar bahwa wacana yang dibangun ini justru menyudutkan. Ini lucu, menyedihkan, sekaligus menarik. Banyaknya bullyan, hinaan, dan hujatan kepada Zara di twitter menunjukkan hal yang sebaliknya, bahwa Zara justru lebih banyak dibully ketimbang dibela. Berbagai hinaan seperti amoral, cantik tapi bejat, sampai ada yang menawar dan menanyakan apa dia lagi diskon sampai viral di twitter, itu hinaan yang mengerikan bos bukan pujian.

Jika kita lihat lini masa twitter memang bullyan lebih banyak ketimbang belaan pada Zara. Yang membelanya memang ada, tapi ya itu, tidak banyak. Lebih banyak yang mencari sensasi dengan menghujat karena memang itu lebih mudah untuk diafirmasi. Mengikuti jalan mayoritas adalah kunci untuk meraih retweet, like, dan coment. Lumayan kan bisa viral lewat jalur non-prestasi. Syukur-syukur kalau bisa nambah follower. Cuma modal sambatin artis yang lagi sial.

Kedua, wacana keadilan sosial hanya untuk seluruh rakyat good looking ini juga digunakan untuk memperlihatkan bahwa mereka membela hanya karena penampilannya. Netizen bahkan membawa-bawa nama Kekeyi, membandingkan dengan bully yang diterima Kekeyi.

Wacana keadilan sosial hanya untuk seluruh rakyat good looking digembor-gemborkan Netizen  membuat seolah-olah seseorang yang membela Zara membenarkan bahwa Zara dibela karena good looking dan Kekeyi dihina karena tidak good looking. Dan, jika kita membela maka kita tidak adil pada Kekeyi. Begitulah kira-kira interpretasi dari wacana yang dibangun netizen. Padahal ini jelas logical fallacy, lebih tepat false dillemma fallacy.

Baca Juga:

Parfum Zara Deep Garden Bikin Saya Kecewa: Harganya Mahal, Wanginya Nggak Lebih Awet dari Parfum 30 Ribuan

4 Strategi Uniqlo, H&M, Zara, dan Brand Fast Fashion Lain yang Bikin Kalap Belanja

False dilemma fallacy adalah seri logical fallacy yang mana membuat klaim dengan memaksakan lawan memilih dua hal yang tidak paralel. Saat kita membela Zara kita dianggap membenarkan klaim itu. Kita yang membela Zara dianggap hanya peduli pada mereka yang good looking, dan tidak peduli dengan orang-orang seperti Kekeyi.

Membela Zara sama saja dengan membiarkan bully yang diterima Kekeyi. Kalau Kekeyi dibully ya biar saja, toh dia jelek. Begitu kira-kira apa yang ada dipikiran netizen. Padahal penampilan bukanlah poin buat yang membela Zara, tapi karena memang saat ini Zara sedang disudutkan. Dan, siapa pun yg disudutkan, dikucilkan dari ruang publik perlu dibela.

Yang membuat saya tidak habis pikir sama mereka yang membully Zara ini, kok iya mereka sampai mikir bahwa membully Zara itu sama dengan sedang berbuat adil pada Kekeyi. Padahal membully ya tidak ada urusan sama Kekeyi. Membully Zara tidak akan membuat keadilan bagi mereka yang tidak good looking, justru hanya menambah ketidakadilan baru.

Saat ini Zara mungkin sedang kalut, depresi, kita tidak boleh menambah justifikasi. Saya membela bukan berarti saya menyudutkan Kekeyi lho. Itu dua hal berbeda. Jangan hanya karena saya memilih membela lantas saya dikatakan tidak adil pada Kekeyi, padahal mereka yang membela Zara belum tentu ikut menghina Kekeyi. Wacana ini berbahaya membuat kita terjebak dalam false dilemma fallacy.

Buat saya, siapa pun yang sedang disudutkan dalam ruang publik itu pantas dibela. Tidak terkecuali Zara, Kekeyi, dan siapa pun jua. Sekali lagi, membela Zara tidak berarti menyudutkan Kekeyi. Please itu gak ada hubungannya sama sekali.

Sumber gambar: JKT48.

BACA JUGA Riset Saya untuk Membuktikan Apakah Penjual Nasi Padang Memang ‘Bias Gender’ dan tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2020 oleh

Tags: KekeyiZaraZara Adhisti
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

lagu baru kekeyi

Nggak Suka Kekeyi tapi Bikin Dia Terkenal, Gimana sih?

3 Juni 2020
4 Strategi Uniqlo, H&M, Zara, dan Brand Fast Fashion Lain yang Bikin Kalap Belanja Terminal Mojok

4 Strategi Uniqlo, H&M, Zara, dan Brand Fast Fashion Lain yang Bikin Kalap Belanja

24 April 2022
keke bukan boneka

Membedah Makna Revolusioner Klip Video “Keke Bukan Boneka”

6 Juni 2020
Rio Ramadhan Pacaran Sama Kekeyi Itu Biasa Saja, Nggak Perlu Dibesar-besarkan!

Rio Ramadhan Pacaran Sama Kekeyi Itu Biasa Saja, Nggak Perlu Dibesar-besarkan!

18 November 2019
3 Tips Beli Baju Zara Second biar Tetap Nggaya Terminal Mojok

3 Tips Beli Baju Zara Second biar Tetap Nggaya

20 April 2022
lagu baru kekeyi

Nanya Serius, Emang Apa sih Salahnya Kekeyi?

2 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

8 Mei 2026
Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas” Terminal

Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas”

11 Mei 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026
Bundaran Jombor, Salah Satu Titik Meresahkan di Jalan Magelang Mojok.co

Jalan Magelang: Surganya Depo Pasir dan Nerakanya Pengendara Cupu

8 Mei 2026
Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja

Pustakawan, Profesi yang Sering Dianggap Remeh, padahal Kerjanya Enak dan Banyak Untungnya

7 Mei 2026
Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya "Menolak" dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya “Menolak” dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

7 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.