Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Masa Depan Tak Menentu dan Mimpi Jadi Budi Setiawan Sirna, Lantas Apa yang Tersisa?

Aliurridha oleh Aliurridha
17 Desember 2019
A A
Masa Depan Tak Menentu dan Mimpi Jadi Budi Setiawan Sirna, Lantas Apa yang Tersisa?
Share on FacebookShare on Twitter

Yuval Noah Harari adalah penulis best seller. Seseorang yang kini dianggap paling mampu untuk memprediksi masa depan itu, dalam bukunya Homo Deus: A Brief History of Tomorrow mengatakan suatu hal. Katanya, perkembangan teknologi yang begitu cepat akan membawa dunia kepada disrupsi yang tak terkendali. Di mana kecerdasan buatan akan mengalahkan manusia dalam segala aspek. Hal ini akan membawa manusia pada suatu permasalahan sosial baru, yakni munculnya kelas ‘manusia tidak berguna’. Duh ngeri amat.

Sebenarnya ramalan Harari ini sudah pernah disampaikan Einstein meski dengan redaksi yang sedikit berbeda. Ia mengatakan, “Saya takut bahwa suatu saat teknologi akan melampaui umat manusia dan pada saat itu dunia akan dihuni oleh orang-orang idiot.” Meskipun ada begitu banyak perdebatan tentang kebenaran benar tidak kutipan itu, tampaknya dunia mulai menjurus ke arah sana. Lihat saja kaum rebahan yang hobinya nonton YouTube, main Facebook, Instagram, dan tweetwar rela menghabiskan waktu mereka dengan sia-sia. Bukannya menggunakan teknologi dengan efektif tapi hanyut dikuasai teknologi itu sendiri.

Akibat terlalu sering nonton YouTube, akhirnya malah terjebak trading saham karena selalu nonton iklan Binomo yang menampilkan sosok Budi Setiawan sang trader profesional. Bukannya untung tapi mak, rugi mulu. Tentu saja karena untuk menjadi trader profesional tidaklah mudah, dibutuhkan investasi uang yang besar, dan waktu yang sabar sebagai modal. Mana ada trader pemula bakal sukses dengan cepat hanya dengan bantuan aplikasi. Kalau ada ya semua orang jadi kaya karena untung. Kalau semua orang untung, lantas siapa yang rugi? Duit kan berputar terus, mana mungkin semua untung?

Terbukanya borok bahwa Budi Setiawan bukanlah trader profesional dengan penghasilan US$ 1000 perharinya tanpa keluar rumah, yang ternyata hanyalah orang susah yang hidup ngekos di Bali. Membuat netizen kecewa. Harapan menjadi trader profesional dengan bantuan Binomo sirna sudah. Semua kisah tentang Budi Setiawan ternyata palsu semata, dibuat untuk menarik sebanyak-banyaknya kaum rebahan yang ingin kaya tanpa kerja.

Para milenial tidak bisa disalahkan karena memang mencari kerja zaman sekarang susah sekali. Maka ketika ada bukaan CPNS beramai-ramai mereka datang karena hanya PNS saja pekerjaan yang dianggap paling aman dengan risiko sangat sedikit (menolak mengatakan tanpa risiko). Pekerjaan lain tentu saja mengalami banyak risiko di era disrupsi ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, bahkan untuk kita yang di hidup di negara ber-flower saja telah terlihat beberapa pekerjaan sudah digantikan dengan teknologi. Salah satu contoh yang paling nyata terjadi adalah munculnya mesin ATM yang mulai menggantikan pegawai Bank. Belum lagi para teknisi yang semakin tidak sabar dan mulai menciptakan mobil yang dioperasikan tanpa supir, hanya dengan kecerdasan buatan. Pada tahun 2025 diprediksi 60% pekerjaan akan diambil alih oleh kecerdasan buatan. Lantas apa yang tersisa untuk umat manusia ini?

Para milenial yang sedang dilema dalam menentukan apakah setelah lulus akan langsung bekerja atau berkuliah, jika berkuliah sebaiknya mengambil jurusan apa, atau kemampuan apa yang akan sesuai dengan pasar kerja masa depan, dibuatnya semakin gelisah dengan keadaan ini. Muncul pertanyaan, seperti apa pekerjaan yang bisa bertahan atau terdisrupsi oleh perkembangan teknologi? Apa kira-kira pekerjaan yang bisa bertahan di masa depan? Lantas apakah harus kuliah atau langsung kerja? Jika kuliah ambil jurusan apa? Kemampuan seperti apa kira-kira yang akan terus diperlukan umat manusia kedepannya?

Harari menjelas kemampuan yang paling dibutuhkan seseorang adalah menyiapkan kecerdasan emosional dan keseimbangan mental karena kedepannya tantangan terbesar adalah tantangan psikologis. Karena meskipun ada pekerjaan baru yang mungkin pemerintah siapkan untuk kita, tentu saja kita harus terus melatih diri dan tiada henti belajar.

Baca Juga:

Pengalaman Saya Bermain Binomo: Untungnya Cepat, Ruginya Jauh Lebih Cepat

Kenikmatan Dunia Terwujud dalam Rebahan Sambil Twitteran

Berbeda dengan zaman sebelum-belumnya ketika perubahan tidak datang dengan cepat, ke depannya kemungkinan besar tidak akan seperti itu. Sebab, dibutuhkan apa yang disebut mental fleksibilitas untuk menangani transisi. Semakin tua manusia, semakin susah untuk menghadapi transisi. Pada usia 20-an hal ini akan lebih mudah tapi seiring usia bertambah 40, 50, dan seterusnya transisi akan sangat membuat stres.

Jadi satu-satunya kemampuan yang paling dibutuhkan adalah menyiapkan kecerdasan emosional dan keseimbangan mental untuk menghadapi masa transisi yang mungkin harus dihadapi berkali-kali. Pasalnya, masa depan yang semakin tak menentu, mimpi jadi Budi Setiawan sirna, mari berharap setiap tahun ada bukaan PNS, siapa tahu beruntung dan negara ini tidak bangkrut tentunya.

BACA JUGA Viral! Bahaya Memakai Aplikasi FaceApp atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2019 oleh

Tags: binomobudi setiawankaum rebahanYuval Noah Harari
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

Teruntuk Kaum Rebahan, Mari Kita Hilangkan Mental 'Ah Gampang, Bisa Diatur'

Teruntuk Kaum Rebahan, Mari Kita Hilangkan Mental ‘Ah Gampang, Bisa Diatur’

5 Januari 2020
Format Akun 'txtdari' Belakangan Bikin Twitter Jadi Toksik terminal mojok.co

Kenikmatan Dunia Terwujud dalam Rebahan Sambil Twitteran

5 Maret 2020
investor kaya hanya modal rebahan trading forex platform investasi dunia saham tips investasi binomo trading trader forex saham mojok

Pengalaman Saya Bermain Binomo: Untungnya Cepat, Ruginya Jauh Lebih Cepat

7 September 2020
Generasi Rebahan Itu Bisa Jadi Menganut Ajaran Kumbakarna untuk Jadi Seorang yang Hebat

Generasi Rebahan Itu Bisa Jadi Menganut Ajaran Kumbakarna untuk Jadi Seorang yang Hebat

4 Desember 2019
Perjuangan Saya dari Kaum Rebahan Sampai Kuliah di UGM

Perjuanganku dari Kaum Rebahan Sampai Kuliah di UGM

24 Desember 2019
Orang Malas Adalah Orang Paling Kreatif Di Muka Bumi

Orang Malas dan Kaum Rebahan Adalah Orang Paling Kreatif Di Muka Bumi

2 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.