Generasi Rebahan Itu Bisa Jadi Menganut Ajaran Kumbakarna untuk Jadi Seorang yang Hebat

Artikel

Avatar

Bagi orang yang suka berkunjung ke semesta Twitter, tentu bukan hal yang asing lagi dengan orang-orang pengabdi rebahan. Mereka ini merupakan orang-orang yang suka mendeklamasikan diri sebagai generasi inovatif yang kesehariannya itu cuma rebahan, gegoleran, tiduran, dan bermalas-malasan. Mereka ini seolah merasa bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih mengasyikan dan menarik minatnya selain rebahan.

Jangan berburuk sangka dulu, kaum rebahan ini juga selayaknya manusia biasa, kok. Mereka juga punya keinginan dan cita-cita yang sama dengan manusia pada umumnya. Bahkan tak jarang meski keseharian mereka itu cuma rebahan, tapi impian mereka itu bahkan kadang lebih tinggi dari Burj Khalifa.

Sebenarnya aktivitas ini itu juga penting untuk tubuh. Setelah seharian berjibaku dengan tugas dan pekerjaan, rebahan merupakan kegiatan yang pas untuk merilekskan otot-otot yang kelelahan. Namun semua hal yang baik itu akan menjadi baik jika dilakukan sesuai porsinya, jika terlalu berlebihan tentu bakalan beda lagi ceritanya.

Sesekali rebahan, gegoleran, dan bermalas-malasan tentu tak masalah. Yang jadi masalah itu jika kita menjadikan rebahan sebagai kegiatan dan pekerjaan pokok kita. Sedangkan tugas dan kerjaan yang sesungguhnya justru malah dianaktirikan. Tentu hal ini tidak akan berujung baik-baik saja bagi kita jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Mungkin gara-gara tindakan kita yang bermalas-malasan ini, bisa mengakibatkan tugas kita tak kelar-kelar, pekerjaan menjadi menumpuk, dan banyak hal lagi yang harusnya sudah bisa kelar dan selesai justru terbengkalai.

Yang lain sudah wisuda, kita masih rebahan aja. Yang lain sudah naik pangkat, kita masih rebahan. Yang lain sudah menikah, kita masih tetap menikmati rebahan. Padahal jauh di lubuk hati yang terdalam, kita juga ingin kayak orang lain.

Saat ini mungkin ada banyak kegiatan atau pekerjaan yang bisa dilakukan dengan cara rebahan. Entah itu pekerjaan yang berfaedah ataupun unfaedah. Beberapa pekerjaan berfaedah yang cocok dilakukan sambil rebahan mungkin jadi admin media sosial, jualan online, penulis lepas, dan lainnya. Sedangkan pekerjaan tak berfaedah tapi sangat bikin kecanduan itu mencakup, scroll-scroll Twitter, mantau akun mantan, mengikuti berita gossip para artis, atau nyinyir di postingan teman.

Baca Juga:  Wahai Orangtua, Pendidikan Seksual Bukan Tutorial Senggama

Yang perlu diketahui bahwa rebahan dalam jangka waktu yang terlalu lama tidak akan bagus untuk kesehatan jiwa maupun raga. Kita yang harusnya menghirup udara segar di luar ruangan, kita yang harusnya bergerak untuk berolahraga, dan kita yang harusnya berinteraksi secara langsung dengan orang lain, kini justru malah menjadi pengabdi kasur. Alhasil, jangan heran kalau kepala kita suka nyut-nyutan, badan pegal semua, dan kita akan mengalami 5L (Lemah, Letih, Lesu, Lunglai, Lalai).

“Nggak masalah rebahan setiap hari kalau misal kita anak sultan atau anak orang kaya, toh kita bakalan punya duit terus tanpa harus capek-capek kerja!”

Ada dua hal yang membedakan antara menjadi orang hebat dan orang yang punya uang. Nggak semua orang yang punya uang itu bisa dikatakan hebat. Oleh karenanya, jangan heran kalau  kita temuikan cerita anak seorang presiden yang berjualan martabak atau pisang. Atau ada juga anak seorang pengusaha kaya yang mau jadi staf kepresidenan. Untuk apa coba? Padahal mereka mau rebahan sepanjang hayat saja, saya kira uangnya tak akan habis sampai tujuh turunan.

Semua hal buruk tentang rebahan ini tentu tidak berlaku bagi seorang Kumbakarna. Jika Didi Kempot mendapat julukan Lord of Broken Heart, maka julukan yang tepat untuk saudara kandung Rahwana ini adalah Lord of Rebahan. Bisa dipastikan, tak ada yang bisa menyaingi fase rebahannya Kumbakarna. Karena sekali rebahan, dia nggak akan bangun-bangun selama setengah tahun.

Meski kerjaannya cuma rebahan, tapi dunia perwayangan tentu akan mengakui bahwa raksasa dari Alengka tersebut bisa dibilang seseorang yang hebat. Tentu kita masih ingat dengan perang yang terjadi antara Rama dan Rahwana, nah, pada perang tersebut Kumbakarna berperan sebagai panglima perang. Jangan ditanya tentang keperkasaan si tukang rebahan ini, karena sekali dia turun di medan perang, banyak pasukan musuh yang tumbang di tangannya.

Saat Rama memanah kedua tangan Kumbakarna, ia masih bisa menyepak ribuan pasukan dengan kakinya. Saat kedua kakinya dipanah oleh Rama, maka dia akan menggelindingkan tubuhnya untuk membunuh pasukan Rama. Tak tega melihat Kumbakarna, akhirnya Rama menghabisinya karena tak mau melihat Kumbakarna menahan sakit terlalu lama.

Baca Juga:  Kami Bersama Mas Pur: Slogan Para Pria Dengan Perjuangan Cintanya

Kalau yang sudah membaca cerita Ramayana, tentu tahu bahwa Kumbakarna sebenarnya raksasa yang baik hati. Dia ikut berperang bukan karena dia benci pada Rama, hal itu hanya ia lakukan untuk membela Tanah airnya, Alengka. Dia tak mau jika negerinya dibumihanguskan dan rakyatnya menderita. Kumbakarna pun bahkan sempat merayu sang kakak agar mau mengembalikan Sinta pada Rama agar perang tersebut bisa dihindari. Dia tahu kalau Rahwana itu salah, jadi dia berperang hanya untuk negaranya semata. Bukankah dia sosok nasionalis dan patriotis?

Saya menduga, generasi rebahan ini meniru cara kerja Kumbakarna. Mereka yang hobi rebahan sepanjang hari ini berharap setelah bangun dari rebahan maka tugas-tugasnya akan lekas kelar, tubuhnya akan kembali sehat, duit bisa datang dari bawah bantal, dan dia bisa mewujudkan segala keinginannya tanpa harus bekerja keras. Kalau kalian merupakan titisan Kumbakarna, maka tak mengapa, tapi jika bukan, alangkah baiknya dipikirkan ulang kebiasaan mengasyikan yang satu ini.

Kebiasaan rebahan Kumbakarna ini merupakan anugerah Brahma. Awalnya ia memohon Indraasan yang artinya tahta Dewa Indra, namun Dewi Saraswati masuk ke dalam mulutnya dan membengkokan lidahnya sehingga yang terucap jadi Neendrasaan yang artinya tidur abadi. Berkat kasih sayang sang kakak, Rahwana, dia memohonkan pada Brahma agar membatalkan anugerahnya itu. Brahma tak berkenan membatalkannya, namun anugerahnya diringankan. Oleh karenanya Kumbakarna akan tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan kemudian. Selama tidur itulah, segala kekuatan akan kembali dipulihkan dalam tubuhnya, maka setelah bangun ia akan menjadi hebat.

Rebahan boleh saja, asal kerjaan kita sudah kelar. Ingat ya, Kumbakarna bisa mendapat anugerah rebahan tersebut pun juga karena proses yang panjang dan tidak mudah, sehingga Brahma mau memberinya anugerah. Kumbakarna pun, saatnya dia bangun, dia akan bangun. Dia akan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

BACA JUGA Orang Malas dan Kaum Rebahan Adalah Orang Paling Kreatif di Muka Bumi atau tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
11


Komentar

Comments are closed.